Periskop.id - Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah International Journal of Endocrinology pada 2018 menemukan adanya hubungan antara pola makan tidak sehat dan pubertas dini pada anak-anak di Shanghai, China.
Penelitian berjudul Association between Dietary Patterns and Precocious Puberty in Children: A Population-Based Study ini menyoroti bagaimana kebiasaan makan sehari-hari dapat berkaitan erat dengan risiko terjadinya pubertas dini pada anak-anak.
Pubertas dini adalah kondisi ketika tubuh anak mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan menuju dewasa jauh lebih cepat dari usia normal.
Tanda tersebut dapat berupa tumbuhnya payudara pada anak perempuan atau membesarnya alat kelamin pada anak laki-laki. Kondisi ini disebut pubertas dini jika terjadi sebelum anak perempuan berusia 8 tahun atau sebelum anak laki-laki berusia 9 tahun.
Tim peneliti melakukan studi ini di Shanghai, China, dengan melibatkan anak-anak berusia 6 hingga 12 tahun.
Mereka menggunakan metode ilmiah yang disebut studi potong lintang (cross-sectional study), yaitu sebuah metode penelitian yang mengamati data pola makan dan kondisi fisik anak-anak secara bersamaan dalam satu waktu tertentu untuk melihat gambaran situasi pada saat itu.
Tiga Pola Makan Anak yang Diteliti
Untuk memetakan apa saja yang dimakan oleh anak-anak tersebut, peneliti menggunakan kuesioner frekuensi makanan (Food Frequency Questionnaire/FFQ), sebuah daftar pertanyaan untuk mencatat seberapa sering anak-anak mengonsumsi jenis makanan tertentu selama enam bulan terakhir.
Dari data tersebut, peneliti mengelompokkan kebiasaan makan anak-anak ke dalam tiga kategori utama, yakni:
- Pola Makan Tradisional: Kaya akan sayuran, buah-buahan, daging merah, ikan, dan hasil laut.
- Pola Makan Protein: Didominasi oleh konsumsi produk susu, bubuk protein, dan suplemen protein.
- Pola Makan Tidak Sehat (Junk Food): Sering mengonsumsi makanan penutup (pencuci mulut), camilan komersial, minuman ringan (bersoda/manis), dan gorengan.
Mengapa Junk Food Berbahaya Bagi Pertumbuhan?
Hasil analisis menunjukkan bahwa anak-anak yang sering mengonsumsi pola makan tidak sehat memiliki risiko lebih tinggi mengalami pubertas dini. Pada awal analisis, hubungan ini terlihat sangat kuat baik pada anak laki-laki maupun perempuan.
Para ahli menduga ada tiga jalur utama bagaimana makanan tidak sehat atau junk food ini mempercepat kedewasaan fisik anak, di antaranya:
- Asupan Lemak Tinggi: Lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh ganda dalam gorengan dapat memengaruhi cara tubuh mengolah hormon estrogen, yakni hormon seksual utama pada perempuan.
- Asupan Gula Tinggi: Minuman ringan yang manis dapat memicu lonjakan insulin secara mendadak. Insulin adalah hormon yang berfungsi mengatur kadar gula darah. Jika kondisi ini terjadi berulang, keseimbangan hormon reproduksi lainnya bisa ikut terganggu.
- Kalori Berlebih dan Obesitas: Makanan tinggi kalori memicu kenaikan berat badan yang cepat. Lemak tubuh yang berlebih bertindak seperti "pabrik" hormon yang mengirimkan sinyal keliru ke otak bahwa tubuh sudah "siap" untuk pubertas.
Menariknya, setelah peneliti menghitung dan menyingkirkan pengaruh faktor usia, berat badan, serta status sosial ekonomi, hubungan statistik pada pola makan tidak sehat ini menjadi melemah atau tidak signifikan.
Status sosial ekonomi dalam konteks ini mencakup hal-hal seperti tingkat pendapatan dan pendidikan orang tua.
Hal ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi dan lingkungan keluarga memegang peranan penting dalam menentukan apa yang dibeli dan dimakan oleh anak-anak sehari-hari.
Sementara itu, pola makan tradisional yang seimbang dan pola makan protein tidak menunjukkan hubungan berbahaya dengan percepatan pubertas. Zat alami seperti fitoestrogen, yaitu senyawa dari tumbuhan yang memiliki kemiripan dengan estrogen, justru diduga dapat membantu menjaga kestabilan hormon anak.
Catatan untuk Orang Tua dan Dunia Kesehatan
Meski memberikan temuan penting, para peneliti mengakui studi ini masih memiliki beberapa keterbatasan. Karena menggunakan metode potong lintang, penelitian ini belum dapat memastikan hubungan sebab-akibat secara mutlak.
Dengan kata lain, studi ini belum bisa membuktikan apakah makanan tidak sehat benar-benar menjadi penyebab utama pubertas dini, atau ada faktor gaya hidup lain yang ikut memengaruhinya.
Selain itu, pengumpulan data yang mengandalkan ingatan orang tua atau anak (bias ingatan) berpotensi mengurangi akurasi data.
Meski demikian, studi ini menjadi alarm penting bagi masyarakat luas. Para peneliti menegaskan bahwa makanan tidak dikonsumsi secara terpisah, melainkan dalam satu kesatuan pola makan.
Oleh karena itu, intervensi terbaik untuk mencegah pubertas dini adalah dengan menggalakkan kampanye kesehatan masyarakat guna mendorong pola makan seimbang sejak dini dan membatasi akses anak-anak terhadap junk food.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar