periskop.id - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar melaporkan porsi transaksi investor ritel di pasar saham Indonesia melonjak tajam. Naik dari 38% pada akhir 2024 menjadi 50% sepanjang tahun 2025.
"Lonjakan ini menandakan pergeseran signifikan, di mana investor ritel kini menjadi kekuatan utama dalam perdagangan saham, menggeser dominasi investor institusional," ucap Mahendra di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (2/1).
Menurutnya, fenomena ini membuat Indonesia berbeda dibandingkan pasar negara maju lain yang masih didominasi investor institusional. Misalnya, di Amerika Serikat, porsi transaksi ritel hanya 15 hingga 20% dari total perdagangan, sementara di Jepang sekitar 25%. Artinya, partisipasi ritel Indonesia kini berada di level yang relatif tinggi secara global.
Mahendra mengklaim peningkatan transaksi ritel ini sekaligus menumbuhkan urgensi perlindungan bagi investor kecil, termasuk dari praktik manipulasi pasar, transaksi tidak wajar, hingga aksi goreng saham yang merugikan investor.
"Semakin tinggi partisipasi ritel, semakin besar risiko jika tidak ada perlindungan yang memadai,” lanjut Mahendra.
Selain perlindungan, OJK menekankan literasi dan edukasi pasar yang lebih masif, terstruktur, dan berkualitas. Edukasi ini penting agar investor ritel tidak terjebak spekulasi jangka pendek yang berisiko tinggi, melainkan bisa melihat saham sebagai instrumen investasi jangka menengah dan panjang.
Selain itu,Mahendra juga menekankan pentingnya ekosistem pasar yang sehat, dengan integritas, transparansi, dan pengawasan yang ketat. Hal ini menjadi fondasi agar pertumbuhan pasar modal bisa berjalan efisien dan berkelanjutan, sekaligus mencegah praktik-praktik manipulatif yang bisa mengguncang kepercayaan investor.
Lonjakan partisipasi ritel sekaligus menandai potensi pertumbuhan pasar modal Indonesia yang masih sangat besar. Dengan strategi yang tepat, termasuk perlindungan investor, literasi yang masif, dan penguatan regulasi, pasar saham bisa menjadi sumber pendanaan jangka menengah dan panjang yang stabil bagi masyarakat.
"Kami berkomitmen untuk terus memperkuat regulasi, pengawasan, dan edukasi pasar dengan tujuan menciptakan ekosistem pasar modal yang inklusif, aman, dan berkelanjutan, di mana investor ritel, terutama investor muda, bisa berpartisipasi secara sehat dan produktif," pungkas Mahendra.
Tinggalkan Komentar
Komentar