periskop.id - Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini dinilai sebagai akumulasi berbagai sentimen negatif global dan domestik. Sentimen tersebut muncul hampir bersamaan sehingga meningkatkan sensitivitas pasar terhadap risiko.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, ketidakpastian global saat ini menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan pasar saham Indonesia. Menurut dia, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu lonjakan harga energi dunia dan memperbesar ketidakpastian di pasar keuangan global.

"Ketegangan geopolitik ini mendorong lonjakan harga energi dunia, terutama minyak mentah jenis Brent yang sempat menembus USD93 per barel" ucap Hendra dalam keterangannya Senin (9/3).

Bagi Indonesia, lanjutnya, kenaikan harga minyak menjadi tantangan tersendiri karena posisi negara yang masih merupakan net importer energi. Lonjakan harga minyak berpotensi memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan, stabilitas nilai tukar rupiah, serta meningkatkan beban subsidi energi pemerintah.

“Bagi negara seperti Indonesia yang masih menjadi net importer minyak, kenaikan harga energi global ini menjadi sentimen negatif karena berpotensi meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan, nilai tukar rupiah, serta beban subsidi energi dalam APBN," sambung Hendra.

Situasi tersebut pada akhirnya membuat investor global cenderung mengambil langkah defensif dengan mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang. Selain faktor eksternal, Hendra menilai kekhawatiran pasar juga dipicu oleh kondisi fiskal domestik. Hingga Februari 2026, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tercatat mengalami defisit sekitar Rp135 triliun.

"Jika harga minyak dunia terus bertahan di level tinggi, pemerintah dihadapkan pada dilema kebijakan antara menambah subsidi energi yang akan memperlebar defisit anggaran atau menaikkan harga BBM yang berpotensi mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat," tuturnya.

Namun di sisi lain, menaikkan harga bahan bakar berisiko mendorong inflasi serta menekan daya beli masyarakat.

“Pasar selalu sensitif terhadap isu fiskal. Ketika muncul kekhawatiran mengenai ruang fiskal pemerintah, persepsi risiko terhadap aset domestik bisa meningkat,” lanjut Hendra.

Dari sisi sektoral, ia menilai tekanan terbesar biasanya terjadi pada sektor yang sensitif terhadap pelemahan konsumsi serta kenaikan biaya energi. Sektor consumer goods, transportasi, dan manufaktur menjadi yang paling rentan dalam kondisi seperti ini.

Selain itu, sektor perbankan juga sering ikut mengalami tekanan karena investor mulai mengantisipasi potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi yang dapat berdampak pada kualitas kredit. Namun di tengah volatilitas pasar, Hendra melihat terdapat sejumlah sektor yang justru berpotensi mendapatkan manfaat dari lonjakan harga energi global.

“Ketika harga minyak naik, saham sektor energi biasanya menjadi defensive play. Emiten minyak dan gas serta perusahaan transportasi energi berpotensi mendapatkan katalis positif,” ujarnya.

Ke depan, ia mengatakan arah pergerakan pasar dalam beberapa akan sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik serta stabilitas harga energi dunia.

Jika ketegangan di Timur Tengah mereda, sentimen pasar berpotensi kembali membaik dan IHSG memiliki peluang untuk pulih.

Investor Harus Bagaimana?

Di tengah kondisi pasar yang volatil, ia mengingatkan investor untuk tidak mengambil keputusan secara emosional dan tetap fokus pada saham yang memiliki fundamental kuat. Strategi bertahap seperti buy on weakness atau akumulasi secara bertingkat dinilai menjadi pendekatan yang lebih bijak dibandingkan melakukan pembelian sekaligus pada satu level harga.

"Dalam sejarah pasar modal, periode volatilitas yang tinggi sering kali justru menjadi fase akumulasi bagi investor yang memiliki perspektif jangka menengah hingga panjang," pungkas Hendra.

Berikut rekomendasi saham sektor energi oleh Hendra yang menarik dicermati:

  • Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), otensi pergerakan menuju target 1.900
  • Energi Mega Persada Tbk (ENRG), target 2.000
  • Elnusa Tbk (ELSA), berpeluang menuju area 900

 

Saham sektor pelayaran energi dengan momentum positif:

  • Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI), target 240
  • Sochi Lines Tbk (SOCI), target 650