periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi pada perdagangan Rabu (21/1/2026), ditutup melemah 1,36% ke level 9.010, setelah beberapa kali mencetak rekor tertinggi belakangan ini.

Analis menilai koreksi IHSG lebih mencerminkan fase jeda dan penyesuaian setelah reli panjang, bukan sinyal pelemahan struktural. Selama sentimen global berangsur membaik dan stabilitas domestik terjaga, IHSG masih memiliki ruang untuk bangkit secara bertahap.

Koreksi ini dinilai sebagai respons pasar terhadap kombinasi sentimen global dan aksi ambil untung investor. Pengamat pasar modal Reydi Octa menyoroti pengaruh investor global terhadap pelemahan IHSG.

"Penyebab IHSG turun cenderung ke arah investor global yang mengurangi paparan terhadap aset berisiko tinggi," kata Reydi, Senin (21/1).

Menurutnya, tekanan juga terkait ketegangan antara AS dengan Eropa mengenai isu Greenland, potensi tarif dagang, serta ketidakpastian suku bunga global. Reydi menambahkan bahwa aliran dana kemungkinan akan bergerak ke sektor-sektor defensif seperti konsumer dan healthcare, safe haven seperti emas, serta komoditas energi.

Senada, Analis sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menekankan kombinasi faktor eksternal dan aksi ambil untung sebagai pendorong koreksi.

"Dari eksternal, pasar global kembali diliputi ketidakpastian akibat meningkatnya ketegangan geopolitik Amerika Serikat dan Eropa, khususnya terkait isu Greenland serta munculnya kembali narasi 'jual Amerika'," ujarnya.

Hendra mencatat, situasi tersebut mendorong pergeseran dana global dari aset berisiko ke aset aman seperti emas, tercermin dari lonjakan harga emas ke rekor baru. Selain faktor global, tekanan juga datang dari dalam negeri.

"Tekanan diperparah oleh aksi jual bersih asing yang cukup besar, mencapai sekitar Rp1,3–1,8 triliun, serta pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar di sektor industri dan otomotif seperti UNTR dan ASII," kata Hendra.

Meski demikian, ia menilai koreksi ini masih tergolong sehat dan merupakan profit taking, bukan pembalikan tren jangka menengah. Ke depan, Hendra menekankan pentingnya stabilisasi sentimen global dan respons pasar terhadap pidato Presiden AS di Forum Ekonomi Dunia Davos.

"Apabila ketegangan geopolitik tidak bereskalasi lebih jauh dan wacana perang dagang dapat diredam, maka tekanan terhadap pasar saham Asia, termasuk Indonesia, berpeluang mereda," ujarnya.

Dari domestik, pasar juga menunggu langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang kini mendekati Rp17.000 per dolar AS.

Secara teknikal, IHSG masih memiliki peluang konsolidatif dengan kecenderungan menguat terbatas di rentang 8.930 hingga 9.105. Hendra menyarankan investor untuk tetap selektif dan disiplin dalam mengelola risiko.

"Investor jangka pendek dapat memanfaatkan koreksi sebagai peluang trading buy... Sementara itu, investor jangka menengah hingga panjang disarankan untuk tetap disiplin mengelola risiko, menjaga porsi kas, dan fokus pada saham dengan kinerja keuangan solid," jelasnya.

Beberapa saham yang masih menarik dicermati menurut Hendra adalah JPFA, INET, RAAM, dan COAL, dengan catatan manajemen risiko tetap dijaga mengingat sensitivitas pasar global terhadap geopolitik dan kebijakan negara besar.