periskop.id - Tahun 2025 diwarnai dengan ketidakpastian ekonomi dan inflasi yang membayangi, sebuah kondisi yang biasanya membuat orang menyimpan uang rapat-rapat. Namun, laporan UOB ASEAN Consumer Sentiment Study (ACSS) 2025 menemukan fakta yang berbeda. Konsumen Indonesia tidak berhenti belanja, mereka hanya mengubah haluannya. Dari menunda beli rumah demi traveling, hingga berburu diskon demi fine dining, inilah wajah baru ekonomi kita di mana pengalaman kini dianggap lebih berharga daripada barang.

Kenapa 46% Orang Indonesia Tunda Beli Barang Mewah di 2025?

Pada fase awal ini, satu sikap menonjol terlihat jelas, yaitu kehati-hatian. Konsumen Indonesia sedang mengerem pengeluaran besar. Data UOB menunjukkan, 46% konsumen memilih menunda pembelian barang bernilai tinggi atau major purchases.

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Ketidakpastian ekonomi membuat banyak orang berpikir ulang sebelum mengeluarkan dana besar sekaligus. Barang seperti kendaraan baru, properti, atau elektronik premium yang dulu identik dengan pencapaian kini dipandang sebagai beban risiko. Menyimpan uang tunai dianggap lebih aman sebagai bantalan darurat.

Dampaknya terasa hingga ke sektor ritel barang mewah. Konsumen bukan berhenti belanja, mereka hanya menunggu. Sikapnya kini lebih hitung-hitungan. Kebutuhan dibandingkan langsung dengan kondisi keuangan. Selama barang lama masih berfungsi atau bisa diganti sementara, pembelian ditahan.

Ini bukan kepanikan, melainkan strategi bertahan. Respons wajar di tengah tekanan inflasi yang terus menggerus daya beli. Lalu muncul pertanyaan penting, jika bukan untuk barang mahal, ke mana aliran uang itu bergerak? 

Gen Z Prioritaskan Beli Pengalaman Ketimbang Barang

Inilah kejutan terbesarnya. Di saat konsumen mengetatkan ikat pinggang untuk pembelian barang fisik, mereka justru semakin royal memanjakan jiwa. Terjadi lonjakan minat yang luar biasa terhadap belanja pengalaman (experiential spending).

Laporan ACSS 2025 menyoroti bahwa 34% responden melaporkan peningkatan pengeluaran pada kategori gaya hidup dan pengalaman. Angka ini melonjak tajam dibandingkan tahun 2024 yang hanya berada di level 20%. Kenaikan sebesar 14% ini mengirimkan pesan yang jelas bahwa tekanan hidup pascapandemi dan ritme kerja yang padat mendorong masyarakat mencari pelarian yang bermakna. Dana bulanan tak lagi sekadar menumpuk barang di rumah, melainkan dialokasikan untuk membeli momen.

Kelompok muda menjadi motor penggerak utama tren ini. Sebanyak 85% Gen Z menilai pengalaman sebagai elemen vital bagi kesejahteraan hidup mereka. Definisi pengalaman di sini pun beragam, mulai dari traveling, fine dining, konser musik, festival budaya, hingga perawatan diri (wellness). 

Dampaknya pun terasa nyata secara ekonomi. Sektor pariwisata dan hiburan ikut terdongkrak karena anggaran yang dulunya untuk cicilan barang kini beralih menjadi tiket pesawat dan reservasi hotel. Namun, muncul satu pertanyaan penting tentang bagaimana gaya hidup ini dibiayai tanpa membuat keuangan bocor? Jawabannya terletak pada kecerdasan konsumen dalam menyiasati pengeluaran sehari-hari.

Utamakan Fungsi daripada Gengsi: Tren Baru Konsumsi Rumah Tangga

Untuk mendukung gaya hidup yang berfokus pada pengalaman tadi, konsumen Indonesia menjadi semakin cerdik dalam belanja kebutuhan sehari-hari. Mereka tidak sekadar mengurangi pengeluaran, tetapi fokus pada memaksimalkan nilai uang (value for money).

Data UOB menunjukkan strategi yang sangat konkret. Sebanyak 49% konsumen kini lebih aktif mencari diskon dan promosi. Kupon, flash sale, hingga poin loyalitas dimanfaatkan tanpa ragu. Selisih harga dari strategi ini bukan sekadar penghematan, melainkan dialihkan menjadi dana tambahan untuk liburan atau hiburan.

Selain itu, ada tren menarik berupa preferensi terhadap efisiensi produk. Sebanyak 43% konsumen beralih ke produk yang menawarkan multifungsi. Mereka memilih satu barang dengan banyak kegunaan dibanding membeli beberapa produk yang cepat rusak atau terlalu spesifik. 

Perubahan ini menandai kedewasaan konsumen. Loyalitas pada merek mulai memudar, digantikan oleh loyalitas pada fungsi dan manfaat nyata. Yang dicari bukan lagi label, melainkan nilai ekonomis yang paling masuk akal. Lalu siapa motor di balik pergeseran pola pikir ini? Jawabannya mengarah pada satu faktor utama, yaitu usia.

Tunda Beli Rumah Demi Traveling: Realitas Baru Generasi Muda

Pembahasan terakhir ini menyoroti aktor utama di balik tren berhemat demi pengalaman. Perbedaan generasi ternyata menciptakan jurang prioritas yang nyata. Generasi muda, khususnya Gen Z dan Milenial, memandang uang dengan cara yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Laporan ini mencatat temuan yang cukup mencolok. Sebanyak 73% Gen Z dan 71% Gen Y di ASEAN lebih memprioritaskan kenikmatan hidup saat ini dibanding menabung ketat untuk masa depan yang tidak pasti. Pola pikir you only live once (YOLO) bukan berarti hidup tanpa perhitungan. Fokus mereka justru tertuju pada kesehatan mental dan kebahagiaan pribadi, bukan semata kepemilikan aset fisik.

Bagi generasi ini, masa depan ekonomi tak lagi dipandang sebagai sesuatu yang pasti dan bisa dirancang dengan rapi. Ketidakjelasan itulah yang mendorong mereka memilih menikmati hidup sekarang. Mengumpulkan pengalaman dirasa lebih masuk akal daripada menunda kebahagiaan demi janji masa depan. Tak heran jika sebagian dari mereka rela menunda membeli rumah demi bepergian, menjelajah, dan memperkaya cerita hidup.