Periskop.id - Menjelang IPO di Bursa Efek Indonesia, kesehatan finansial PT Rans Entertainment Indonesia Tbk menjadi sorotan utama calon investor. Laporan keuangan 2025 perusahaan milik Raffi Ahmad ini merekam tiga sinyal yang perlu dicermati secara bersamaan: penurunan pendapatan 13,91%, koreksi laba bersih 41,60%, sekaligus perbaikan margin bruto yang cukup signifikan.

Ketiga angka itu tidak bisa dibaca terpisah. Masing-masing menyimpan cerita berbeda tentang ke mana arah bisnis Rans Entertainment setelah resmi melantai di bursa dengan kode ticker RANS.

Pendapatan Turun, Segmen Mana yang Paling Terpukul?

Sepanjang 2025, Rans Entertainment membukukan pendapatan Rp353,38 miliar, menyusut dari Rp410,49 miliar pada tahun sebelumnya. Penurunan 13,91% ini didominasi oleh pelemahan di segmen duta merek dan talent management, yang ambles 51,55% menjadi Rp51,92 miliar.

Segmen tersebut memang rentan terhadap fluktuasi permintaan brand endorsement, yang cenderung siklikal dan bergantung pada momentum pasar iklan. Penurunan di sini mencerminkan tekanan eksternal, bukan semata persoalan operasional internal perusahaan.

Margin Bruto Naik: Sinyal Efisiensi yang Menarik

Di balik angka pendapatan yang menyusut, ada temuan yang justru menjadi daya tarik tersendiri. Margin laba bruto Rans Entertainment tumbuh dari 38,79% pada 2024 menjadi 43,21% pada 2025.

Laba kotor tercatat Rp152,71 miliar, dicapai bersamaan dengan turunnya beban pokok pendapatan. Artinya, perusahaan berhasil menjaga efisiensi struktur biaya meski volume penjualan mengecil. Bagi investor, perbaikan margin semacam ini lazim dibaca sebagai tanda manajemen mampu mengendalikan biaya produksi secara lebih disiplin.

Perbaikan margin bruto di tengah tekanan pendapatan bisa mengindikasikan bahwa perusahaan sedang melakukan perampingan portofolio bisnis ke segmen yang lebih menguntungkan.

Laba Bersih Turun 41,60%: Apakah Ini Alarm?

Laba tahun berjalan tercatat Rp56,68 miliar, turun tajam 41,60% dibandingkan Rp97,06 miliar pada 2024. Angka ini tampak mengkhawatirkan di permukaan, tapi konteksnya penting untuk dipahami.

Penurunan laba 2025 dipengaruhi oleh laba pelepasan entitas anak sebesar Rp44,94 miliar yang dibukukan pada 2024. Pos ini bersifat tidak berulang (one-off), sehingga basis perbandingan 2024 memang lebih tinggi dari kondisi operasional normal. Tanpa pos tersebut, selisih kinerja laba antara dua tahun itu jauh lebih kecil dari yang terlihat.

Investor perlu memisahkan laba operasional berulang dari keuntungan pelepasan aset saat menilai tren kinerja sesungguhnya.

Rencana Penggunaan Dana IPO Rp429 Miliar

Rans Entertainment menargetkan perolehan dana maksimal Rp429,25 miliar dari IPO, dengan melepas sebanyak-banyaknya 2,52 miliar saham baru atau setara 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Harga penawaran ditetapkan di kisaran Rp135 hingga Rp170 per saham.

Sebesar 37,61% dari dana hasil IPO dialokasikan untuk biaya operasional penyelenggaraan konser artis lokal dan internasional di berbagai kota. Sekitar 18,64% ditujukan untuk belanja modal pembangunan wahana bermain dan edukasi bernama Cipungland.

Porsi 19,80% akan digunakan untuk mengakuisisi saham PT Rans Kosmetika Indonesia atau Slavina. Dana selebihnya mengalir ke pembentukan entitas baru bersama PT Feedloop Global Teknologi untuk pengembangan bisnis berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence), pelunasan sebagian utang kepada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, serta penguatan anak usaha.

Risiko Ketergantungan pada Figur Utama

Rans Entertainment secara terbuka mengakui risiko utama bisnisnya: ketergantungan yang tinggi terhadap Raffi Ahmad dan Nagita Slavina beserta keluarga sebagai figur sentral perusahaan.

Dalam prospektus, perseroan menyebutkan bahwa isu reputasi maupun berkurangnya keterlibatan kedua figur itu berpotensi berdampak terhadap kinerja usaha. Ini bukan risiko yang bisa diabaikan, mengingat sebagian besar nilai merek Rans Entertainment melekat langsung pada persona publik keduanya.

Setelah seluruh saham baru terserap, kepemilikan Raffi Ahmad diperkirakan terdilusi dari 78,68% menjadi 62,93%, tetapi posisinya sebagai pemegang saham pengendali tetap tidak berubah.

Bagi calon investor yang mempertimbangkan saham RANS, memahami dinamika tiga angka kunci ini, yakni penurunan pendapatan, koreksi laba, dan perbaikan margin, adalah langkah awal yang tidak bisa dilewati. Pencatatan saham di BEI ditargetkan berlangsung pada 10 Juli 2026, dengan masa penawaran umum dijadwalkan pada 2-8 Juli 2026.