periskop.id - Perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada posisi Indonesia dalam klasifikasi Morgan Stanley Capital International (MSCI). Beredar isu, Indonesia mengalami penurunan status pasar.

Namun berdasarkan MSCI Global Investable Market Indexes Methodology edisi Mei 2026, Indonesia hingga saat ini masih berada dalam kategori Emerging Market. Adapun pasar kini menantikan dua agenda penting MSCI, yakni Global Market Accessibility Review pada 19 Juni 2026 dan Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026.

Advertisement

Di sisi lain, pergerakan pasar domestik justru menunjukkan tekanan yang cukup dalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pagi sempat turun hingga ke level 5.652 atau melemah lebih dari 5%. Sejalan dengan itu, nilai tukar rupiah terdepresiasi hingga menembus Rp18.022 per dolar AS.

“Kombinasi pelemahan pasar saham dan mata uang secara bersamaan menjadi sinyal bahwa investor sedang melakukan repricing terhadap risiko Indonesia,” ujar Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana dalam keterangan yang diterima Periskop, Kamis (4/6).

Meski sejumlah pejabat masih menyampaikan bahwa fundamental ekonomi nasional tetap kuat, respons pelaku pasar menunjukkan arah berbeda. Hendra menilai, pasar tidak merespons narasi, melainkan data yang tercermin secara nyata.

Menurutnya, kondisi terkini memperlihatkan tekanan yang signifikan terhadap aset keuangan domestik, ditandai dengan arus keluar modal asing, pelemahan rupiah, serta penurunan kepercayaan investor.

Ia menegaskan bahwa tantangan utama saat ini bukan sekadar pertumbuhan ekonomi, melainkan kredibilitas kebijakan. Investor dinilai membutuhkan kepastian arah fiskal, kejelasan regulasi, serta komitmen terhadap iklim investasi yang sehat.

“Pasar membutuhkan bukti, bukan sekadar optimisme. Ketika narasi yang disampaikan pemerintah tidak sejalan dengan persepsi yang tercermin di pasar, maka yang terkikis adalah kepercayaan,” kata Hendra.

Dalam konteks ini, pemerintah dinilai perlu menunjukkan langkah konkret guna menjaga disiplin fiskal sekaligus memulihkan keyakinan investor. Program strategis tetap dapat dijalankan, namun perlu dievaluasi agar lebih tepat sasaran serta tidak menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan APBN.

Pendekatan bantuan yang lebih terarah kepada kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan dinilai lebih efektif dibandingkan kebijakan yang terlalu luas dan berpotensi membebani fiskal.

Pada akhirnya, Hendra mengatakan keputusan investor bertumpu pada keyakinan, bukan sekadar janji. Keyakinan tersebut, menurut Hendra, hanya dapat dibangun melalui kebijakan yang konsisten, transparan, dan terukur.

“Sebab ketika kata-kata mengatakan ekonomi kuat tetapi rupiah dan IHSG terus melemah, pasar akan memilih mempercayai angka. Dan angka, pada akhirnya, selalu berbicara lebih jujur,” pungkas Hendra.