periskop.id - Pernahkah kalian melihat laki-laki yang super peka, hangat, dan menyenangkan untuk diajak curhat, justru dibilang terlalu feminin? Atau sebaliknya, ada perempuan yang tegas, logis, dan sat-set banget jadi pemimpin, tetapi dibilang bossy atau maskulin?
Sejujurnya, stigma seperti ini kerap membuat kita bingung.
Banyak yang mengira kalau feminine energy itu cuma milik perempuan dan masculine energy itu hak paten laki-laki. Padahal, kalau kita bedah menggunakan kacamata sains dan psikologi, konsep ini jauh lebih luas dari sekadar hubungannya dengan jenis kelamin, lho.
Ini bukan soal perempuan harus pakai dress dan laki-laki harus kekar. Ini soal keseimbangan jiwa dan karakter. Yuk, kita luruskan mitos ini pakai fakta ilmiah, biar wawasan kita makin upgrade!
Psikologi Membuktikan, Sifat Maskulin dan Feminin Ada di Dalam Kita Semua
Supaya tak hanya bersifat asumsi, kita mundur dulu ke tahun 1974. Ada seorang psikolog bernama Sandra Bem yang merilis penelitian legendaris bernama Bem Sex-Role Inventory (BSRI).
Penelitian ini sangat revolusioner pada zamannya. Bem membagi sifat manusia jadi dua kelompok, yakni:
- Feminine traits: empati, kelembutan, kehangatan, peka dengan perasaan orang.
- Masculine traits: tegas, logis, dominan, mandiri.
Fakta mengejutkannya, penelitian Bem membuktikan kalau setiap manusia, baik perempuan atau laki-laki punya kedua sisi ini. Jadi, laki-laki bisa punya feminine traits yang tinggi dan itu wajar, begitu juga sebaliknya untuk perempuan.
Kita tak harus memilih salah satu, Girls! Justru, mental yang paling sehat adalah yang bisa menyeimbangkan keduanya yang disebut dengan androgynous.
Meluruskan Stigma Gender dengan Fakta
Banyak orang masih terpaku pada pembagian kaku soal sifat maskulin dan feminin, seolah keduanya sudah pasti melekat pada jenis kelamin tertentu. Padahal, dalam psikologi modern, identitas gender sebagai perempuan atau laki-laki berdiri terpisah dari cara seseorang mengekspresikan dirinya sehari-hari.
Di dunia psikologi modern, ada perbedaan tegas antara identitas gender (biologis kita sebagai perempuan) dan ekspresi gender (cara kita berinteraksi).
Menurut American Psychological Association (APA), apa yang sering kita sebut sebagai energi maskulin atau feminin ini sebenarnya masuk dalam kategori ekspresi gender. Jadi, mengekspresikan sisi feminin, seperti berempati atau lemah lembut, tak akan mengubah jati diri atau identitas seorang laki-laki. Itu dua hal yang berbeda, Girls!
Riset dari University of Cambridge juga mendukung hal ini. Mereka menemukan bahwa empati, salah satu ciri utama feminine energy itu tak mutlak ditentukan oleh gender. Laki-laki bisa sangat empatik dan perempuan bisa sangat sistematis.
Feminine Energy = High-Value Soft Skills
Secara umum, kalau dengar kata "energy", mungkin yang terbayang di kepala kita adalah sesi meditasi, kristal, atau hal-hal yang berbau spiritual dan witchy. Rasanya, seperti tak relevan kalau dibawa ke meja kerja atau boardroom, kan?
Tapi, tunggu dulu, Girls. Kalau kita melihatnya dari sudut pandang lain, misalnya sudut pandang karier, feminine energy ini sebenarnya adalah soft skills yang sangat dicari di pasar kerja global!
Mari kita terjemahkan bahasa "energy" ini ke dalam bahasa Human Resources Development (HRD) dan manajemen profesional:
- Intuitif. Di dunia bisnis, ini disebut intuitive decision-making. Ini bukan tebak-tebakan klenik, melainkan kemampuan canggih otak untuk membaca ribuan pola data di alam bawah sadar. Para Chief Executive Officer (CEO) top sering memakai ini untuk mengambil keputusan cepat saat data logis belum lengkap.
- Reseptif (menerima). Jangan anggap ini pasif! Di LinkedIn, ini adalah openness to experience. Karyawan yang punya skill ini adalah mereka yang paling inovatif, coachable, dan nggak defensif saat dikasih feedback.
- Empati. Dulu dianggap kelemahan, sekarang ini adalah rajanya skill, yaitu emotional intelligence. Di era Artificial Intelligence (AI), kemampuan memahami emosi tim dan klien adalah satu-satunya hal yang nggak bisa digantikan robot.
- Mengalir. Di dunia yang serba chaos ini, sifat mengalir adalah adaptability. Ini kemampuan bermanuver lincah saat rencana pertama gagal total, bukannya patah karena terlalu kaku.
Sifat-sifat yang selama ini sering dibilang "terlalu feminin" atau "lembek" ini justru adalah kualitas emas seorang leader masa kini.
Rahasia 85% Kesuksesan yang Sering Diremehkan
Kita hidup di zaman yang seru banget, Girls. Riset dari Pew Research Center membuktikan kalau generasi Z dan Milenial kini melihat maskulinitas dan femininitas sebagai spektrum yang luas, bukan lagi kotak kaku yang membatasi kita.
Sebuah studi legendaris dari Harvard University dan Carnegie Foundation mengungkap fakta gila. Ternyata, sebesar 85% kesuksesan karier seseorang itu ditentukan oleh soft skills, seperti empati, komunikasi, dan kepekaan rasa, sementara kemampuan teknis atau hard skills hanya menyumbang sebesar 15%.
Artinya, sifat-sifat energi feminin, seperti kemampuan untuk mendengar, merasa, dan berempati adalah superpower sesungguhnya di dunia kerja. Jadi, jangan pernah merasa lemah cuma karena kalian perasa, ya. Justru, itulah magnet kesuksesan kalian!
Tinggalkan Komentar
Komentar