Periskop.id - Tanjung Verde menjadi salah satu cerita paling menarik di Piala Dunia 2026. Negara kepulauan kecil di pesisir barat Afrika itu untuk pertama kalinya tampil di putaran final Piala Dunia FIFA, lalu langsung mencuri perhatian setelah mampu menahan tim-tim besar di Grup H.

Bagi sebagian penonton, nama Tanjung Verde mungkin belum sepopuler Brasil, Spanyol, Argentina, atau Uruguay. Namun, kehadiran The Blue Sharks di Piala Dunia 2026 bukan datang secara kebetulan. Mereka lolos setelah melalui kampanye kualifikasi panjang, disiplin, dan konsisten.

Advertisement

Negara dengan jumlah penduduk sekitar setengah juta orang itu menjadi salah satu peserta terkecil dalam sejarah Piala Dunia. Dengan luas daratan sekitar 4.000 kilometer persegi, kelolosan Tanjung Verde menjadi pencapaian besar, bukan hanya untuk sepak bola nasional mereka, tetapi juga untuk sepak bola Afrika.

Tanjung Verde memastikan tiket Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Eswatini 3-0 pada laga terakhir kualifikasi zona Afrika di Praia. Hasil itu membuat mereka memuncaki grup dan finis di atas tim-tim yang secara historis lebih mapan, termasuk Kamerun dan Angola.

Kekuatan utama Tanjung Verde dalam kualifikasi adalah performa kandang. Mereka mampu meraih kemenangan demi kemenangan di Praia dan menjaga pertahanan tetap solid. Catatan kandang tanpa kebobolan menjadi salah satu fondasi penting keberhasilan mereka melangkah ke panggung dunia.

Kelolosan ini terasa semakin bersejarah karena Tanjung Verde baru merdeka pada 1975. Tim nasional mereka mulai terbentuk beberapa tahun kemudian, lalu perlahan membangun identitas sepak bola sendiri. Federasi sepak perlahan membangun bola Tanjung Verde berdiri pada 1982 dan menjadi anggota FIFA pada 1986.

Dalam perjalanan panjang itu, Tanjung Verde tidak langsung menjadi kekuatan besar. Mereka pernah menghadapi keterbatasan fasilitas, pendanaan, pengalaman internasional, dan tantangan logistik sebagai negara kepulauan. Namun, justru dari keterbatasan itu muncul budaya sepak bola yang kuat dan sangat kolektif.

Bubista Menjadi Figur Sentral 

Pelatih Pedro Leitao Brito atau Bubista menjadi figur sentral dalam transformasi tersebut. Mantan bek dan kapten tim nasional itu mengambil alih kursi pelatih kepala pada 2020. Sejak saat itu, ia membangun tim yang sulit dikalahkan, disiplin secara taktik, dan berbahaya ketika melakukan transisi serangan.

Bubista memahami betul perjalanan sepak bola Tanjung Verde karena ia pernah merasakannya sebagai pemain. Dalam wawancara dengan FIFA, ia mengenang masa ketika tim nasional masih menghadapi keterbatasan sangat mendasar.

“Kami bahkan tidak punya perlengkapan yang layak untuk dipakai,” kenang Bubista.

Dua dekade kemudian, Bubista membawa negaranya ke Piala Dunia untuk pertama kalinya. Ia menyebut keberhasilan itu sebagai kemenangan untuk seluruh rakyat Tanjung Verde, termasuk diaspora yang tersebar di berbagai negara.

“Ini kemenangan untuk rakyat Tanjung Verde, untuk mereka yang berada di sini dan mereka yang berada di luar negeri. Ini juga kemenangan untuk persatuan,” kata Bubista.

 

Pelatih Tanjung Verde Pedro Leitao Brito, yang lebih dikenal sebagai Bubista
Pelatih Tanjung Verde Pedro Leitao Brito, yang lebih dikenal sebagai Bubista, identik dengan kepemimpinan dalam sepak bola Tanjung Verde. dok FIFA

 

“Kami punya pemain-pemain hebat. Tetapi kami tidak akan berada di sini jika bukan karena sejarah kami, masa lalu kami. Jalan kami membawa kami ke tempat kami berada hari ini. Jadi, kemenangan ini juga milik semua orang yang melakukan bagiannya dan membantu kami. Dalam hal organisasi, federasi telah melakukan pekerjaan yang baik untuk semua orang. Ketika semuanya berjalan harmonis, para pemain bersatu. Semua itu membantu kami sampai ke momen ini,” ujarnya.

Piala Dunia 2026 yang diperluas menjadi 48 tim ikut membuka peluang bagi negara-negara kecil seperti Tanjung Verde. Namun, peluang itu tidak otomatis berubah menjadi tiket. Mereka tetap harus melewati kualifikasi yang panjang dan menuntut konsistensi.

Bubista tidak menutupi bahwa format baru memberi harapan lebih besar bagi tim-tim kecil. Afrika kini memiliki sembilan tiket langsung, ditambah peluang tiket tambahan melalui playoff antarkonfederasi.

