periskop.id - Peperangan antara AS-Israel dan Iran hingga kini masih terus berlangsung. Situasi ini membuat ketegangan di kawasan Timur Tengah belum juga mereda. Sejumlah infrastruktur vital dilaporkan mengalami kerusakan parah yang berdampak langsung pada keberlangsungan ekonomi dan sistem pertahanan negara-negara yang terlibat.
Serangan masif yang terjadi tanpa henti juga menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Dampaknya bahkan meluas hingga jalur perdagangan internasional yang mengalami hambatan. Kondisi ini sempat mengganggu pasokan energi global dan memicu gejolak harga di pasar dunia.
Di balik sengitnya pertempuran tersebut, Iran ternyata memiliki strategi cerdik yang dirancang untuk melemahkan kekuatan lawan secara perlahan. Apalagi, musuh yang harus dilawan Iran, memiliki kekuatan militer yang cukup kuat. Iran tidak hanya mungkin mengandalkan serangan besar-besaran secara terpusat.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pernah menyatakan bahwa Teheran telah menghabiskan waktu hampir dua dekade untuk mempelajari cara Amerika Serikat berperang. Pola itu mereka pelajari untuk membangun sistem pertahanan yang tetap mampu bertahan sekalipun ibu kota negara hancur. Pernyataan itu tidak hanya menggambarkan ketahanan Iran, tapi juga menjelaskan dasar dari doktrin pertahanan negara tersebut.
Para pemikir militer Iran kemudian memperkenalkan doktrin yang dikenal sebagai decentralised mosaic defence atau pertahanan mosaik terdesentralisasi. Konsep ini melahirkan satu asumsi utama, yaitu dalam perang melawan Amerika Serikat atau Israel, Iran berpotensi kehilangan pemimpin, fasilitas vital, pusat kendali, hingga jaringan komunikasi.
Namun, Iran harus tetap memaksakan diri untuk bertahan dalam perang. Dalam konsep ini, prioritas perang bukan hanya mempertahankan ibu kota Teheran atau melindungi pemimpin tertinggi, tapi memastikan kemampuan untuk tetap mengambil keputusan, menjaga sistem militer tetap beroperasi, dan mencegah berakhirnya perang hanya dengan satu kekuatan yang menghancurkan.
Lewat konsep itu, Iran berusaha membangun sistem serangan dan pertahanan militer yang tidak hanya mampu bertahan dalam jangka pendek, tapi juga dirancang untuk mampu bertahan dalam konflik yang berlangsung lama.
Apa Itu Mosaic Defense?
Melansir dari Al Jazeera, mosaic defence merupakan konsep pertahanan militer Iran yang sering dikaitkan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Konsep ini menyusun struktur pertahanan negara ke dalam beberapa bagian yang bersifat semi-independen. Ketimbang menempatkan kekuatan hanya pada satu rantai komando yang berpotensi lumpuh oleh satu serangan besar dari lawan.
Dalam konsep ini, berbagai unsur militer seperti pasukan IRGC, pasukan Basij, tentara reguler Iran, unit rudal, kekuatan laut hingga struktur komando lokal ditempatkan secara tersebar. Dengan sistem tersebut, jika satu bagian mengalami kelumpuhan, bagian lain masih dapat beroperasi.
Artinya, apabila pemimpin tertinggi terbunuh, rantai komando tidak langsung terputus begitu saja. Bahkan jika jaringan komunikasi terganggu, pasukan di tingkat lokal tetap memiliki kewenangan untuk mengambil tindakan.
Konsep pertahanan ini membuat sistem komando Iran jauh lebih sulit dihancurkan oleh kekuatan militer lawan. Struktur pertahanan yang berlapis juga dirancang untuk memperlambat dan melelahkan serangan musuh secara perlahan sehingga Iran tetap mampu mempertahankan operasi militernya dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Alasan Iran Menggunakan Konsep Ini
Iran mulai mengadopsi konsep pertahanan ini setelah menyaksikan invasi Amerika Serikat ke Afghanistan pada 2001 dan ke Irak pada 2003. Keruntuhan rezim Saddam Hussein yang berlangsung sangat cepat memengaruhi cara pandang strategis Iran dalam membangun sistem pertahanannya.
Dari peristiwa tersebut, Iran melihat bahwa struktur pertahanan yang terlalu terpusat dapat dengan mudah dihancurkan ketika menghadapi kekuatan militer Amerika Serikat yang jauh lebih unggul. Oleh karena itu, Iran memilih untuk mengorganisasikan sistem militernya secara lebih tersebar ke berbagai bagian dan wilayah.
Mereka tidak memaksakan untuk menantang secara langsung keunggulan militer yang dimiliki Amerika Serikat dan Israel, melainkan berfokus menyusun sistem pertahanan yang lebih solid dan sulit dilumpuhkan.
Konsep strategi ini mengasumsikan bahwa kekuatan militer lawan jauh lebih dominan. Untuk mengatasinya, bukan dengan peperangan simetris, melainkan dengan cara melemahkan kekuatan lawan secara perlahan, memperpanjang konflik, dan memaksa pihak lawan mengeluarkan biaya perang yang lebih besar.
Peran Penerus Setelah Pemimpin Utama Terbunuh
Selain penguatan sistem pertahanan yang tersebar, salah satu aspek penting ketika menghadapi konflik peperangan adalah dengan merencanakan penerus kepemimpinan terdahulu yang terbunuh.
Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, sempat menginstruksikan para pejabat senior untuk menyiapkan pengganti untuk setiap posisi jabatan di militer ataupun sipil. Bahkan jumlah pengganti yang diinstruksikan sebanyak empat bagian untuk setiap jabatan. Hal itu kemudian disebut dengan istilah fourth successor atau penerus keempat.
Tujuan dari strategi ini adalah untuk membangun lapisan penerus dari seluruh jabatan penting sehingga terbunuhnya pemimpin utama tidak akan memutus rantai komando dalam kepemimpinan. Strategi ini serupa dengan konsep mosaic defense yang tidak berfokus pada satu pusat kendali.
Tinggalkan Komentar
Komentar