periskop.id - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi di tengah tekanan sentimen global.

Pada perdagangan hari ini, Kamis (12/3), IHSG naik 0,53% ke level 7.428,777 pada penutupan sesi I setelah dibuka pada level 7.398,853. IHSG sesi I sempat terjerembab di zona merah dengan level terendahnya di level 7.323,742 sebelum berbalik arah hingga ke level tertinggi ke 7.434,655.

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai secara teknikal area support terdekat IHSG berada di kisaran 7.320 hingga 7.350. Sementara itu, resistance jangka pendek berada di area 7.450 hingga 7.500.

“Jika tekanan sentimen global masih berlanjut, IHSG berpotensi kembali menguji area 7.300. Namun apabila tensi geopolitik mulai mereda dan arus dana asing kembali stabil, peluang terjadinya rebound teknikal menuju kisaran 7.450 masih terbuka,” ujarnya kepada Periskop, Kamis (12/3).

Ia menambahkan, dalam kondisi pasar seperti saat ini investor cenderung lebih selektif dalam memilih saham dengan fundamental kuat serta likuiditas tinggi. Saham-saham perbankan besar, telekomunikasi, dan beberapa emiten berbasis teknologi dinilai masih berpotensi menjadi penopang indeks karena relatif lebih defensif terhadap gejolak eksternal.

Di sisi lain, saham berbasis komoditas dan industri bahan baku cenderung lebih volatil karena sensitif terhadap pergerakan harga energi serta dinamika ekonomi global. Oleh karena itu, investor disarankan tetap menjaga disiplin manajemen risiko sekaligus memanfaatkan momentum koreksi pasar untuk melakukan akumulasi secara bertahap pada saham berfundamental kuat.

Pada perdagangan Rabu (11/3), IHSG tercatat turun 51,5 poin atau terkoreksi 0,69% ke level 7.389,40. Pelemahan indeks terutama dipicu oleh penurunan sektor Basic Materials sebesar 2,03%, Energy 2,01%, serta Industrial 1,34%.

Tekanan juga datang dari arus dana asing yang mencatatkan jual bersih sebesar Rp938,66 miliar di seluruh pasar. Aksi jual terutama terjadi pada saham berkapitalisasi besar seperti Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan nilai transaksi di atas Rp100 miliar.

Sebaliknya, investor asing terpantau melakukan akumulasi cukup besar pada saham Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Sementara itu, nilai tukar rupiah relatif stabil di kisaran Rp16.861 per dolar AS.

Melihat dinamika global yang masih berlangsung serta mendekatnya libur panjang Idulfitri 2026, tim riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai ruang kenaikan IHSG dalam jangka pendek cenderung terbatas.

Menurut Kiwoom Sekuritas, pergerakan indeks kemungkinan besar akan bergerak sideways menjelang libur panjang, dengan fokus utama menjaga area support krusial di rentang 7.335 hingga 7.120 agar tidak kembali tertembus.

"Sehingga proyeksi terbaik saat ini adalah sideways sambil pertahankan area support kritikal 7.335-7.120 jangan sampai tertembus lagi," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata.

Secara keseluruhan, Kiwoom Sekuritas menilai pasar saat ini masih berada dalam fase wait and see menjelang periode libur panjang. Karena itu, strategi trading selektif dengan disiplin pada area entry, support, dan cut loss menjadi kunci bagi investor untuk menjaga peluang di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.

Dalam kondisi pasar yang cenderung konsolidatif tersebut, Kiwoom Sekuritas Indonesia melihat sejumlah peluang trading jangka pendek masih terbuka.

Saham Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dinilai menarik pada area beli 740–760 dengan target harga 785–810 dan cut loss di 720.

Sementara itu, Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) direkomendasikan pada kisaran 5.600–5.750 dengan target 5.925–6.100 serta cut loss di 5.475.

Peluang teknikal juga terlihat pada Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) di area beli 174–179 dengan target 185–190 dan cut loss di 170.

Adapun saham Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) diproyeksikan menarik pada kisaran 2.200–2.280 dengan target 2.380–2.470 serta batas cut loss di 2.140.