periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan sesi I, Senin, 2 Maret 2026, di tengah meningkatnya tensi geopolitik global akibat memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang memicu sentimen risk-off di pasar keuangan.
Berdasarkan data RTI Business, IHSG turun 131,767 poin atau 1,60% ke level 8.103,718. Sepanjang sesi I, indeks bergerak pada rentang 8.039,508 hingga 8.133,692, dengan level pembukaan di 8.092,905.
Total volume transaksi tercatat mencapai 33,27 miliar saham dengan nilai transaksi Rp16,61 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 2.184.734 kali. Sebanyak 110 saham menguat, 645 saham melemah, dan 62 saham stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp14.549 triliun.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai eskalasi konflik di Timur Tengah kini telah berkembang menjadi risiko ekonomi global yang memberi tekanan pada pasar saham, termasuk Indonesia.
“Memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat bukan sekadar isu politik, tetapi sudah masuk ke ranah risiko ekonomi global. Pasar langsung merespons dengan pola risk-off,” ujar Hendra, Senin (2/1).
Menurutnya, investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan beralih ke instrumen safe haven. Hal ini tercermin dari kenaikan harga emas dunia lebih dari 1%, sementara harga minyak mentah WTI dan Brent melonjak hampir 3% akibat kekhawatiran terganggunya pasokan energi dari Timur Tengah.
Ia menambahkan perhatian pasar saat ini tertuju pada Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar 30% perdagangan minyak global.
“Jika eskalasi konflik mengganggu arus kapal tanker di Selat Hormuz, harga minyak bisa melonjak lebih tinggi karena pasar akan menghitung ulang risiko pasokan,” jelasnya.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap IHSG berpotensi datang dari meningkatnya risiko capital outflow serta ancaman inflasi impor akibat lonjakan harga energi.
“Dalam kondisi seperti ini, IHSG berpotensi bergerak melemah dan menguji support klasik di 8.133. Jika level tersebut jebol, area psikologis 8.000 menjadi support berikutnya, sementara resistance terdekat berada di 8.300,” ungkap analis.
Investor pun disarankan tetap selektif dan mencermati perkembangan konflik geopolitik serta arah arus dana asing pada perdagangan sesi berikutnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar