periskop.id - Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan berada dalam fase bearish consolidation, dengan support di 8.060 dan 7.978 serta resistance di 8.259–8.329.

Menurut Nafan pergerakan moving average 20 dan 60 hari menunjukkan pola bearish crossover, menandakan tekanan jual masih dominan. Indikator teknikal lain pun menguatkan sinyal negatif Stochastics K_D menunjukkan tekanan jual, RSI berpotensi membentuk dead cross, dan volume perdagangan mulai menurun, menandakan minat beli investor melemah. Meski IHSG dalam konsolidasi, peluang tetap ada bagi investor yang selektif.

"Investor sebaiknya fokus pada saham pilihan dengan fundamental solid, memperhatikan saham bervaluasi murah, serta menyoroti saham yang menunjukkan tanda-tanda pembalikan tren. Disiplin dalam manajemen risiko menjadi kunci menghadapi volatilitas yang masih tinggi,” ujar Nafan dalam risetnya Senin (2/3).

Tekanan eksternal semakin terasa akibat eskalasi konflik AS–Iran. Serangan udara dan laut yang dilancarkan kedua negara pada akhir Februari meningkatkan risiko terhadap pasokan minyak global, terutama melalui jalur strategis Strait of Hormuz, yang memfasilitasi sekitar 20% distribusi minyak dunia.

"Konflik tersebut menyebabkan terjadinya ketidakpastian global sehingga para pelaku investor beralih ke aset safe haven seperti emas," terangnya.

Meski demikian, optimisme terhadap fundamental domestik masih terjaga. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan bertahan di kisaran 5%, ditopang struktur ekonomi yang kuat, konsumsi domestik stabil, serta kebijakan moneter dan fiskal yang adaptif.

"Para pelaku pasar masih optimis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat bertahan di kisaran 5%, karena struktur ekonomi yang relatif didorong oleh fundamental makroekonomi domestik yang solid," sambungnya.

Nafan mengklaim masih terdapat tantangan termasuk harga energi yang tinggi, tekanan inflasi, dan gangguan rantai pasok global yang berpotensi memperlambat permintaan serta investasi. Namun, fase konsolidasi IHSG tetap membuka peluang bagi investor yang cermat untuk memanfaatkan momentum ini dengan strategi selektif dan manajemen risiko yang disiplin.

"Meskipun menghadapi tantangan berupa harga energi yang tinggi, inflasi yang meningkat, serta gangguan rantai pasok global yang dapat memperlambat demand dan invesment," lanjut Nafan.

Di tengah volatilitas tinggi, Nafan menilai sektor tertentu khususnya yang berbasis energi dan komoditas diprediksi dapat menjadi penopang IHSG dalam jangka pendek, sekaligus menjadi titik peluang bagi investor yang menekankan analisis fundamental dan teknikal.