periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimis terhadap prospek pasar keuangan Indonesia, termasuk penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level yang lebih tinggi. Purbaya menilai kombinasi kebijakan fiskal yang agresif, likuiditas yang memadai, serta reformasi melalui Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) menjadi fondasi penting bagi stabilitas dan pertumbuhan pasar modal.
“Ketika saya mulai di kementerian keuangan, minggu pertama saya gelontorkan uang Rp200 triliun ke sistem perekonomian. Itu kan membangkitkan semangat di perekonomian. Mereka semakin optimistis, ekonominya mulai bergerak. Bursa saham naik. Waktu (IHSG) ke Rp8.000 lebih, udah senang orang," kata Purbaya dalam acara Financial Forum di Mainhall Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (3/12).
Setelah itu, dia mengatakan pemerintah kembali menambah likuiditas sekitar Rp76 triliun pada November untuk menjaga momentum ekonomi. Purbaya menjelaskan, penambahan likuiditas dilakukan karena peredaran uang dasar sempat melemah setelah sebelumnya tumbuh kuat. Penurunan ini dikhawatirkan menghambat aktivitas ekonomi, sehingga pemerintah perlu menyuntikkan dana tambahan agar kondisi moneter tetap stabil dan momentum pertumbuhan terjaga.
“Uang M0 tumbuh dari hampir 0% ke 13%. Tapi di bulan Oktober tiba-tiba turun lagi M0. Base money, primary money, atau uang yang paling bisa dikendalikan oleh bank sentral. Saya masukin lagi Rp76 triliun. Mudah-mudahan November naik,” jelas Purbaya.
Namun, Purbaya juga melihat adanya penyerapan likuiditas di perbankan dan pasar uang belakangan ini, yang berdampak pada jumlah uang beredar di sistem keuangan. Salah satu faktor yang disebutnya memengaruhi pergerakan uang dasar (base money) adalah instrumen SRBI, yang saat ini menyerap likuiditas cukup besar.
"Di Bank Indonesia (BI) itu ada penyerapan uang lebih di SRBI, mungkin untuk menjaga nilai tukar ya? Saya nggak tahu, tapi yang jelas ada penyerapan uang lebih di sana. Yang menekan itu ke bawah," terangnya.
Menurut Purbaya, koordinasi kebijakan antara pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akan semakin kuat setelah P2SK diterapkan penuh. Ia menilai reformasi ini membuat arah kebijakan lebih terpadu, terutama dalam menjaga stabilitas sektor keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Kalau sekarang saya diskusi dengan bank sentral, pasti saya masukin uang bank sentral kan. Kalau nanti ke depan, ketika bisa lebih terbuka, lebih menyatu. Kita bisa samakan pandangan dengan lebih cepat,” tutur Purbaya.
Ia juga menegaskan bahwa P2SK dirancang sebagai jaring pengaman sistem keuangan agar Indonesia terhindar dari krisis. Jika seluruh otoritas menjalankan amanah regulasi secara optimal, stabilitas ekonomi akan terjaga dan pasar keuangan terus berkembang.
“Kalau ekonomi tumbuh bagus, sistem keuangannya sehat, rupiahnya stabil, kita tidak akan sampai pada kondisi krisis. Itu kuncinya,” ujarnya.
"Artinya, kalau ekonomi tumbuhnya bagus terus, sistem keuangannya bagus, perbankannya sehat, BI juga tenang, rupiahnya stabil, nggak sampai krisis, jadi kita tidak akan mengalami krisis," tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar