periskop.id - Di sebuah kedai kopi yang menjadi basecamp mahasiswa berlatar belakang pers kampus di Semarang, Ruhaeni Intan (31) atau akrab disapa Intan, pernah terdiam di tengah kepulan asap rokok dan debat kusir yang riuh. Saat itu jam menunjukkan pukul satu dini hari. Ia memandang sekeliling dan menyadari sebuah pola yang menyesakkan: hampir semua meja diisi oleh laki-laki.
Kegelisahan itu ia tuangkan dalam sebuah unggahan di media sosial: "Coba ya seandainya meja-meja ini diisi oleh perempuan-perempuan gitu, terus kita berdiskursus bersama." Saat itu, Intan mengaku belum paham betul soal feminisme, tetapi ia tahu ada yang salah.
“Dan itu aku masih belum paham soal feminisme, soal apa ya masih belum punya pemahaman yang komprehensif gitulah tentang bahwa sebenarnya memang ada masalah besar,” kata Intan, kepada Periskop.id, Selasa (21/4).
Dalam rangka memperingati Hari Kartini 2026, Intan berbagi kisah panjangnya tentang bagaimana ia mendobrak sekat-sekat maskulinitas, mulai dari ruang Pers Mahasiswa (Persma) hingga menjadi penulis yang konsisten mengawal isu gender.
Lahir di Pati dengan latar belakang keluarga yang jauh dari dunia sastra, ibunya seorang guru SMK dan ayahnya sales buku di Intan Pariwara, Intan memulai persentuhannya dengan jurnalistik melalui LPM Dimensi di Politeknik Negeri Semarang. Di sanalah mata batinnya terbuka melihat ketimpangan posisi.
“Sebenarnya banyak kalau perempuannya, tapi dia tidak menduduki posisi yang berhubungan dengan wacana, diskursus, redaksi. Mereka tidak berpendapat di situ, tapi lebih ke kerja-kerja perawatan, misal bikin event atau programnya. Itu sama-sama pekerjaan, tapi yang satu kerja perawatan, yang satu kerja intelektual,” kenang Intan.
Pertanyaan "Kenapa ya?" terus membekas. Baginya, ada sifat struktural yang seolah mematri perempuan agar tetap berada di balik layar dan tidak boleh menyentuh ranah strategis. Sensitivitas ini kian terasah saat ia terjun ke dunia profesional di Yogyakarta, terutama ketika ia bekerja sebagai penulis di NGO (Perkumpulan Samsara) yang fokus pada Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR). Di sana, setiap tulisannya selalu "di-challenge" oleh kerangka berpikir yang adil gender.
“Nah aku waktu itu cukup punya privilege dari NGO tentang HKSR ini yang ngasih pelatihan kalau kerangkanya tuh kayak gini, kalau kamu mau nulis topik yang bersinggungan sama perempuan apa, dan itu bisa luas banget jadi bisa topik apa pun. Itu maksudnya nggak cuma HKSR tapi bisa diterapkan, nggak cuma ketika ketika kita menulis soal HKSR gitu, nulis apa pun yang nanti misal kamu kaitkan soal perempuan tuh ada ada perspektifnya sendiri yang bisa dipakai gitu 'Oh begitu',” jelas Intan.
Bagi Intan, label "penulis perempuan" atau "sastra perempuan" adalah diskursus sering kali terpolarisasi antara yang menganggapnya mengotak-ngotakkan kreativitas dan membantu posisi tawar. Intan sendiri melihat pelabelan ini secara dinamis dan cair (fluid).
“Kalau menurutku, kotak-kotak ini dalam kasus-kasus tertentu itu diperlukan sih, tapi dia sifatnya fluid gitu, cair. Maksudnya adalah apa yang membedakan penulis perempuan dan penulis laki-laki? Beda banget, beda sekali sebenarnya. Perbedaan ini mempengaruhi kemudian gimana tulisan itu, hasil daripada tulisan itu, dan gimana tulisan itu beredar,” ujar Intan.