“Saya selalu mengatakan, dan saya sudah pernah punya kesempatan menyampaikannya di sebuah konferensi CAF, bahwa jika ada lebih banyak tempat, negara-negara kecil akan punya peluang lebih besar untuk bertarung,” kata Bubista.

“Bukan hanya kami. Ada negara-negara lain di berbagai belahan dunia yang juga berjuang untuk mendapatkan tempat,” ujarnya.

Menurut Bubista, perubahan jumlah slot membuat Tanjung Verde berani menetapkan target lebih tinggi.

“Dan memiliki sembilan tempat membuka peluang. Sebelumnya, ketika Anda menjalani kualifikasi, Anda bisa finis di posisi pertama dan masih harus memainkan playoff. Itu dua pertandingan, yang sangat berat bagi negara-negara kecil. Sejak kami tahu bahwa sembilan tim akan lolos, kami berkata kepada diri sendiri bahwa kami harus menjadi salah satu dari sembilan tim itu. Dan kami ada di sini,” bebernya. 

Peran Diaspora

Keberhasilan Tanjung Verde juga tidak bisa dilepaskan dari peran diaspora. Banyak pemain mereka tumbuh dan berkarier di luar negeri, terutama di Portugal, Prancis, Belanda, Irlandia, dan negara-negara Eropa lainnya. Namun, mereka tetap membawa identitas Tanjung Verde ke lapangan.

Roberto Lopes menjadi contoh menarik. Bek kelahiran Irlandia yang memiliki darah Tanjung Verde itu menjadi salah satu figur penting di lini belakang. Ia menyebut pengalaman membela tim nasional mengubah karier dan hidupnya.

“Dengan kampanye Piala Dunia pertama, itu masih format lama ketika hanya lima tim yang bisa lolos. Maksud saya, saya sudah pernah gagal mendapatkan tempat playoff karena Nigeria, tetapi saya pikir setelah dua penampilan kami di Piala Afrika, kami mendapatkan kepercayaan diri bahwa kami bisa bersaing dengan tim-tim terbaik. Jadi, kami tidak takut siapa pun yang ada di grup kami,” kata Roberto Lopes.

“Anda bisa mengatakan karier saya benar-benar melesat. Bisa menguji diri melawan pemain-pemain terbaik di dunia, membawa kembali pengetahuan itu ke tim, dan mencoba meningkatkan diri setiap hari. Itu membuat saya menjadi pemain yang lebih baik, membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik, dan saya mengalami hal-hal yang sebelumnya tidak akan pernah saya alami dalam hidup,” ujarnya.

Di Piala Dunia 2026, Tanjung Verde langsung membuktikan bahwa mereka bukan sekadar peserta pelengkap. Pada laga pembuka Grup H, mereka menahan Spanyol 0-0. Hasil itu mengejutkan banyak pihak karena Spanyol datang sebagai juara Eropa dan salah satu kandidat kuat.

Pertahanan Tanjung Verde tampil sangat rapi. Mereka memang banyak ditekan, tetapi tetap menjaga jarak antarlini, memblok jalur umpan, dan memaksa Spanyol frustrasi. Kiper veteran Vozinha menjadi salah satu tokoh utama karena menggagalkan sejumlah peluang berbahaya.

Bubista menilai timnya tidak harus menguasai bola untuk bisa mengontrol pertandingan. Menurut dia, sepak bola modern memberi ruang bagi tim kecil untuk bertahan dengan cerdas dan menyerang pada momen yang tepat.

“Tentu, kita bisa mengatakan Spanyol menguasai bola hampir sepanjang waktu, tetapi mengontrol pertandingan bukan hanya soal penguasaan bola,” kata Bubista.

“Kami melakukannya dengan cara yang berbeda. Tentu saja kami ingin punya lebih banyak transisi untuk menyerang, tetapi tim Spanyol sangat sulit dihadapi, jadi kami senang dengan ini. Tim-tim sekarang unggul dalam organisasi pertahanan dan di Piala Dunia, secara statistik, tim bisa memenangkan pertandingan lewat bola transisi atau bola mati. Jadi, kami harus mempersiapkan diri dengan cara itu,” ujarnya.

Bubista juga menegaskan, Tanjung Verde ingin menunjukkan wajah negaranya kepada dunia. Bukan hanya soal hasil, tetapi juga tentang identitas, keberanian, dan daya tahan.

“Kami selalu mengatakan bahwa kami ingin semua orang melihat negara kami, tim kami,” kata Bubista.

“Kami telah menunjukkan organisasi dan keberanian, dan ini adalah bukti tentang seperti apa negara kami, tentang ketangguhan dan upaya mengatasi kesulitan. Sebelum datang ke sini, saya mengatakan bahwa tujuan kami adalah bersaing di level tertinggi. Kami pasti akan menghadapi kesulitan, kami tahu itu. Tetapi kami akan melakukan yang terbaik untuk mengatasi rintangan,” ujarnya.

