periskop.id – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menegaskan bahwa institusinya telah aktif bermanuver di pasar modal sejak akhir Desember 2025.

Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara Pandu Sjahrir menepis anggapan bahwa mereka baru masuk untuk melakukan intervensi saat terjadi gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini.

“Nggak (baru-baru ini). (Danantara masuk bursa) dari akhir bulan Desember,” kata Pandu kepada awak media saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Minggu (1/2).

Pandu menjelaskan mekanisme investasi yang dijalankan lembaganya. Danantara bergerak secara profesional dengan menggandeng Manajer Investasi (MI) terpilih untuk mengeksekusi pembelian instrumen di lantai bursa.

“Kita hanya beli saja. Dan itu kita melalui MI. Kita melalui manajer investasi yang kami sudah tunjuk. Kita lakukan itu saja,” tegasnya.

Langkah ini murni bersifat investasi strategis. Pandu memastikan tidak ada intervensi tambahan di luar mekanisme pasar yang wajar dalam aktivitas pembelian tersebut.

Dalam kesempatan sebelumnya, Pandu sempat menyinggung peran Danantara saat pasar tertekan. Meski bisa masuk ke saham-saham tertentu saat likuiditas kering, keputusan tersebut tetap berlandaskan hitungan bisnis yang matang.

Mandat utama Danantara, menurut Pandu, adalah mencetak keuntungan atau for profit. Oleh karena itu, setiap aksi korporasi harus rasional demi menghindari risiko moral hazard atau penyimpangan moral dalam pengelolaan dana.

Terkait kondisi pasar terkini, Pandu memberikan peringatan serius. Ia memprediksi volatilitas masih akan mewarnai perdagangan dalam beberapa hari ke depan jika tidak ada kejelasan informasi dari pemangku kebijakan.

“Mungkin the next few days juga akan sangat volatil. Let's be honest. Saya rasa memang, mohon maaf, tentu akan terdorong the next few days juga di pasar modal kalau tidak ada komunikasi yang pas dari regulator. Tapi saya serahkan balik ke regulator,” ungkapnya blak-blakan.

Kepastian komunikasi dari otoritas dinilai sangat krusial saat ini. Kepercayaan investor global, terutama investor institusional yang berkiblat pada indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), sangat bergantung pada sinyal yang dikirimkan regulator.

Sebagai konteks, pasar saham Indonesia memang baru saja terguncang hebat pekan lalu. Bursa Efek Indonesia bahkan sempat memberlakukan penghentian perdagangan sementara atau trading halt selama dua hari berturut-turut akibat isu transparansi free float yang disorot oleh MSCI.