periskop.id - Pernah merasa lebih cepat menemukan jawaban lewat TikTok daripada Google? Kebiasaan ini ternyata bukan sekadar preferensi pribadi, melainkan bagian dari perubahan besar dalam cara generasi muda mencari informasi. Media sosial yang dulu identik dengan hiburan kini bertransformasi menjadi ruang utama untuk belajar, mencari rekomendasi, hingga menentukan pilihan. Pergeseran inilah yang membuat Google tidak lagi selalu menjadi titik awal pencarian, terutama bagi Gen Z.
Saat Gen Z Lebih Memilih TikTok daripada Google
Kebiasaan mencari informasi kini mengalami perubahan besar. Banyak orang tidak lagi memulai pencarian dengan membuka Google dan mengetik pertanyaan panjang. Sebaliknya, terutama di kalangan generasi muda, media sosial menjadi pilihan pertama untuk menemukan informasi karena platform tersebut sudah mereka gunakan setiap hari. Data terbaru dari Forbes, menunjukkan sekitar 24% responden menjadikan media sosial sebagai sumber pencarian utama, mengungguli mesin pencari tradisional.
Perubahan ini paling terasa pada Gen Z. Penggunaan Google Search di kelompok ini tercatat menurun sekitar 25% dibanding X.
Gen Z kini lebih sering mencari informasi lewat TikTok dibanding Google. Sekitar 40% menggunakannya untuk topik, seperti rambut, riasan, dan ide hadiah, serta 39% untuk kebugaran dan kesehatan mental. Untuk resep dan ide makanan, TikTok juga unggul dengan 38%, melampaui Google. Tren ini menegaskan pergeseran pencarian generasi muda ke platform berbasis video.
Kecenderungan ini semakin kuat seiring meningkatnya penggunaan smartphone. Sekitar 33% orang kini hanya mengakses internet melalui perangkat mobile sehingga media sosial secara alami menjadi pintu pertama untuk mencari informasi, mulai dari tips praktis hingga rekomendasi produk.
Inilah alasan mengapa konten, seperti video tutorial, ulasan, dan tips singkat bisa menyebar dengan cepat. Daya tarik visual memang berperan, tetapi faktor utamanya adalah perubahan fungsi media sosial itu sendiri. Platform ini kini berperan layaknya mesin pencari baru, tempat orang menemukan jawaban sekaligus referensi produk dan layanan dalam satu alur yang praktis dan relevan.
Kenyamanan dan Visual Jadi Alasan Orang Meninggalkan Google
Mengapa begitu banyak orang beralih dari Google? Salah satu alasan utama adalah kenyamanan dan konteks konten. Ketika membuka media sosial, pengguna tidak hanya menemukan jawaban langsung, tetapi juga contoh visual, rekomendasi personal, dan opini nyata dari sesama pengguna.
Data menunjukkan bahwa persentase orang yang menemukan merek baru lewat media sosial cukup besar, sekitar 24% menemukannya setiap hari. Angka ini naik signifikan di kalangan Gen Z, yaitu sebanyak 44% dari mereka menemukan merek baru lewat media sosial setiap hari.
Selain itu, ada revolusi perilaku dalam pencarian merek. Hanya 64% Gen Z yang masih menggunakan mesin pencari tradisional untuk mencari nama merek, jauh lebih rendah dibanding Baby Boomers yang mencapai 94%. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda lebih suka menemukan hal-hal baru melalui konten visual yang inspiratif dan pengalaman orang lain, bukan hasil pencarian teks biasa.
Konten Panjang Mulai Tergeser, Video Singkat Makin Dominan
Perubahan cara orang mencari informasi kini berdampak langsung pada bisnis, kreator, dan pemasaran digital. Strategi lama yang hanya mengandalkan satu kanal sudah tidak lagi efektif.
Bisnis yang masih fokus pada artikel panjang di website berisiko sulit menjangkau audiens muda. Generasi ini lebih terbiasa menemukan informasi lewat video singkat, tutorial cepat, dan ulasan visual yang praktis. Konten semacam ini lebih mudah muncul di pencarian media sosial dan lebih sering dibagikan.
Mesin pencari tradisional memang masih penting, terutama untuk kebutuhan spesifik seperti mencari restoran atau layanan lokal. Namun, untuk konten yang bersifat inspiratif dan berbasis pengalaman, seperti gaya hidup, tutorial kecantikan, atau tips kreatif, media sosial kini menjadi pilihan utama.
Strategi digital perlu menggabungkan optimasi mesin pencari dan pencarian di media sosial. Caranya dengan menggunakan teks dan tagar yang relevan pada video, membuat konten yang mudah dibagikan, serta aktif berinteraksi dengan audiens. Tantangannya kini bukan hanya muncul di Google, tetapi juga ditemukan saat orang mencari di TikTok atau YouTube.
Tinggalkan Komentar
Komentar