periskop.id - Ketegangan geopolitik Iran-AS turut mengguncang pasar keuangan global dan menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah pada perdagangan Senin (9/3). Lonjakan harga energi, sentimen risk-off, serta pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor yang menekan pasar saham domestik.

Pasar awal perdagangan IHSG tercatat langsung terperosok, dibuka di level 7.374, turun sekitar 211 poin dari penutupan akhir pekan lalu di level 7.585 yang juga sudah tertekan 1,62%. Meskipun sempat mencoba bertahan, IHSG tetap berada di zona merah, mencerminkan reaksi pasar terhadap ketidakpastian global.

Bahkan, hingga penutupan perdagangan hari ini 
IHSG melemah ke posisi 7.337,36, turun 3,27% dari level 7.585,68. Terlihat, sebanyak 46,801 miliar saham berpindah tangan dengan frekuensi 2,47 juta kali, menghasilkan total nilai transaksi sebesar Rp23,88 triliun.

Menanggapi situasi ini, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menyatakan faktor eksternal memang menimbulkan ketidakpastian yang tinggi, tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga di pasar global.

"Kalau kita lihat kan memang faktor eksternal yang sedang terjadi ini menimbulkan ketidakpastian yang sangat tinggi, tidak hanya di pasar kita tetapi juga di global market,” ujar Jeffrey kepada wartawan saat ditemui di gedung BEI,Senin (9/3)

Ia menambahkan bila dibandingkan dengan fenomena yang terjadi tahun lalu, pada bulan April ketika Amerika mengeluarkan kebijakan yang tidak diantisipasi publik, penurunan pasar saat itu justru lebih tajam.

"Itu juga mengakibatkan penurunan pasar yang sangat tajam, dan pada saat itu apa yang kita alami lebih buruk dalam konteks pasar daripada hari ini,” jelasnya.

Jeffrey menegaskan dalam menanggulangi kondisi ini, sistem infrastruktur dan regulasi di Bursa Efek Indonesia sudah siap menghadapi dinamika pasar saat ini.

Menurutnya, mekanisme pasar dan pengawasan yang kuat memastikan bahwa meskipun tekanan eksternal besar, likuiditas dan stabilitas pasar tetap terjaga. Situasi ini kata dia menegaskan volatilitas pasar saham domestik tidak terlepas dari gejolak global.

"Jadi oleh karena itu sistem infrastruktur dan peraturan di bursa kita sudah siap untuk menghadapi dinamika pasar yang sedang ada," pungkasnya.