periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah setelah sempat menguat di awal perdagangan dan ditutup melemah tajam pada sesi I, Selasa (19/5). IHSG turun 3,08% atau 203 poin ke level 6.396.

Koreksi tajam ini mengindikasikan tekanan jual masih dominan dalam jangka pendek. Tekanan jual yang masif terutama datang dari saham-saham sektor tambang. Beberapa emiten mencatatkan penurunan signifikan, di antaranya INDY (-14,7%), TINS (-14,36%), CUAN (-12,0%), serta AMMN (-10,1%).

Secara sektoral, pelemahan terdalam dipimpin oleh indeks bahan baku (IDX Basic) yang terkoreksi 7,26%, disusul sektor energi (IDX Energy) yang turun 6,47%. Tekanan juga terjadi pada sektor transportasi (-5,94%) dan infrastruktur (-3,90%), mencerminkan aksi jual yang cukup merata di pasar.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah terpantau melemah dengan USD/IDR berada di level 17.731, menambah sentimen negatif bagi pasar domestik.

Pergerakan bursa Asia cenderung variatif. Mayoritas indeks utama bergerak menguat seiring penurunan harga minyak dunia. Namun, bursa Jepang dan Korea Selatan justru melemah hingga pertengahan hari perdagangan.

Dari sisi pergerakan saham, BRIS memimpin penguatan dengan kenaikan 5,00%, diikuti AMRT (+2,12%) dan ISAT (+1,30%). Sebaliknya, TPIA menjadi top laggard dengan penurunan 14,75%, diikuti CUAN (-12,00%) dan AMMN (-10,14%).

“Terkoreksinya mayoritas indeks di bursa Wall Street, berlanjutnya aksi jual investor asing dan masih tertekannya nilai tukar rupiah diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar,” ulas Tim Riset CGS International, Selasa (19/5).

Sementara itu naiknya harga mayoritas komoditas berpeluang menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan. 

“IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 6.520/6.440 dan resist 6.680/6.760,” tulis CGS.