Periskop.id - Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Francine Widjojo menilai Bank Jakarta wajib membenahi banyak permasalahan, sebelum melakukan penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO).

"Rencana IPO Bank Jakarta patut dikaji secara hati-hati. IPO mensyaratkan kesiapan fundamental, khususnya pada aspek sistem, manajemen risiko, dan tata kelola," kata Francine di Jakarta, Jumat (9/1).

Dia pun mengkritik rencana IPO Bank Jakarta pada awal 2027. Pasalnya, ketahanan dan keamanan siber bank tersebut masih meragukan pascagangguan layanan bank tersebut saat Lebaran 2025.

Francine mengingatkan, di malam takbiran Idulfitri pada 30 Maret 2025, nasabah Bank Jakarta (dahulu bernama Bank DKI) tidak dapat melakukan transaksi perbankan melalui Bank Jakarta, baik aplikasi digital Jakone, QRIS, maupun tarik tunai di ATM. Diketahui, layanan ATM Bank Jakarta baru pulih pada 7 April 2025.

Padahal, kata dia, mudik Lebaran selalu diwarnai banyak transaksi keuangan. Namun, saat itu justru banyak aduan masyarakat ke Fraksi PSI yang diwarnai kebingungan dan kekecewaan mendalam terhadap layanan bank tersebut.

"Banyak pemudik yang tidak pegang uang tunai dalam jumlah besar karena percaya pada aksesibilitas dananya di rekening Bank Jakarta," ujar Francine.

Bank Jakarta, sambung dia, kemudian baru mengeluarkan keterangan resmi pada 8 April 2025 dengan dalih gangguan layanan. "Kalau sekadar gangguan layanan, mengapa pemulihannya butuh beberapa bulan?," tanya Francine.

Terlebih, dia menambahkan layanan BI Fast Bank Jakarta tidak dapat digunakan sejak 30 Maret 2025, dan baru pulih kembali pada 10 Desember 2025, atau setelah lebih dari delapan bulan. Permasalahan ini menandakan seriusnya permasalahan yang dialami Bank Jakarta.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan, berdasarkan data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), peretasan terhadap Bank Jakarta melalui sistem pembayaran BI Fast terjadi beberapa kali sejak 2024 hingga 2025. Bahkan pada Maret 2025, terjadi transaksi anomali sekitar Rp200 miliar.

"Sampai hari ini, transfer online dari bank lain ke Bank Jakarta selalu gagal apabila kolom pesan diisi. Menurut Bank Jakarta, kolom pesan harus dikosongkan supaya transaksi berhasil. Padahal, kolom pesan ini penting untuk menghindari kebingungan pengirim maupun penerima dengan merinci jenis transaksinya di kolom pesan," papar Francine.

Oleh karena itu, dia meminta agar manajemen Bank Jakarta membenahi banyak permasalahan berat, sebelum melakukan IPO, termasuk penguatan keamanan IT sebelum kerja sama Bank Jakarta dengan Visa yang diluncurkan baru-baru ini.

Dia juga menekankan keamanan dana dan kepercayaan nasabah merupakan hal penting bagi usaha perbankan. Selain mengelola dana masyarakat, Bank Jakarta juga menerima Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

"Bank Jakarta harus memperbaiki terlebih dahulu tata kelolanya untuk mendapatkan kembali kepercayaan para nasabah. Ketahanan dan keamanan siber sangat penting di industri perbankan agar nasabah tidak was-was menyimpan dananya di Bank Jakarta," tutur Francine. 

Kepercayaan Publik
Sebelumnyua, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berharap Bank Jakarta segera mempersiapkan diri untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), melalui penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO). Langkah ini dianggap krusial untuk memperkuat tata kelola perusahaan sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap bank daerah.

Menurutnya, IPO akan membawa Bank Jakarta ke arah yang lebih sehat, profesional, dan bebas dari ketergantungan pada individu atau intervensi kepala daerah. Selain itu, Bank Jakarta akan mampu mengelola bisnis secara lebih profesional, transparan, dan berkelanjutan.

“Salah satu hal yang saya pesankan adalah saya betul-betul berkeinginan Bank Jakarta mempersiapkan diri untuk bisa IPO,” kata Pramono dalam sambutannya saat menghadiri peluncuran Kartu Debit Visa Bank Jakarta di Lippo Mall Kemang, dikutip Selasa (6/1).

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo menyampaikan persiapan IPO saat ini tengah berjalan, termasuk soal pembenahan fundamental perusahaan. Agus menyebut bahwa Pramono memberikan target awal pada 2027. “Kami sekarang sedang persiapan. Mudah-mudahan di awal 2027,” kata Agus.

Agus menjelaskan, langkah menuju IPO tersebut dibarengi dengan transformasi menyeluruh yang berfokus pada penguatan transaksi, relevansi layanan, dan pengalaman nasabah. Salah satu upayanya yakni Peluncuran kartu debit Visa.

“Peluncuran kartu debit Visa ini bukan sekadar peluncuran produk, tetapi menjadi milestone penting dalam perjalanan transformasi Bank Jakarta. Lewat kartu ini, kami menegaskan arah Bank Jakarta sebagai bank yang semakin modern, kompetitif, dan terhubung secara global,” ujar Agus.