Periskop.id - Hubungan antara dua badan tertinggi sepak bola dunia, UEFA dan FIFA, kini memasuki babak baru yang lebih harmonis. 

Melansir The Guardian pada Kamis (19/2), UEFA menyatakan kesiapannya untuk mendukung proposal ekspansi Piala Dunia Antarklub menjadi 48 tim pada edisi tahun 2029. 

Kesepakatan ini menjadi sinyal kuat membaiknya hubungan antara Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, dengan Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Sebelumnya, UEFA sangat menentang rencana pembesaran turnamen ini karena khawatir status Liga Champions sebagai kompetisi antarklub paling prestisius akan terancam. 

Namun, melalui negosiasi terbaru, UEFA bersedia memberikan dukungan dengan imbalan jaminan dari FIFA bahwa kompetisi tersebut tidak akan diadakan setiap dua tahun sekali.

Dinamika ini juga dipengaruhi oleh perubahan sikap klub raksasa Spanyol, Real Madrid. Pada Juni tahun lalu di Miami, Real Madrid sempat mengusulkan siklus dua tahunan untuk Piala Dunia Antarklub. 

Namun, usulan tersebut gagal berkembang karena penentangan keras dari UEFA dan liga domestik di seluruh Eropa.

Pekan lalu, Real Madrid membuat keputusan besar dengan secara resmi menarik diri dari proyek European Super League (ESL), sekaligus mengakhiri pertempuran hukum selama lima tahun dengan UEFA. 

Klub berjuluk Los Blancos tersebut kini tampaknya siap mengikuti jalur kebijakan yang ditentukan oleh trio pimpinan sepak bola global, yakni Gianni Infantino, Aleksander Ceferin, dan Nasser al Khelaifi. 

Nasser sendiri merupakan Presiden Paris Saint-Germain yang juga menjabat sebagai ketua European Football Clubs.

Keinginan FIFA untuk memperluas turnamen sebenarnya sudah tercium sebelum Piala Dunia Antarklub di Amerika Serikat musim panas lalu. 

FIFA berupaya menjamin partisipasi klub-klub besar Eropa yang memiliki basis penggemar luas.  Sebagai contoh, pada edisi sebelumnya, klub raksasa seperti Barcelona, Liverpool, dan Manchester United gagal lolos kualifikasi.

Dalam sidang umum European Football Clubs di Roma pada Oktober lalu, Gianni Infantino secara terbuka menyatakan bahwa ekspansi masuk dalam agenda utama. 

Ia menegaskan bahwa FIFA sedang bekerja untuk melihat bagaimana mereka bisa membuat acara ini menjadi lebih besar, lebih baik, dan memiliki dampak yang lebih luas bagi dunia sepak bola.

Meskipun UEFA telah melunak, FIFA masih harus menghadapi hambatan dari kelompok lobi European Leagues. 

Mereka sedang mengajukan tindakan hukum melalui Komisi Eropa terkait kalender pertandingan internasional yang dinilai terlalu padat, termasuk dampak dari keputusan penyelenggaraan Piala Dunia Antarklub.

Beberapa pihak di internal UEFA tetap merasa khawatir bahwa hadiah finansial yang sangat besar dari Piala Dunia Antarklub dapat mengganggu stabilitas finansial sepak bola Eropa. 

Namun, opsi ekspansi menjadi 48 tim dianggap sebagai jalan tengah yang kurang mengganggu dibandingkan jika turnamen dijadikan acara dua tahunan.

Klub-klub Eropa diprediksi akan menjadi penerima manfaat ekonomi terbesar. Jumlah tim kualifikasi dari zona UEFA kemungkinan besar akan meningkat, dari yang sebelumnya 12 tim menjadi 16 tim pada tahun 2029. 

Sebagai gambaran besarnya perputaran uang di sini, Chelsea berhasil meraih dana sebesar 85 juta Poundsterling dari total hadiah kompetisi sebesar 774 juta poundsterling setelah memenangkan turnamen tahun lalu. 

Penambahan jumlah tim ini dipastikan akan berdampak pada keseimbangan kompetitif di Liga Champions.

Membaiknya hubungan ini sangat kontras jika dibandingkan dengan momen tahun lalu. Hubungan Ceferin dan Infantino sempat mencapai titik terendah ketika delegasi Eropa melakukan aksi keluar (walk out) pada kongres FIFA di Paraguai. 

Aksi tersebut merupakan bentuk protes atas keterlambatan Infantino yang saat itu sedang melakukan tur diplomatik di Timur Tengah bersama Donald Trump dan Mohammed bin Salman.

Mengingat Ceferin dan Infantino kemungkinan besar akan mencalonkan diri kembali untuk masa jabatan keempat mereka pada tahun depan, sumber internal menyebutkan bahwa periode ketenangan dan kerja sama ini adalah kepentingan politik keduanya demi mengamankan kursi kepemimpinan masing-masing.