Periskop.id - Tiga belas federasi sepak bola dari Afrika, Karibia, Asia Tengah, dan kawasan lain mengecam komentar Presiden UEFA Aleksander Ceferin terkait format baru Piala Dunia. Mereka menilai pernyataan yang meremehkan sebagian pertandingan dalam format Piala Dunia yang diperluas, tidak menghargai perjuangan negara-negara yang lolos ke turnamen terbesar sepak bola dunia tersebut.
Pernyataan bersama itu ditandatangani oleh federasi sepak bola Senegal, Tanjung Verde, Curacao, Uzbekistan, Kongo, Haiti, Aljazair, Tunisia, Maroko, Mesir, Ghana, Pantai Gading, dan Afrika Selatan. Sikap tersebut muncul setelah Ceferin disebut mengkritik format baru Piala Dunia dan menilai banyak laga kualifikasi atau pertandingan dari format perluasan tidak menarik.
"Bagi negara-negara kami, tidak ada pertandingan Piala Dunia FIFA yang tidak penting. Lolos ke Piala Dunia FIFA merupakan pencapaian bersejarah dan perwujudan mimpi yang diwariskan dari generasi ke generasi,” demikian bunyi pernyataan bersama tersebut melalui akun X Federasi Sepak Bola Maroko, Senin (15/6).
Bagi para federasi tersebut, Piala Dunia bukan hanya arena olahraga. Lolos ke turnamen itu merupakan momen sejarah, sumber kebanggaan nasional, dan simbol keberhasilan pembangunan sepak bola selama bertahun-tahun.
Mereka menilai anggapan sebagian pertandingan kurang penting telah mengabaikan pengorbanan pemain, pelatih, klub, pengurus sepak bola, dan jutaan suporter di banyak negara. Di balik setiap keberhasilan lolos ke Piala Dunia, ada proses panjang yang melibatkan investasi, perencanaan, pembinaan usia muda, dan dukungan publik.
Koalisi federasi itu juga menekankan, sepak bola adalah olahraga global yang tidak boleh dimonopoli oleh sudut pandang segelintir negara besar. Piala Dunia dinilai besar justru karena mempertemukan banyak cerita, budaya, dan perjalanan sepak bola yang berbeda.
“Piala Dunia FIFA adalah kompetisi sepak bola terbesar di dunia justru karena mempertemukan budaya, sejarah, dan perjalanan sepak bola yang berbeda-beda,” tulis mereka, seraya menyatakan tampil dalam Piala Dunia sering kali memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar pencapaian olahraga.
Kesempatan Besar Menembus Piala Dunia
Pernyataan itu menjadi respons keras terhadap perdebatan lama mengenai perluasan Piala Dunia. FIFA mulai menerapkan format 48 tim pada Piala Dunia 2026, naik dari 32 tim pada edisi-edisi sebelumnya. Format baru ini membuat lebih banyak negara dari berbagai konfederasi mendapat kesempatan tampil di putaran final.
Bagi negara-negara yang selama ini jarang menembus Piala Dunia, perluasan tersebut dianggap sebagai kesempatan besar. Tampil di panggung global dapat menginspirasi generasi muda, mempercepat perkembangan liga domestik, menarik sponsor, memperkuat infrastruktur sepak bola, dan meningkatkan perhatian publik terhadap tim nasional.
Karena itu, kritik terhadap format baru Piala Dunia dinilai sensitif. Dari sudut pandang negara-negara berkembang sepak bola, pertandingan melawan tim mana pun tetap bernilai karena membawa mimpi seluruh bangsa.
Federasi-federasi tersebut menyebut setiap tim nasional yang lolos telah mendapatkan tempatnya melalui prestasi. Mereka menolak anggapan bahwa kehadiran negara-negara nonelite akan menurunkan kualitas atau daya tarik Piala Dunia.
“Setiap negara yang lolos pantas mendapatkan rasa hormat. Setiap tim lolos berdasarkan prestasi. Setiap pertandingan memiliki arti,” tegas mereka.
Pernyataan bersama itu juga mencerminkan perbedaan kepentingan antara konfederasi besar dan negara-negara yang diuntungkan oleh perluasan turnamen. UEFA sebagai konfederasi Eropa memiliki banyak tim kuat dan tradisi kompetisi tinggi. Namun, negara-negara dari Afrika, Asia, Karibia, dan kawasan lain melihat perluasan sebagai ruang pemerataan yang selama ini sulit didapat.
Dalam format 48 tim, Piala Dunia 2026 menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah. Turnamen ini digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dengan 104 pertandingan. Peserta dibagi ke dalam 12 grup berisi empat tim, lalu 32 tim melaju ke fase gugur.
