periskop.id - SPPG Gunung Sindur, Pengasinan 1, Bogor, menyampaikan permohonan maaf atas penggunaan buah kecapi dalam menu makan bergizi gratis (MBG) yang belakangan viral di media sosial dan menuai perhatian publik.
Ia mengakui bahwa menu MBG yang menyertakan buah kecapi memang viral dan ramai dibicarakan di media sosial. Foto dan video tersebut menjadi sorotan karena banyak pihak menilai buah kecapi kurang tepat untuk kelompok sasaran penerima manfaat.
Menanggapi hal itu, pihak SPPG berjanji akan melakukan evaluasi ke depan dan memastikan kejadian serupa tidak terulang. Di sisi lain, Kepala SPPG Pengasinan 1 menjelaskan bahwa buah kecapi dipilih sebagai menu dengan tujuan edukasi, agar penerima manfaat lebih mengenal dan menghargai buah-buahan lokal.
Kandungan Gizi Buah Kecapi
Buah kecapi yang secara ilmiah dikenal sebagai Sandoricum koetjape, merupakan buah tropis yang banyak tumbuh di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Buah ini mudah dikenali dari kulitnya yang berwarna hijau hingga cokelat keemasan, dengan daging buah bertekstur lembut dan cita rasa perpaduan manis serta asam.
Mengonsumsi buah kecapi sebenarnya dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh karena kandungan vitamin C-nya yang cukup tinggi. Selain itu, buah ini juga dikenal memiliki nutrisi dan senyawa aktif yang bermanfaat untuk kesehatan sehingga diyakini dapat membantu menekan risiko penyakit kronis, seperti penyakit jantung dan kanker.
Namun, dalam program MBG, nilai gizi saja tidak cukup. Faktor lain seperti keamanan saat dikonsumsi, kemudahan makan, dan kebiasaan makan anak-anak juga jadi pertimbangan utama. Berdasarkan berbagai laporan dan hasil evaluasi uji coba MBG dari sejumlah sumber, buah kecapi dinilai kurang ideal jika dijadikan pendamping menu untuk anak.
Kenapa Buah Kecapi Kurang Cocok untuk Menu MBG?
1. Tidak Praktis untuk Anak
Kulit buah kecapi tebal, keras, dan mengandung getah sehingga sulit dikupas sendiri oleh anak-anak, terutama balita dan siswa SD kelas rendah.
2. Biji Besar dan Daging Buah Menempel
Daging buah kecapi melekat kuat pada biji yang besar. Kondisi ini bisa membuat anak tidak nyaman saat makan dan berpotensi meningkatkan risiko tersedak.
3. Rasanya Cenderung Asam
Meski ada jenis yang manis, sebagian besar kecapi memiliki rasa asam yang cukup kuat yang umumnya kurang disukai anak-anak dibandingkan buah yang rasanya lebih familiar dan manis.
4. Jarang Ditemui dan Kurang Dikenal
Kecapi termasuk buah yang tidak populer dan jarang dijumpai. Banyak anak belum mengenalnya sehingga muncul rasa ragu atau enggan untuk mencoba.
5. Getah Bisa Jadi Masalah Kebersihan
Kulit kecapi mengeluarkan getah putih lengket yang bisa menempel di tangan atau alat makan. Jika proses pembersihannya kurang maksimal, hal ini berpotensi menimbulkan masalah higienitas.
Efek Samping Mengonsumsi Buah Kecapi
Mengonsumsi buah kecapi bisa menyebabkan alergi bagi sebagian orang. Jika muncul gejala seperti gatal, ruam, atau sesak napas, sebaiknya segera hentikan konsumsi dan periksa ke dokter.
Selain itu jika berlebihan bisa menyebabkan gangguan pencernaan seperti sakit perut atau diare. Jadi, sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah wajar.
Dari sisi nutrisi, buah kecapi bukanlah buah yang buruk dan tidak sehat. Namun, dalam pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG), buah ini dianggap kurang praktis, kurang aman, dan kurang menarik bagi anak-anak. Inilah yang membuat kecapi dinilai tidak tepat untuk dijadikan menu MBG.
Evaluasi seperti ini penting agar menu MBG kedepannya lebih sesuai dengan kebutuhan dan karakter anak sehingga tujuan utama pemenuhan gizi bisa tercapai secara maksimal.
Tinggalkan Komentar
Komentar