periskop.id - Kecemasan dan stres adalah masalah kesehatan mental yang sering dialami banyak orang. Kondisi ini bisa muncul akibat berbagai faktor dan setiap orang meresponsnya dengan cara yang berbeda. Namun, beberapa pendapat mengatakan kalau perempuan cenderung lebih rentan mengalami kecemasan dan stres dibandingkan laki-laki.

Ketua Program Studi Pendidikan Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa FKKMK UGM, dr. Ronny Tri Wirasto, Sp.KJ., yang dikutip dari laman UGM, menjelaskan bahwa sebenarnya perempuan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengendalikan stres. Hal ini dipengaruhi oleh tingginya kadar hormon estrogen yang berperan membantu melindungi otak dari dampak negatif stres.

Di balik kemampuannya mengelola stres, perempuan tetap memiliki kerentanan lebih besar terhadap stres emosional. Menurut Ronny, kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kesehatan fisik dan kecenderungan perempuan untuk memikirkan banyak hal sekaligus yang bisa memicu stres.

Apa sebenarnya hal yang mendasari perempuan lebih rentan terhadap kecemasan dan stres emosional? Penjelasan di bawah mungkin bisa membuka pengetahuanmu lebih luas.

Tubuh Perempuan Dinilai Lebih Sensitif terhadap Stres

Melansir dari situs Women’s Brain Health Initiative, perempuan lebih rentan mengalami berbagai gangguan kecemasan, seperti Gangguan Kecemasan Umum (GAD), gangguan panik, dan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Penelitian yang dilakukan oleh Children’s Hospital of Philadelphia juga menemukan bahwa perempuan lebih sensitif terhadap hormon stres, sekali pun dalam kadar yang rendah. Hal ini membuat perempuan lebih mudah merasakan tekanan emosional walau berada dalam situasi yang sama dengan laki-laki.

Kondisi Otak Perempuan yang Berbeda dalam Merespon Stres

Kondisi kimia otak perempuan diketahui berbeda dengan laki-laki. Melansir Women’s Brain Health Initiative, Anxiety & Depression Association of America (ADAA) menyebutkan bahwa respons fight or flight atau pelepasan hormon adrenalin pada perempuan lebih cepat aktif.

Kemudian, produksi hormon serotonin pada otak perempuan juga lebih lambat. Hormon ini berperan penting dalam menjaga kestabilan suasana hati. Perbedaan ini membuat perempuan lebih rentan mengalami stres.

Selain itu, penelitian yang dipublikasikan oleh Wall Street Journal menunjukkan, terdapat area otak perempuan yang lebih aktif saat mendeteksi kesalahan. Hal ini membuat perempuan lebih peka dan memikirkan kesalahan secara berlebihan sehingga berpotensi meningkatkan stres.

Penyebab Kecemasan dan Stres Lebih Rentan pada Perempuan

Melansir dari situs Women’s Brain Health Initiative, perempuan lebih rentan mengalami berbagai gangguan kecemasan, seperti GAD, gangguan panik, dan PTSD. Penelitian yang dilakukan oleh Children’s Hospital of Philadelphia juga menemukan kalau perempuan lebih sensitif terhadap hormon stres, sekali pun dalam kadar yang rendah. Hal ini membuat perempuan lebih mudah merasakan tekanan emosional walau berada dalam situasi yang sama dengan laki-laki.

Berikut beberapa penyebab perempuan lebih mudah mengalami kecemasan dan stres yang dikutip dari situs Calm.

1. Faktor Biologis

Tubuh perempuan mengalami perubahan siklus sepanjang hidupnya, mulai dari masa menstruasi hingga menopause. Perubahan hormon yang terjadi dalam setiap fase tersebut bisa memengaruhi suasana hati dan tingkat kecemasan. Hal ini tidak terlepas dari peran hormon estrogen dan progesteron yang terus berfluktuasi sehingga berpengaruh pada kontrol emosi dan berpotensi meningkatkan rasa cemas.

2. Faktor Psikologis

Perempuan sering dianggap sebagai individu yang dituntut untuk mampu memahami perasaannya sendiri sekaligus peka terhadap emosi orang lain. Kemampuan ini memang bisa menjadi kelebihan, tapi dalam situasi tertentu justru membuat perempuan lebih rentan mengalami stres dan kecemasan.

Selain itu, peran perempuan sebagai pengasuh utama dalam keluarga juga menambah beban emosional yang tidak mudah. Faktor ini pun bisa memicu stres berkepanjangan dan perasaan cemas yang tinggi.

3. Faktor Sosial dan Lingkungan

Perempuan sering mendapatkan stereotip negatif, seperti anggapan sebagai gender yang lemah yang pada akhirnya membatasi mereka dalam perkembangan karier, adanya kesenjangan upah, dan menekan mereka lewat standar sosial tertentu. Berbagai tekanan tersebut bisa berdampak langsung pada kondisi mental perempuan.

Apalagi, perempuan juga lebih rentan mengalami kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga. Akibatnya, berpotensi menimbulkan stres berkepanjangan dan kecemasan sosial.