Periskop.id - Selama berabad-abad, citra perempuan melahirkan di atas tempat tidur dengan posisi terlentang telah menjadi standar medis di dunia modern. Namun, melansir laporan BBC pada Minggu (5/4), praktik ini justru sering kali lebih berisiko bagi kesehatan ibu dan bayi. 

Sejarah mencatat bahwa dominasi posisi berbaring bukan lahir dari kebutuhan biologis perempuan, melainkan dari preferensi kenyamanan pria di masa lalu.

Selama ribuan tahun, perempuan di berbagai belahan dunia secara alami melahirkan dalam posisi tegak. Baik itu berlutut seperti tradisi Mesir Kuno yang dikaitkan dengan Cleopatra, menggunakan bangku persalinan, hingga posisi jongkok. 

Secara fisiologis, posisi jongkok mampu memperlebar diameter panggul hingga setidaknya 2,5 cm. Ditambah dengan bantuan gravitasi, proses persalinan menjadi jauh lebih mudah dan efisien bagi tubuh perempuan.

Akar Sejarah: Kenyamanan Dokter dan Keinginan Sang Raja

Lalu, bagaimana posisi yang tidak alami ini menjadi norma? Transformasi ini bermula sekitar 300 hingga 400 tahun yang lalu. 

Salah satu tokoh kuncinya adalah François Mauriceau, seorang dokter asal Prancis. Dalam bukunya yang terbit tahun 1668, The Diseases of Women with Child and in Child-bed, Mauriceau memandang kehamilan sebagai sebuah penyakit.

Ia berpendapat bahwa melahirkan di tempat tidur adalah cara terbaik demi praktisnya penanganan medis, terutama bagi dokter laki-laki yang mulai mendominasi ranah persalinan kala itu. 

Posisi terlentang memudahkan dokter untuk memantau prosesnya, namun mengabaikan kenyamanan ibu.

Selain pengaruh medis, terdapat teori yang menyebutkan keterlibatan Raja Louis XIV dari Prancis. Konon, sang raja memiliki kegemaran aneh menyaksikan proses persalinan. 

Ia merasa pandangannya terhalang jika perempuan menggunakan bangku melahirkan yang rendah, sehingga ia mendorong penggunaan posisi berbaring agar proses tersebut lebih mudah terlihat dari sudut pandangnya.

Kritik terhadap Persalinan Saat Ini

Janet Balaskas, pendiri Active Birth Centre di Inggris dan penulis "Manifesto Persalinan Aktif" (1982), mengkritik keras fenomena ini. Menurutnya, posisi berbaring di rumah sakit justru mengubah proses alami yang sakral menjadi peristiwa medis yang rumit dan mahal.

“Masih ada ketidaktahuan yang luas di kalangan tenaga medis dan ibu hamil tentang fisiologi persalinan,” kata Balaskas. 

Ia menegaskan bahwa praktik ini menjadikan perempuan sebagai pasien pasif. 

“Tidak ada spesies lain yang mengambil posisi yang begitu tidak menguntungkan pada momen sepenting ini,” ujarnya.

Senada dengan Balaskas, Hannah Dahlen, profesor kebidanan di Western Sydney University, menyebut posisi terlentang sebagai fenomena yang relatif baru dan tidak sejalan dengan insting alami manusia. 

“Persalinan kini menjadi sangat terinstitusionalisasi, sementara pilihan seperti melahirkan di rumah yang lebih mendukung proses alami justru semakin berkurang,” tambah Balaskas.

Keunggulan Posisi Tegak Menurut Sains

Alasan utama mengapa posisi tegak mendominasi selama ribuan tahun adalah hukum alam yang sangat sederhana: gravitasi. Bayi harus bergerak ke bawah melalui jalan lahir, dan posisi tegak mempermudah perjalanan tersebut. 

Penelitian membuktikan bahwa saat kontraksi, perempuan secara naluriah akan condong ke depan, bertumpu pada tangan dan lutut, atau bersandar pada permukaan rendah.

Sebuah tinjauan pada 2013 terhadap 25 studi yang melibatkan lebih dari 5.200 perempuan menemukan berbagai manfaat posisi tegak dan aktif, di antaranya:

  • Menurunkan risiko operasi caesar.
  • Mengurangi kebutuhan penggunaan epidural (bius lokal).
  • Menurunkan kemungkinan bayi harus dirawat di unit neonatal.
  • Memperpendek durasi waktu persalinan secara signifikan.

“Melahirkan dalam posisi tegak memberikan manfaat bagi ibu dan bayi,” tulis Hannah Dahlen. Kontraksi menjadi lebih efektif, rasa nyeri berkurang, serta meminimalkan penggunaan alat bantu seperti forceps dan vakum. 

Selain itu, oksigenasi pada bayi menjadi lebih baik karena pembuluh darah utama ibu tidak tertekan oleh beban rahim yang berat saat terlentang.

Menuju Perubahan: Edukasi dan Lingkungan

Data tahun 2011 menunjukkan bahwa desain ruangan sangat memengaruhi pilihan ibu. Di pusat persalinan yang menyediakan fasilitas pendukung seperti bola persalinan (gym ball), bangku, dan bean bag, sebanyak 82% perempuan memilih melahirkan tegak. Sebaliknya, di ruang bersalin rumah sakit konvensional, hanya 25% yang melakukannya.

Kini, konsep Active Birth mulai kembali dikenal di negara-negara Barat. Di Inggris, pedoman dari National Institute for Health and Care Excellence (NICE) kini menyarankan agar petugas medis tidak menganjurkan posisi terlentang, melainkan membiarkan perempuan memilih posisi yang paling nyaman.

Eileen Hutton, akademisi kebidanan dari McMaster University, menekankan pentingnya edukasi publik. Menurutnya, gambaran persalinan di media populer sering kali tidak akurat dan hanya menampilkan drama posisi terlentang. 

“Edukasi publik tentang pilihan persalinan akan selalu bermanfaat,” kata Hutton. Dengan pengetahuan yang benar, setiap perempuan diharapkan dapat mengambil kembali kendali atas tubuh dan pengalaman melahirkan mereka sendiri.