periskop.id - Peta minat investor syariah di pasar modal Indonesia kian mengerucut pada sektor-sektor konsumsi. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencermati dalam beberapa tahun terakhir investor ritel syariah cenderung memilih emiten yang bergerak di sektor barang konsumen, baik non-primer maupun primer sebagai pilihan utama portofolio mereka.

Kepala Divisi Pasar Modal Syariah BEI Irwan Abdalloh menjelaskan kecenderungan tersebut terlihat dari komposisi saham syariah yang ada di Bursa. Irwan melaporkan dari total 672 saham syariah yang tercatat, sebanyak 124 saham atau sekitar 18% berasal dari sektor barang konsumen non-primer (IDXCYC), menjadikannya sektor dengan jumlah saham syariah terbanyak.

"Sektor barang konsumen non-primer (IDXCYC) terdapat 124 saham syariah atau porsinya 18% dari total 672 saham syariah," ucapnya dalam acara edukasi wartawan dikutip Jumat (27/2).

Sementara itu, di posisi sektor barang konsumen primer (IDXNCYC) terdapat 94 saham dengan porsi 14%, serta sektor barang baku (IDXBASIC) sebanyak 85 saham atau sekitar 13%.

Ia mengatakan komposisi lima besar kemudian dilengkapi oleh sektor energi (IDXENERGY) dan properti (IDXPROPERTY), yang masing-masing memiliki 74 saham syariah atau sekitar 11% dari total saham syariah di pasar.

Adapun, sektor-sektor yang saat ini tengah tren dan digandrungi investor ritel mayoritas berada dalam kelompok lima besar tersebut. Karena itu, dirinya memastikan pada 2026 komposisinya diperkirakan tidak akan mengalami perubahan signifikan.

"Ini sekarang lagi tren, digandrungi oleh investor ritel. Mayoritas ada di kelompok lima besar itu. Jadi, tahun 2026 kemungkinan tidak akan terjadi perubahan signifikan," beber dia.

Namun jika dilihat dari sisi kapitalisasi pasar, struktur kekuatan sektor tampak berbeda. Dari total kapitalisasi saham syariah sebesar Rp8.972 triliun, sektor energi menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp2.176 triliun atau sekitar 24%.

Posisi berikutnya ditempati sektor barang baku dengan kapitalisasi Rp1.758 triliun atau 20%, diikuti sektor infrastruktur sebesar Rp1.074 triliun atau 12%.

Di sisi lain, sektor barang konsumen primer menyumbang Rp846 triliun atau 9% dan sektor properti sebesar Rp718 triliun atau 8% dari total kapitalisasi pasar saham syariah.

Dengan struktur yang relatif stabil dan minat investor yang masih terkonsentrasi di sektor konsumsi, Irwan menilai peta saham syariah unggulan akan tetap solid memasuki 2026, tanpa pergeseran besar dalam komposisi sektoralnya.