periskop.id - Jelang dimulainya libur panjang Lebaran, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai memasuki fase yang sensitif. Pada perdagangan Senin, indeks tercatat mengalami tekanan cukup dalam dengan penurunan 114,9 poin atau 1,61% ke level 7022,29, bahkan sempat menyentuh level terendah intraday di 6.917 sebelum akhirnya berhasil kembali ke atas area psikologis 7.000.

Hingga penutupan sesi I, IHSG naik 1,14% ke level 7.102,207. Sebanyak 487 saham menguat. Kemudian 192 saham terkoreksi. Sisanya 131 saham stagnan.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata memproyeksikan pelemahan IHSG kali ini terlihat lebih gelisah dibanding sebagian besar bursa Asia. Tekanan tersebut tidak hanya dipicu faktor teknikal, tetapi juga kombinasi sentimen makro yang membuat pelaku pasar cenderung mengambil posisi defensif.

Salah satunya berasal dari pergerakan nilai tukar rupiah yang belakangan ini terus berada di sekitar Rp17.000 per dolar AS, level yang secara psikologis cukup menekan kepercayaan investor.

"Nilai tukar rupiah yang belakangan ini selalu bermain dekat angka Rp17.000 dan ancaman shock supply BBM domestik setelah Lebaran. Jika perang AS-Iran ini berkepanjangan, menyurutkan minat investment para pelaku pasar, apalagi H-2 jelang libur panjang Lebaran yang akan dimulai esok hari sampai tanggal 24 Maret," ujar Liza, Selasa (17/3).

Kondisi tersebut semakin terasa karena waktunya bertepatan dengan H-2 sebelum libur panjang Lebaran. Biasanya pada periode seperti ini aktivitas perdagangan cenderung melambat, sementara pelaku pasar lebih memilih mengurangi risiko dan menjaga likuiditas hingga pasar kembali dibuka.

Meski demikian, Liza melihat ada sinyal yang cukup menarik dari sisi aliran dana. Investor asing justru tercatat melakukan pembelian bersih sekitar Rp1 triliun di seluruh pasar, sebuah indikasi bahwa tekanan jual kemungkinan mulai mendekati titik jenuh.

Secara teknikal, Liza juga mencermati terbentuknya pola candle menyerupai hammer tepat di area support lower channel, yang bertepatan dengan target pola bearish flag sebelumnya. Bersamaan dengan itu, indikator RSI mulai menunjukkan positive divergence, yang sering kali menjadi sinyal awal meredanya momentum penurunan.

Dengan kombinasi sinyal tersebut, Liza menilai potensi penurunan lanjutan relatif mulai terbatas (limited downside potential) dan membuka peluang bagi pasar untuk mengalami technical rebound dalam jangka pendek.

Meski begitu, Liza tetap mengingatkan investor untuk tidak terlalu agresif menambah posisi menjelang periode libur panjang. Kondisi pasar saat ini masih tergolong highly speculative, sehingga menjaga tingkat investasi tetap moderat dianggap sebagai langkah yang lebih aman.

Menariknya, libur panjang Lebaran justru bisa dinilai menjadi faktor yang secara tidak langsung menguntungkan pasar domestik. Jika selama periode libur terjadi gejolak di pasar global, IHSG relatif terlindungi dari dampak langsung karena perdagangan sedang berhenti.

"Tidak perlu khawatir ketinggalan momentum, karena jika pasar global tetap stabil selama libur panjang, IHSG berpotensi langsung melakukan upward adjustment saat dibuka kembali pada 25 Maret," lanjut Liza.

Sebaliknya, apabila kondisi global tetap stabil atau bahkan menguat, pasar domestik berpeluang melakukan penyesuaian kenaikan secara cepat ketika perdagangan dibuka kembali pada 25 Maret.

"Jika pasar global bergejolak, kita relatif terlindungi dari dampak langsungnya (walau nanti tetap akan kebagian aftermath), sementara ketika situasi mereda dan berbalik rebound, pasar domestik berpeluang langsung menyesuaikan ke arah kenaikan," tandas Liza.