Perubahan ini membuat jumlah pertandingan bertambah dan memperluas partisipasi global. Namun, konsekuensinya juga memunculkan kritik, terutama dari pihak yang menilai kualitas kompetisi bisa menurun atau jumlah laga terlalu banyak.
Ceferin sendiri dalam beberapa tahun terakhir kerap mengambil posisi kritis terhadap sejumlah gagasan FIFA terkait Piala Dunia. UEFA sebelumnya juga pernah menolak keras wacana Piala Dunia dua tahunan karena dinilai dapat merusak kalender sepak bola dan mengurangi keistimewaan turnamen.
Beberapa waktu lalu, Ceferin mendesak FIFA membatalkan rencana menggelar Piala Dunia setiap dua tahun sekali. Ia menilai turnamen empat tahunan memiliki nilai istimewa karena jarang digelar. “Piala Dunia dua tahunan tidak cocok untuk semua orang di sepak bola," serunya kala itu
Ceferin juga pernah menyampaikan, UEFA tidak tertarik berkompromi atas wacana tersebut. Sikap kritis UEFA terhadap ekspansi agenda FIFA ini memperlihatkan ketegangan lama antara kepentingan sepak bola Eropa dan proyek global FIFA.
Politik Sepak Bola Global
Namun, dalam kasus terbaru terkait komentar soal format baru Piala Dunia, sejumlah laporan internasional menyebut UEFA membantah Ceferin membuat pernyataan yang meremehkan pertandingan Piala Dunia. Meski demikian, respons 13 federasi tetap menunjukkan, isu perluasan Piala Dunia telah menjadi titik rawan dalam politik sepak bola global.
Bagi federasi yang menandatangani pernyataan bersama, inti persoalannya bukan hanya apakah komentar itu benar-benar diucapkan atau tidak. Yang lebih penting adalah cara memandang negara-negara peserta baru atau negara yang tidak masuk kelompok elite sepak bola dunia.
Mereka ingin menegaskan, Piala Dunia bukan hanya milik negara besar. Setiap negara yang lolos membawa cerita dan perjuangan masing-masing. Bahkan bagi sebagian negara, satu pertandingan di Piala Dunia dapat menjadi momen yang dikenang selama puluhan tahun.
Contohnya, negara-negara yang baru pertama kali lolos ke putaran final biasanya mengalami lonjakan perhatian publik. Anak-anak muda mulai menjadikan sepak bola sebagai mimpi yang lebih nyata. Pemerintah dan federasi juga terdorong memperbaiki pembinaan, kompetisi domestik, dan fasilitas latihan.
Karena itu, klaim, sebagian laga tidak menarik dinilai tidak adil jika hanya dilihat dari ukuran pasar televisi, popularitas pemain, atau kekuatan tradisional. Bagi masyarakat di negara yang baru lolos, pertandingan tersebut dapat menjadi salah satu peristiwa olahraga paling penting dalam sejarah mereka.
Kritik 13 federasi tersebut juga membawa pesan, globalisasi sepak bola harus berjalan lebih inklusif. Jika FIFA ingin menjadikan Piala Dunia sebagai panggung seluruh dunia, maka partisipasi negara-negara baru perlu dihormati, bukan dipandang sebagai beban kualitas.
Di sisi lain, perdebatan soal kualitas turnamen tetap akan terus muncul. Format yang lebih besar menuntut penyelenggara memastikan jadwal, kualitas pertandingan, pemulihan pemain, distribusi perjalanan, dan pengalaman penonton tetap terjaga. Dengan 104 pertandingan, tantangan logistik dan kompetitif Piala Dunia 2026 jelas lebih besar dibandingkan edisi sebelumnya.
Namun, bagi 13 federasi tersebut, perluasan Piala Dunia tidak bisa hanya dinilai dari jumlah pertandingan. Ukurannya juga harus mencakup dampak sosial, kebanggaan nasional, pembangunan sepak bola, dan kesempatan bagi negara-negara yang selama ini berada di luar sorotan utama.
Pernyataan bersama itu menutup ruang kompromi dalam satu hal: setiap negara yang lolos harus dihormati. Mereka menegaskan, tidak ada pertandingan Piala Dunia yang boleh dianggap tidak penting karena setiap laga membawa harapan jutaan orang.
Dengan demikian, polemik ini memperlihatkan, format baru Piala Dunia bukan sekadar urusan teknis turnamen. Ini adalah perdebatan tentang siapa yang berhak tampil, siapa yang berhak dianggap penting, dan bagaimana sepak bola global seharusnya memberi ruang bagi lebih banyak bangsa untuk bermimpi.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar