Periskop.id - Korea Selatan secara resmi mencatatkan sejarah baru dalam industri pertahanan dunia. Melansir laporan dari Aerospace Global News pada Kamis (26/3), Seoul telah meluncurkan pesawat tempur KF-21 Boramae versi produksi standar pertama.
Momen ini menandai transisi krusial dari tahap pengembangan yang panjang menuju fase produksi massal, sekaligus mempertegas ambisi Korea Selatan untuk menjadi pemain kunci di pasar pesawat tempur global.
Pesawat perdana tersebut diperkenalkan langsung di fasilitas Korea Aerospace Industries (KAI) yang berlokasi di Sacheon. Acara peluncuran ini dihadiri oleh Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, dan disiarkan secara luas oleh Arirang TV serta kantor berita resmi Yonhap News Agency.
Kehadiran pucuk pimpinan negara tersebut menegaskan bobot strategis program KF-21 dalam upaya Korea Selatan mencapai kemandirian pertahanan nasional.
Puncak Upaya Kemandirian Selama 25 Tahun
Peluncuran ini merupakan buah dari konsistensi program yang telah dirintis sejak awal tahun 2000-an. Saat itu, Korea Selatan bertekad mengembangkan pesawat tempur dalam negeri untuk menggantikan armada lama mereka, yakni F-4 Phantom II dan Northrop F-5.
Selama lebih dari dua dekade, KF-21 bertransformasi menjadi proyek dirgantara paling ambisius di Korea Selatan. Proyek ini melibatkan sinergi masif antara industri dalam negeri, lembaga pemerintah, serta kolaborasi internasional, termasuk kemitraan strategis dengan Indonesia.
Presiden Lee Jae-myung menyebut jet tempur ini sebagai simbol nyata dari pertahanan mandiri. Beliau menekankan bahwa Korea Selatan kini sejajar dengan segelintir negara di dunia yang mampu merancang dan memproduksi pesawat tempur canggih secara independen.
“Pada akhirnya, Korea Selatan memiliki senjata untuk menjaga perdamaian dengan teknologi sendiri, tidak hanya di darat dan laut, tetapi juga di udara,” kata Lee.
Spesifikasi KF-21 Boramae
KF-21 Boramae dirancang sebagai pesawat tempur multirole yang berfungsi menjembatani celah antara jet generasi keempat dan platform generasi kelima. Berdasarkan keterangan resmi KAI, pesawat bermesin ganda ini mampu menjalankan misi superioritas udara sekaligus serangan presisi dengan fokus pada daya tahan tempur dan efisiensi pemeliharaan.
Teknologi mutakhir yang disematkan pada jet ini meliputi:
- Radar AESA (Active Electronically Scanned Array).
- Sistem pelacak inframerah (IRST).
- Sistem penargetan elektro-optik.
- Sistem peperangan elektronik terintegrasi.
Dari sisi performa, KF-21 menggunakan mesin General Electric F414 yang mampu melesat hingga kecepatan Mach 1,8. Pesawat ini memiliki jangkauan operasi sekitar 1.550 mil laut dengan kapasitas muatan maksimum mencapai 17.000 pon.
Meskipun saat ini masih menggunakan titik gantung eksternal untuk persenjataan, varian masa depan direncanakan akan memiliki ruang senjata internal untuk meningkatkan kemampuan siluman (stealth).
Target Produksi dan Pengembangan Blok 2
Pemerintah Korea Selatan menargetkan sebanyak 40 unit konfigurasi KF-21 Blok 1 dapat dikirimkan dan mulai masuk layanan Angkatan Udara hingga tahun 2028. Fase Blok 1 ini akan difokuskan pada operasi udara-ke-udara.
Selanjutnya, pengembangan akan berlanjut ke konfigurasi Blok 2 yang lebih canggih. Fase ini akan mengintegrasikan kemampuan misi udara-ke-darat dengan senjata seperti GBU-31 JDAM, GBU-39 Small Diameter Bomb, serta rudal jelajah buatan dalam negeri.
KAI juga telah menyiapkan peta jalan untuk varian khusus, seperti KF-21EA untuk misi penekanan pertahanan udara musuh dan KF-21EX yang memiliki ruang senjata internal guna mengurangi jejak radar.
Meskipun saat ini masih bergantung pada mesin impor, Presiden Lee berkomitmen untuk meningkatkan kandungan lokal secara bertahap. Salah satu target utamanya adalah pengembangan “Advanced Aero Engine” buatan dalam negeri untuk menggantikan mesin GE F414 di masa depan.
Selain itu, KF-21 dirancang untuk beradaptasi dengan peperangan modern melalui konsep manned-unmanned teaming (MUM-T). Teknologi ini memungkinkan pilot jet tempur berkoordinasi langsung dengan pesawat otonom atau sistem tanpa awak dalam operasi tempur di udara.
Ambisi Ekspor dan Posisi Indonesia
Kehadiran KF-21 Boramae telah menarik perhatian banyak negara sebagai alternatif jet tempur yang lebih terjangkau dengan biaya operasional rendah namun memiliki jalur pembaruan yang fleksibel.
Indonesia menjadi salah satu prospek terdekat dengan rencana pembelian sebanyak 16 unit pesawat. Selain Indonesia, negara-negara seperti Uni Emirat Arab dan Polandia dikabarkan mulai menunjukkan ketertarikan pada platform ini.
“Keberhasilan KF-21 tidak hanya memperkuat kemampuan pertahanan, tetapi juga menunjukkan bahwa Korea Selatan telah memiliki momentum baru untuk bersaing dengan kekuatan pertahanan utama dunia,” ucap Lee menutup sambutannya.
Tinggalkan Komentar
Komentar