periskop.id - Di tengah kekhawatiran menurunnya populasi serangga, tiga mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jember menghadirkan gagasan inovatif bernama EntoSphere. Konsep ini bukan sekadar kandang serangga, melainkan laboratorium pintar berbasis digital yang dirancang untuk melindungi spesies langka sekaligus menjadi sarana pembelajaran biologi yang aplikatif.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Nadzar Thariqy Achsan, Melsanda Aprilina, dan Fahilah Ayu Safitri. Mereka menekankan bahwa ide ini lahir dari kepedulian terhadap rendahnya kesadaran masyarakat akan peran penting serangga dalam menjaga keseimbangan ekosistem. 

“Kepedulian kami terhadap kelestarian serangga ini datang dari rendahnya kesadaran masyarakat terhadap peran penting serangga dalam menjaga keseimbangan ekosistem,” ujar Nadzar dikutip dari Antara, Kamis (12/3).

EntoSphere mengintegrasikan Kecerdasan Buatan (AI) dan Internet of Things (IoT). Sensor suhu dan kamera khusus digunakan untuk memantau aktivitas serangga tanpa mengganggu perilaku alaminya. 

“Teknologi AI yang diusulkan mampu mengenali jenis spesies dan menganalisis pola aktivitas serangga secara otomatis,” tambah Nadzar. 

Dengan sistem ini, data populasi serangga dapat dikumpulkan secara real-time dan terstandar, sehingga pemantauan menjadi lebih akurat.

Jika diterapkan di sekolah, EntoSphere akan hadir melalui program Insecta Cops, yang mengajak siswa menganalisis hubungan antara lingkungan dan perilaku serangga berdasarkan data nyata. Pendekatan ini diyakini mampu memperkuat literasi sains, kemampuan analitis, serta menghubungkan biologi dengan teknologi dan analisis data. 

“Proses belajar tidak berhenti pada tataran konseptual, melainkan berbasis bukti dan pengalaman langsung,” jelasnya.

Riset internasional menunjukkan bahwa populasi serangga dunia menurun drastis. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Biological Conservation (2019) memperkirakan lebih dari 40% spesies serangga terancam punah dalam beberapa dekade mendatang, terutama akibat hilangnya habitat, penggunaan pestisida, dan perubahan iklim. 

Kehadiran inovasi seperti EntoSphere menjadi relevan untuk menjembatani riset global dengan praktik edukasi lokal.

Selain aspek teknis, mahasiswa Unej ini menekankan pentingnya dukungan kampus dalam mendorong kreativitas. 

“Lingkungan yang suportif sangat berpengaruh terhadap keberanian untuk mencoba dan berkompetisi,” kata Nadzar. 

EntoSphere bukan hanya solusi teknologi, tetapi juga simbol keberanian generasi muda untuk berinovasi demi kelestarian alam. Dengan pendekatan interaktif, konsep ini berpotensi menjadi model pembelajaran biologi yang lebih hidup dan berdampak nyata bagi ekosistem.