periskop.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta para investor pasar modal untuk tetap tenang dan tidak mengambil keputusan tergesa-gesa menyusul tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir.

"Untuk seluruh investor tetap tenang dan iangan panik. Tetap mengambil keputusan investasi secara rasional," pesan Pejabat Sementara Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi atau yang akrab disapa Kiki saat konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Selasa (3/2).

Kiki mengungkapkan, di balik tekanan IHSG terdapat sinyal positif dari pergerakan investor asing. Setelah mencatatkan aksi jual bersih (net sell) selama empat hari berturut-turut, investor asing mulai kembali masuk ke pasar domestik.

“Hari ini terjadi net buy oleh investor asing sebesar Rp654,9 miliar. Ini menjadi indikasi kepercayaan yang mulai kembali,” jelasnya.

Ia menambahkan, pelemahan pasar tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah bursa saham di kawasan Asia juga mencatatkan penurunan tajam. Indeks KOSPI Korea Selatan, misalnya, anjlok hingga 5,4%. Bursa saham di India, Hong Kong, Singapura, dan Tiongkok pun bergerak di zona merah.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pelaku pasar global tengah melakukan penyesuaian portofolio atau rebalancing aset. Dalam situasi ini, saham-saham dengan fundamental yang kuat relatif tetap bertahan dan bahkan mencatatkan kenaikan, meski terbatas.

Sementara itu, saham-saham yang mengalami tekanan paling dalam umumnya merupakan saham yang sebelumnya telah naik signifikan dan kini mengalami koreksi harga.

“Ke depan, prospek pasar modal Indonesia masih sangat baik. Fundamental ekonomi kita tetap kuat dan menjadi penopang utama,” tegas Kiki.

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Senin 2 Februari 2026. IHSG ambles 406,88 poin atau 4,88% ke level 7.922,73.

IHSG terkoreksi di tengah pertemuan Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait potensi perubahan klasifikasi pasar Indonesia.

Para pelaku pasar menunggu keputusan MSCI yang dinilai berpengaruh signifikan terhadap aliran modal asing, sehingga ketidakpastian tersebut memicu aksi jual besar-besaran di seluruh sektor, mendorong IHSG terjun tajam ke zona merah.

Berdasarkan data RTI, IHSG bergerak tertekan sepanjang sesi di kisaran 7.820,23-8.313,06, setelah sebelumnya dibuka di level 8.306,16. Volume transaksi tercatat mencapai 50,42 miliar saham dengan nilai transaksi Rp29,18 triliun dan frekuensi 2,95 juta kali transaksi.

Adapun, kapitalisasi pasar Bursa tercatat sebesar Rp14.268,67 triliun. Sebanyak 58 saham menguat, 720 saham melemah, dan 36 saham stagnan. Seluruh indeks utama terpantau merah. IDX30 turun 2,07%. Kemudian LQ45 turun 3,27%, dan Sri Kehari turun 0,38%. Sementara JII dan ISSI masing-masing turun 6.92% dan 6.46%.