periskop.id - Coursera, Inc., platform pembelajaran daring terbesar di dunia, baru saja merilis laporan “One Year Later: The Gender Gap in GenAI”. Laporan ini menyoroti bagaimana perempuan di Indonesia menunjukkan ketekunan luar biasa dalam menyelesaikan kursus terkait kecerdasan buatan generatif (GenAI).

Meski jumlah pendaftar perempuan masih lebih rendah dibanding laki-laki, tingkat kelulusan mereka justru 0,9% lebih tinggi. Fakta ini menegaskan bahwa hambatan utama bukan terletak pada kemampuan atau motivasi, melainkan pada akses terhadap peluang belajar.

Data terbaru menunjukkan perempuan menyumbang 32% dari pendaftaran kursus GenAI di Indonesia pada 2025, naik tipis dari 31% pada 2024. Kenaikan ini memang kecil, tetapi konsisten. 

Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, perempuan menyumbang hampir separuh pengguna internet di Indonesia (49%), namun hanya 27% yang bekerja di sektor teknologi, jauh di bawah rata-rata global 40%. Ketimpangan ini memperlihatkan urgensi memperluas literasi digital dan keterampilan AI agar perempuan dapat berperan lebih besar dalam ekosistem digital nasional.

Kursus yang ramah pemula dan berorientasi pada penerapan nyata terbukti lebih menarik bagi perempuan. Misalnya, kursus Social Media Management oleh Meta berhasil mencatat 54,6% pendaftar perempuan di Indonesia. 

Tren serupa terlihat pada kursus GenAI yang berfokus pada pendidikan, produktivitas, dan integrasi di tempat kerja. Ketika AI diposisikan sebagai alat praktis untuk meningkatkan kualitas pengajaran, penulisan, atau pekerjaan kreatif, partisipasi perempuan mendekati kesetaraan.

“Masa depan kecerdasan buatan akan dibentuk oleh keberagaman orang-orang yang membangunnya dan memanfaatkannya,” ujar Dr. Alexandra Urban, Learning Science Research Lead di Coursera. 

Ia menyebutkan, bahwa ketika perempuan di Indonesia mendapatkan akses terhadap peluang pembelajaran GenAI, mereka memperlihatkan ketekunan dan komitmen yang kuat untuk menguasai keterampilan ini. 

Selain GenAI, perempuan juga semakin aktif mengasah keterampilan manusia seperti berpikir kritis. Pada 2025, mereka menyumbang 40% dari pendaftaran kursus berpikir kritis, naik dari 38% pada 2024. 

Hal ini menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya memperkuat kemampuan teknis, tetapi juga membangun fondasi keterampilan yang esensial untuk kesuksesan jangka panjang di era kerja yang semakin digerakkan oleh AI.

Laporan Coursera menekankan beberapa strategi untuk memperluas partisipasi inklusif: merancang kursus pemula dengan penerapan nyata, memastikan pedagogi yang inklusif, melokalisasi konten, serta mengintegrasikan keterampilan GenAI dengan kemampuan manusia seperti berpikir kritis. 

Pendekatan ini sejalan dengan tren global: studi UNESCO 2024 mencatat bahwa perempuan yang mendapatkan akses ke kursus teknologi berbasis aplikasi praktis cenderung memiliki tingkat penyelesaian 10–15% lebih tinggi dibanding laki-laki.

Indonesia kini berada di persimpangan penting. Transformasi digital yang tengah berlangsung hanya akan berhasil jika tenaga kerja yang dibangun beragam dan inklusif.