periskop.id - Insiden penerbangan kembali terjadi di wilayah timur Indonesia setelah pesawat Lion Air dilaporkan gagal mendarat di Bandara Pattimura, Ambon, dan akhirnya kembali ke Sorong.
Peristiwa ini terjadi pada Senin, (23/3) dan langsung menjadi sorotan publik karena melibatkan upaya pendaratan berulang yang tidak berhasil.
Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-888 awalnya lepas landas dari Makassar pada pagi hari dan dijadwalkan tiba di Ambon sekitar pukul 09.10 WIT. Namun, saat mendekati landasan, pilot tidak dapat melakukan pendaratan dengan aman sehingga memutuskan melakukan prosedur go around, yakni membatalkan pendaratan dan kembali naik ke udara.
Upaya pendaratan tidak hanya terjadi sekali. Pesawat tersebut bahkan dilaporkan melakukan beberapa kali go around sebelum akhirnya dialihkan ke Bandara Domine Eduard Osok di Sorong. Setelah sempat mendarat di Sorong, pesawat kembali mencoba menuju Ambon, tetapi kembali gagal mendarat setelah tiga kali percobaan lanjutan.
Penyebab Gagal Mendarat
Melansir berbagai sumber, penyebab utama kegagalan pendaratan adalah kondisi cuaca yang tidak mendukung, khususnya kecepatan angin yang melebihi 10 knot di sekitar Bandara Pattimura. Kondisi ini membuat pesawat sulit untuk melakukan pendekatan stabil (stable approach) ke landasan.
Dalam dunia penerbangan, angin kencang, terutama crosswind, dapat memengaruhi keseimbangan pesawat saat hendak mendarat. Jika parameter keselamatan tidak terpenuhi, pilot wajib melakukan go around sebagai prosedur standar untuk menghindari risiko kecelakaan.
Kasus seperti ini bukan hal baru di Ambon. Bandara Pattimura dikenal memiliki tantangan cuaca yang cukup dinamis, termasuk angin kencang dan perubahan arah angin secara tiba-tiba, yang sering kali memaksa pilot membatalkan pendaratan demi keselamatan.
Dampak Insiden terhadap Penumpang dan Operasional
Insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa, namun berdampak signifikan terhadap penumpang dan operasional penerbangan.
Tercatat sekitar 96 penumpang berada di dalam pesawat tersebut dan harus mengalami keterlambatan perjalanan cukup panjang akibat pengalihan rute.
Selain itu, penerbangan lanjutan juga berpotensi terganggu karena jadwal pesawat menjadi mundur. Dalam industri aviasi, satu insiden divert seperti ini bisa memicu efek domino terhadap rotasi pesawat dan kru.
Dari sisi psikologis, pengalaman gagal mendarat berulang kali juga dapat menimbulkan ketegangan bagi penumpang, meskipun prosedur tersebut sebenarnya merupakan bagian dari standar keselamatan penerbangan.
Rekam Jejak Insiden Gagal Mendarat Lion Air
Lion Air sendiri memiliki sejumlah catatan insiden pendaratan bermasalah dalam sejarah operasionalnya, meski tidak semuanya berujung fatal.
Dalam beberapa kasus sebelumnya, pesawat Lion Air juga pernah mengalami unstable approach, tergelincir saat mendarat, hingga harus melakukan go around berulang kali.
Di Ambon secara khusus, kejadian serupa juga pernah terjadi, di mana pesawat Lion Air terpaksa dialihkan ke Sorong akibat cuaca buruk dan kondisi angin yang tidak memungkinkan untuk pendaratan aman.
Faktor cuaca dan karakteristik bandara memiliki peran besar dalam insiden gagal mendarat, bukan semata-mata karena faktor teknis pesawat.
Tinggalkan Komentar
Komentar