periskop.id - Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) atau bank bjb berhasil mengumumkan kinerja tahun buku 2025. Bank bjb mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada induk sebesar Rp1,15 triliun sepanjang 2025.
Manajemen juga mencatat bahwa momentum perbaikan kinerja yang mulai terlihat pada triwulan IV 2025 terus berlanjut pada awal 2026. Tren ini dinilai menjadi sinyal positif bagi prospek pemulihan pertumbuhan laba ke depan.
Selain itu, stabilitas sistem keuangan nasional hingga akhir tahun dinilai tetap terjaga dan kondusif bagi industri perbankan, terutama berkat dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang relatif akomodatif, termasuk langkah pelonggaran suku bunga oleh Bank Indonesia melalui penurunan BI Rate yang mulai membuka ruang pemulihan fungsi intermediasi perbankan.
"Secara konsolidasi, total aset bank bjb pada akhir 2025 tercatat mencapai Rp221,4 triliun, mencerminkan skala bisnis yang tetap terjaga di tengah dinamika pasar," tulis Corporate Secretary bank Bjb Herfinia dalam keterangan tertulisnya dikutip Selasa (17/3)
Lebih lanjut ia memaparkan dari sisi intermediasi, penyaluran kredit dan pembiayaan berhasil menembus Rp140,7 triliun, dengan kontribusi dari perusahaan anak sebesar Rp28,8 triliun, sementara unit bank only menyumbang Rp111,9 triliun.
Pada level bank only, segmen kredit konsumer tetap menjadi tulang punggung bisnis perseroan dengan outstanding yang mencapai Rp74,8 triliun. Segmen ini dinilai memiliki kualitas aset yang sangat terjaga, tercermin dari tingkat Non Performing Loan (NPL) yang tetap rendah serta margin yang masih sehat.
Selain stabil dari sisi kualitas, ruang pertumbuhan juga dinilai masih terbuka lebar. Hal ini didorong oleh meningkatnya jumlah pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K) di wilayah Jawa Barat dan Banten, yang pada Juni 2025 tercatat mencapai sekitar 504 ribu orang. Angka tersebut sekaligus memperluas basis pasar payroll bagi bank bjb.
"Seiring dengan penguatan bisnis inti, transformasi digital juga terus dipercepat. Salah satu langkah strategis dilakukan melalui pengembangan platform KGB Pisan, yang kini menjadi kanal utama bagi layanan kredit konsumer berbasis digital," sambungnya.
Sejak memperoleh izin pengembangan layanan dari Otoritas Jasa Keuangan pada November 2025, platform ini memungkinkan nasabah payroll bank bjb mengajukan kredit baru secara end-to-end digital, mulai dari proses pengajuan hingga persetujuan.
Digitalisasi proses kredit tersebut tidak hanya meningkatkan kenyamanan nasabah, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas internal dan skalabilitas bisnis konsumer. Dengan proses yang semakin cepat dan efisien, bank bjb memiliki peluang lebih besar untuk memperluas penetrasi pasar sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Di sisi lain, ekspansi bisnis juga tetap dilakukan secara terukur pada segmen korporasi dan komersial. Fokus utama diarahkan pada pembiayaan proyek-proyek berbasis ekosistem daerah, yang diharapkan mampu mendorong aktivitas ekonomi regional sekaligus memperkuat peran bank bjb sebagai bank pembangunan daerah.
Selain memperkuat bisnis inti, bank bjb juga terus mendorong sinergi dalam Kelompok Usaha Bank (KUB). Kinerja anak perusahaan tercatat memberikan kontribusi aset sebesar Rp42,8 triliun, atau sekitar 18 persen dari total aset konsolidasi Grup bjb.
"Ke depan, bank bjb akan terus memperkuat sinergi bisnis dan efisiensi operasional melalui skema sharing fee serta kolaborasi produk guna meningkatkan profitabilitas dan daya saing grup secara berkelanjutan," tutup Herfinia.
Tinggalkan Komentar
Komentar