Periskop.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menanggung biaya pengobatan korban luka-luka akibat insiden longsoran sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat.
“Biaya pengobatan bagi yang luka-luka sepenuhnya ditanggung oleh Pemerintah DKI Jakarta,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo di Balai Kota, Senin (9/3).
Tak hanya itu, Pramono juga memastikan agar korban meninggal dari Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) Dinas Lingkungan Hidup, akan mendapatkan santunan BPJS Ketenagakerjaan.
Hingga kini, sudah tercatat empat korban meninggal dunia. Empat orang tersebut ialah dua orang sopir, satu orang pedagang berusia 60 tahun berjenis kelamin perempuan dan seorang pemulung berjenis kelamin perempuan.
“Jadi dua laki, dua perempuan. Tempat ibu jualan itu sebenarnya agak berjarak dengan sampahnya. Tetapi karena longsor, akhirnya terkena ibu tersebut. Tentunya Pemerintah DKI Jakarta sungguh berduka untuk ini,” jelas Pramono.
Sebelumnya, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) DKI Jakarta mengungkapkan data terbaru korban tewas menjadi empat orang terkait insiden longsoran sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang Desa Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi.
Berikut data korban terkait longsoran di TPST Bantargebang:
Data korban selamat
1. Setiabudi (L)
2. Johan (L)
Data korban meninggal dunia
1. Enda Widayanti (P, 25) (pemilik warung)
2. Sumine (P, 60) (pemilik warung)
3. Dedi Sutrisno (L) (sopir truk)
4. Irwan Suprihatin (L) (sopir truk).
Selain itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan, diduga masih terdapat korban lain yang belum ditemukan, serta beberapa truk sampah yang turut tertimbun material longsor.
Curah Hujan Ekstrem
Pramono mengatakan, insiden longsoran sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang Desa Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, akibat curah hujan ekstrem.
“Kemarin itu (curah hujannya) 264 milimeter per hari. Itu termasuk salah satu curah hujan yang tinggi di Jakarta,” kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Senin.
Dia menjelaskan, peristiwa longsor tersebut terjadi di zona 4A pada pukul 14.30 WIB. Dengan tingginya curah hujan tersebut, air pun masuk ke dalam gunungan sampah di Bantargebang. Akhirnya, kondisi sampah yang licin menyebabkan longsor di kawasan tersebut.
Kejadian itu, lanjut Pramono, menyebabkan jalan operasional dan Sungai Ciketing sepanjang 40 meter tertutup sampah. Setelah meninjau kondisi di Bantargebang pada pagi tadi, Pramono pun segera meminta agar situasi di tempat tersebut segera dinormalkan kembali.
“Terutama Sungai Ciketing-nya, agar segera bisa normal kembali. Tempat itu begitu tertutup maka jalannya juga tertutup, di lapangan kelihatan sekali. Dan untuk itu segera akan dinormalkan kembali,” ujar Pramono.
Atas insiden tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta juga langsung mengaktifkan operasi tanggap darurat mulai Minggu (8/3) untuk memastikan keselamatan petugas. DLH DKI Jakarta juga melakukan penanganan korban, serta menstabilkan area agar layanan pengelolaan sampah dapat segera dipulihkan.
Pramono memaparkan, penanganan dilakukan oleh tim gabungan lintas instansi dengan melibatkan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Polda Metro Jaya, TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta dan Kota Bekasi, Pemadam Kebakaran (Damkar). Selain itu, aparat di wilayah setempat dengan dukungan 19 ekskavator alat berat dan tujuh unit ambulans yang dioperasikan pada saat proses evakuasi.
Tinggalkan Komentar
Komentar