Tak Hanya Spanyol, Uruguay juga Ditahan Imbang

Setelah menahan Spanyol, Tanjung Verde kembali mencuri poin saat menghadapi Uruguay. Mereka bermain imbang 2-2 dalam laga Grup H yang berlangsung sengit. Kevin Pina mencetak gol pertama Tanjung Verde di putaran final Piala Dunia lewat tendangan bebas jarak jauh, sebelum Helio Varela menyamakan kedudukan pada babak kedua.

Dua hasil imbang melawan Spanyol dan Uruguay membuat Tanjung Verde menjadi cerita kejutan Grup H. Mereka belum menang, tetapi juga belum kalah. Bagi tim debutan, catatan itu sudah cukup menunjukkan bahwa mereka layak berada di panggung dunia.

Salah satu simbol penting dari kisah ini adalah Vozinha. Kiper berusia 40 tahun tersebut tampil gemilang melawan Spanyol dan menjadi wajah ketangguhan Tanjung Verde. Kisah pribadinya juga menyentuh publik setelah sang ibu sempat gagal menyaksikan laga debut karena persoalan visa, sebelum akhirnya dibantu agar bisa hadir pada pertandingan berikutnya.

Vozinha bukan sekadar penjaga gawang tua yang bertahan di level internasional. Ia menjadi simbol loyalitas, pengalaman, dan rasa percaya diri tim kecil yang tidak gentar menghadapi nama besar.

Dari sisi taktik, Tanjung Verde dibangun dengan prinsip sederhana tetapi efektif: pertahanan rapat, disiplin posisi, transisi cepat, serta pemanfaatan bola mati. Mereka tidak memaksakan diri bermain seperti tim-tim besar Eropa. Sebaliknya, mereka memaksimalkan kekuatan yang paling sesuai dengan profil pemainnya.

Pendekatan itu membuat Tanjung Verde sulit dikalahkan. Spanyol gagal menembus blok pertahanan mereka. Uruguay yang lebih berpengalaman juga dipaksa bekerja keras dan akhirnya harus puas berbagi poin.

FIFA Forward

Di balik keberhasilan ini, ada pula peran pengembangan sepak bola yang lebih terstruktur. FIFA mencatat program FIFA Forward ikut membantu sejumlah proyek di Tanjung Verde, termasuk operasional tim nasional, pembangunan lapangan sintetis, renovasi stadion, serta peningkatan pusat pelatihan dan kantor federasi.

Deputy Chief Member Associations Officer/Regional Director Africa FIFA, Gelson Fernandes, menilai Tanjung Verde menjadi contoh nyata bagaimana dukungan pengembangan bisa membantu federasi kecil bersaing di level lebih tinggi.

“Ini adalah contoh nyata dari federasi yang sebelumnya tidak memiliki dukungan finansial sama sekali, atau sangat sedikit, dan sekarang bisa bersaing di level tertinggi dengan uang yang kami berikan dari program-program kami,” kata Gelson Fernandes.

“Perjalanan, akomodasi, staf, material, semuanya membutuhkan uang. Dua puluh tahun lalu, mereka bermain dua atau tiga pertandingan setahun dan itu tidak cukup. Sekarang mereka bermain secara konstan, mereka siap. Itu bagus,” ujarnya.

Bagi Tanjung Verde, Piala Dunia 2026 bukan hanya pencapaian olahraga. Ini juga proyek identitas nasional. Sepak bola menyatukan warga di kepulauan, diaspora di Eropa, Afrika, dan Amerika, serta generasi pemain yang tumbuh dalam sistem berbeda tetapi membawa bendera yang sama.

Bubista menyebut keberhasilan ke Piala Dunia mengangkat kepercayaan diri negaranya.

“Ini kemenangan yang akan mengangkat harga diri kami,” kata Bubista.

“Kami tahu kami masih menghadapi banyak kesulitan di sini. Kami negara kecil, tetapi kami hanya kecil di peta. Negara kecil dengan hati besar,” ujarnya.

Kini, tantangan Tanjung Verde belum selesai. Mereka masih harus menjaga peluang lolos dari Grup H. Setelah menahan Spanyol dan Uruguay, laga melawan Arab Saudi akan menjadi ujian penting untuk menentukan nasib mereka.

Namun, apa pun hasil akhirnya, Tanjung Verde sudah meninggalkan jejak kuat di Piala Dunia 2026. Mereka datang sebagai debutan, tetapi tampil seperti tim yang paham betul bagaimana bertahan, bersaing, dan membuat lawan besar tidak nyaman.

Kisah mereka menunjukkan, Piala Dunia bukan hanya panggung negara raksasa. Di balik turnamen ini, ada ruang bagi negara kecil yang bekerja rapi, membangun proyek jangka panjang, dan percaya bahwa keberanian bisa mengimbangi perbedaan nama besar.

Tanjung Verde mungkin kecil di peta, tetapi di Piala Dunia 2026, mereka sedang membuktikan diri sebagai salah satu kisah terbesar.