“Kenapa penting untuk menilai tulisan ini tuh datang dari penulis laki-laki atau penulis perempuan? Maksudnya berarti identitas gender mereka tuh hadir dalam tulisan itu karena perempuan punya kita tahulah ya kalau misalkan ya kenapa kemudian kita merayakan Hari Kartini itu kan juga karena kita meng-acknowledge bahwa struggle yang dihadapi sama perempuan itu emang beda gitu,” urai dia.
Intan menekankan, identitas gender harus tetap dihadirkan dalam tulisan karena pengalaman sejarah dan perjuangan perempuan yang dimulai bahkan sebelum lahir hingga masa tua. Hal ini menciptakan sensitivitas dan kepekaan yang hanya bisa dirasakan dan dilihat oleh perempuan itu sendiri.
“Penting untuk menghadirkan identitasnya. Karena mau bagaimanapun yang merasakan dan melihat kepekaan itu ya perempuan sendiri. Menariknya, bahkan jika tema yang ditulis tidak ada hubungannya dengan soal perempuan, identitas penulis tetap penting dihadirkan,” jelas dia.
Intan memberikan contoh konkret pada ranah kritik sastra. Menurutnya, sebuah kritik atas novel perempuan yang ditulis oleh kritikus laki-laki akan menghasilkan narasi yang kontras dibandingkan jika ditulis oleh kritikus perempuan seperti Dianita Kusuma Pertiwi.
Kesadaran inilah yang mendorong Intan membentuk kolektif Perkawanan Perempuan Menulis, sebuah aliansi enam penulis perempuan dari Aceh hingga Maluku untuk belajar bersama dan menyuarakan keresahan kolektif.
Di usianya yang kini 31 tahun, Intan memilih strategi resiliensi melalui dialog. Ia belajar untuk tidak lagi berapi-api seperti saat kuliah, tetapi belajar menerima kekalahan jika keputusannya di meja redaksi tidak memuaskan.
“Aku menyadari kalau ketimpangan yang kita alami tuh akan terus terjadi sampai nanti kita tua, sampai kita dikubur. Ada film India yang bilang kalau nanti dikubur tolong ikat kakinya karena mayat pun nggak lolos dari laki-laki. Itu bikin aku sadar aku butuh strategi... supaya resiliens-nya terbentuk bukan saat kejadian itu saja, tapi setelahnya buat lama,” ungkapnya.
Baginya, dialog dengan diri sendiri sangat membantu untuk meredam frustrasi dan rasa bersalah saat tidak bisa berkontribusi di semua kasus kekerasan seksual dalam lingkaran sastra.
Sebagai pembaca, Intan sangat mengagumi penulis Korea pemenang Nobel, Han Kang. Melalui novel The Vegetarian, Intan melihat bagaimana keputusan domestik seorang perempuan untuk berhenti makan daging bisa menggoyahkan status sosialnya sebagai istri dan anak.
Namun, referensi utamanya tetaplah RA Kartini. Intan menyayangkan banyak orang tahu nama Kartini tapi tidak membaca tulisannya. Saat membaca surat-surat Kartini, Intan terkesima pada pemikiran Kartini saat pertama kali naik kereta api jurusan Semarang-Rembang.
“Dia menuliskan kompleksitas perasaannya naik kereta. ‘Aku tidak akan pernah bisa naik kereta ini kalau aku bukan anaknya Bupati’. Dia merasa perempuan disisihkan dalam teknologi. Pengetahuan dia sangat luas, dia berpikir peradaban maju gara-gara kereta api, tapi perempuan nggak diizinkan di situ,” papar Intan.
Jika Kartini masih hidup hari ini, Intan ingin membicarakan hal-hal "remeh-temeh" yang dulu menjadi mimpi mustahil bagi sang pahlawan.
“Aku ingin bilang: ‘Woy, kita sekarang udah boleh naik kereta!’. Dan lu tahu nggak sih, di kereta sekarang udah ada SOP-nya kalau orang rese bisa kita laporin. Sekarang perempuan sudah punya tempat dan ruang buat bersuara,” pungkas Intan sembari mengajak perempuan Indonesia untuk terus terbang tinggi dan membawa Indonesia semakin maju.
Tinggalkan Komentar
Komentar