periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis Indeks Harga Saham Gabungan berpotensi mencapai level 28.000 pada periode 2029–2030, seiring dengan prospek ekspansi ekonomi nasional yang terus menguat.
Menurutnya, pergerakan IHSG sangat dipengaruhi oleh fundamental ekonomi. Dalam satu siklus ekspansi, nilai indeks saham bahkan dapat meningkat hingga empat sampai lima kali lipat dari titik terendahnya.
"Saya selalu bilang, dari mulai titik terendah ekonomi sampai ujung dari masa ekspansi, itu bisa 4-5 kali. Let's say sekarang 7 ribu lah. Ekspansi kita akan berlangsung sampai 2029-2030. Bisa lah (IHSG) 28 ribu," kata Purbaya dalam acara Peresmian Program Investasi Terencana dan Berkala (Pintar) Reksa Dana, Jakarta, Senin (27/4).
Ia mencontohkan, pada 2002 IHSG masih berada di kisaran 200-an, namun pada 2009 melonjak hingga sekitar 2.500 atau naik lebih dari 10 kali lipat. Hal ini, menurutnya, menunjukkan bahwa lonjakan signifikan di pasar saham bukan sesuatu yang mustahil, selama didukung pertumbuhan ekonomi yang kuat.
"Coba kalau Anda lihat tahun 2002, kan indeksnya 200-an. 2009 udah berapa? 2500, 10 kali nih akhirnya. Jadi itu bukan hal yang tidak mungkin kalau kita kembangkan pertumbuhan ekonomi yang baik dan itu pasti akan terjadi," terang dia.
Di sisi lain, Purbaya juga menyoroti meningkatnya partisipasi generasi muda, khususnya Gen Z, di pasar modal yang kini mencapai sekitar 57 persen dari total investor.
Namun, ia mengingatkan bahwa berinvestasi di pasar saham membutuhkan pemahaman yang memadai. Investor pemula, terutama dari kalangan muda, disarankan untuk terlebih dahulu mempelajari dasar-dasar investasi sebelum terjun langsung.
"Kalau Gen Z biasanya sudah tahu, kayak saya lah. Mayan, mayan, mayan. Gak apa-apa kalau dibekali ilmu yang cukup. Tapi kalau gak cukup, biar aja ahlinya yang bekerja. Anda pelajari si ahli itu kerjanya gimana. Nanti kalau Anda merasa lebih jago, baru tendang Anda langsung menginvestasi di pasar saham," tutur dia.
Purbaya menekankan bahwa setiap instrumen investasi selalu mengandung risiko dengan prinsip “high risk, high return”. Karena itu, penting bagi investor untuk memahami profil risiko masing-masing.
"Program pintar adalah jawaban atas risiko. Jadi berinvestasi selalu ada risikonya. Katanya high risk, high gain. No risk, no gain. Low risk, low gain. Selalu ada itu," tambahnya.
Sebagai alternatif, ia menyebut kehadiran program investasi berbasis pengelolaan profesional sebagai solusi bagi investor yang belum memiliki pengalaman cukup. Salah satunya melalui mekanisme investasi berkala seperti rupiah cost averaging, yang memungkinkan investor menyisihkan dana secara rutin dalam jumlah tetap.
Katanya, metode ini dinilai dapat membantu mengurangi risiko kesalahan dalam menentukan waktu masuk pasar (market timing) sekaligus memanfaatkan efek bunga majemuk (compounding) dalam jangka panjang.
"Melalui mekanisme rupiah cost averaging yang terotomasi, yaitu menyisihkan uang dengan jumlah tetap carutin dalam periode tertentu dengan prinsip compounding. Pintar memitigasi risiko market timing. Anda tidak perlu lagi pusing kapan waktu terbaik untuk masuk ke pasar," Purbaya mengakhiri.
Tinggalkan Komentar
Komentar