periskop.id - Mengawali pekan ini, pasar modal tanah air mengalami tekanan dengan koreksi signifikan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada perdagangan Senin pagi (9/3), IHSG dibuka melemah di level 7.374 atau turun sekitar 211 poin dari posisi penutupan akhir pekan lalu yang juga sudah tertekan 1,62% ke level 7.585.

IHSG kemudian turun 3,49% ke level 7.321,07 pada penutupan sesi I. Equity Analyst dari PT Indo Premier Sekuritas David Kurniawan menilai pelemahan pasar saham domestik tidak bisa dilepaskan dari tekanan yang sedang melanda pasar regional Asia. Menurutnya, hampir seluruh indeks utama di kawasan mengalami koreksi tajam, sehingga investor perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi pergerakan lanjutan IHSG.

"Semua indeks di Asia berdarah, jadi siap-siap kalau ternyata IHSG juga bergerak turun, jadi pembeliannya tidak perlu buru-buru disesuaikan dengan trading plan-nya," ujar David dalam keterangannya Senin (9/3).

Ia menjelaskan, salah satu faktor utama yang memicu kegelisahan pasar adalah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat serta Israel. Ketegangan tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global, terlebih dengan kabar penutupan jalur strategis pengiriman minyak dunia di Selat Hormuz.

Gangguan pada jalur tersebut dapat memicu lonjakan harga energi global serta meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan internasional. Kondisi inilah yang kemudian ikut menekan sentimen investor di berbagai bursa saham Asia, termasuk Indonesia.

Di luar faktor geopolitik, pasar domestik juga tengah mencermati perkembangan dari sisi fundamental ekonomi nasional. Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings baru-baru ini merevisi outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Langkah tersebut dipicu oleh kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit anggaran, terutama jika harga minyak dunia meningkat tajam.

"Pasar juga mencermati langkah lembaga pemeringkat global Fitch Ratings yang merevisi outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Revisi tersebut didorong kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit anggaran, terutama jika harga minyak menembus level tertentu sehingga dapat mendorong defisit fiskal melampaui target yang telah ditetapkan," sambungnya.

Selain itu, kenaikan harga energi dikhawatirkan dapat menambah beban fiskal pemerintah, khususnya terkait subsidi dan pengeluaran negara lainnya.

"Jika tekanan tersebut berlanjut, defisit fiskal berpotensi melampaui target yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," tutur David.

Meski demikian, pemerintah menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga stabilitas fiskal dan memastikan APBN berada dalam jalur yang terkendali.

"Pasar juga menunggu perkembangan sejumlah agenda domestik, termasuk rencana pengumuman pemenang proyek Waste to Energy (WTE) di Bekasi dan Denpasar oleh Danantara," ucap David.

Di tengah potensi volatilitas pasar yang masih tinggi, David tetap melihat adanya peluang trading jangka pendek pada beberapa saham tertentu. Ia merekomendasikan saham DAAZ untuk dicermati dengan strategi buy pada area 3.820, target harga di 4.200, dan batas stop loss di 3.640.

Sementara itu, saham ELSA dinilai menarik untuk strategi buy on pullback dengan area entry di level 810, target harga 900, dan stop loss di 780. Adapun saham SIMP direkomendasikan dengan pendekatan buy on breakout dengan entry di level 620, target 685, dan stop loss di 590.

Dengan kombinasi tekanan geopolitik global, dinamika harga energi, serta perkembangan kebijakan fiskal domestik, pergerakan IHSG pada awal pekan ini diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas tinggi. Dalam situasi seperti ini, disiplin strategi dan kehati-hatian dalam mengambil posisi menjadi kunci bagi investor untuk tetap menjaga peluang sekaligus meminimalkan risiko di tengah pasar yang bergerak cepat.