periskop.id - Bank Indonesia (BI) menilai penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp276 triliun yang disalurkan kepada perbankan memberikan dampak positif terhadap penurunan suku bunga dana, khususnya dengan meningkatkan fleksibilitas struktur pendanaan bank-bank milik negara (Himbara).

Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Solikin M. Juhro mengatakan penempatan dana pemerintah tersebut membuat bank-bank Himbara memiliki ruang yang lebih longgar dalam mengelola sumber pendanaan.

"Apakah Rp200 triliun itu membantu penurunan suku bunga? Ya pastilah. Rp200 triliun itu kan pasti membuat struktur dana di bank Himbara lebih fleksibel," kata Solikin dalam Taklimat Media BI, Jakarta, dikutip Selasa (22/12).

Menurut Solikin, fleksibilitas pendanaan ini memberikan ruang bagi bank-bank Himbara untuk menurunkan atau setidaknya menahan kenaikan suku bunga dana. Sementara itu, bank-bank di luar Himbara masih menghadapi tantangan dalam menghimpun dana, sehingga ruang penyesuaian suku bunga menjadi lebih terbatas.

"Sementara bank-bank lain ini cari dana yang susah di luar Himbara. Sehingga di sini memiliki fleksibilitas untuk menurunkan atau memberikan ruang penurunan pada suku bunga dana," terang Solikin.

Meski demikian, Solikin menilai penempatan dana SAL tersebut belum sepenuhnya cukup untuk mendorong penurunan suku bunga kredit secara signifikan di industri perbankan. Pasalnya, bank masih mempertimbangkan berbagai faktor lain, termasuk pipeline penyaluran kredit dan kondisi permintaan pembiayaan.

"Kalau untuk dampak ke suku bunga dana sudah pasti ada, ya. Tapi kalau suku bunga kredit, ya lihat tadi fakta berbicara," tambahnya.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan memastikan belum berencana kembali menempatkan dana dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke perbankan hingga akhir tahun ini.

Direktur Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan Astera Primanto Bhakti menerangkan kebijakan tersebut diambil seiring dengan proyeksi meningkatnya likuiditas di sektor keuangan menjelang penutupan tahun anggaran.

"Jadi kita tidak ada untuk tahun ini, di akhir tahun ini, karena tadi disampaikan Pak Menteri (Purbaya Yudhi Sadewa) bahwa potensi kenaikan likuiditas untuk akhir tahun ini akan meningkat," kata Prima dalam konferensi pers APBN KiTa, Jakarta, dikutip Jumat (19/12).

Menurutnya, pemerintah memilih menyimpan dana tersebut sebagai cadangan untuk kebutuhan pembiayaan pada tahun depan. Namun demikian, penempatan dana ke perbankan tetap terbuka untuk dilakukan apabila dinamika perekonomian dan kondisi likuiditas ke depan dinilai memerlukan intervensi.