periskop.id - Satu detik kelalaian, seumur hidup penyesalan. Itulah gambaran pahit yang menimpa sebuah keluarga di Sukabumi. Bocah berinisial SH (6) dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (8/2) malam setelah sebutir peluru dari senapan angin Pre-Charged Pneumatic (PCP) kaliber 4,5 mm bersarang di kepalanya. Meski tim medis RS Betha Medika telah berjuang maksimal, takdir berkata lain. Kasus ini membuka tabir tentang bahaya senjata yang tersembunyi di balik hobi. Simak kronologi lengkapnya di bawah ini.

1. Detik-Detik Bocah Sukabumi Tertembak

Semua bermula pada Jumat (6/2) siang sekitar pukul 13.00 WIB. Saat itu, suasana rumah yang seharusnya tenang mendadak berubah mencekam. Ayah sambung korban, S (35), sedang sibuk mengotak-atik senapan angin miliknya di depan rumah. Bermaksud ingin membersihkan dan memperbaiki bagian popor.

Tanpa pemeriksaan ulang, senapan tersebut tiba-tiba meletus. Nahas, di depan laras berdiri putri kecilnya, SH. Peluru melesat cepat mengenai pelipis atas dan menembus hingga ke belakang kepala korban. Fakta ini menunjukkan betapa krusialnya prosedur keamanan dalam memegang senjata, sekecil apa pun kalibernya. Kelalaian dalam memastikan kondisi laras yang kosong menjadi pemicu utama tragedi ini. 

2. Spesifikasi Senjata PCP yang Mematikan

Banyak yang bertanya-tanya mengapa senapan angin bisa berakibat sefatal itu? Senjata yang terlibat dalam kasus ini adalah jenis PCP kaliber 4,5 mm. Berbeda dengan senapan angin pompa biasa, PCP menggunakan udara yang dikompresi dalam tabung dengan tekanan tinggi. Kekuatan dorongnya jauh lebih besar sehingga sangat berbahaya jika mengenai organ vital manusia pada jarak dekat.

Kapolsek Kadudampit, Ipda Suhendar, menjelaskan bahwa letusan terjadi saat bagian popor sedang dibongkar. Secara teknis, tekanan udara yang tersisa di dalam tabung PCP mampu melontarkan peluru dengan kecepatan tinggi meskipun pemicu tidak ditarik secara sengaja jika terjadi kegagalan mekanis. Pengetahuan mengenai karakteristik senjata sangatlah penting bagi setiap pemilik. Menganggap remeh keamanan senapan angin adalah kekeliruan besar yang sering kali dibayar mahal dengan nyawa.

3. Perjuangan Dua Hari di Ruang Intensif

Setelah terkena tembakan, SH langsung dilarikan ke Puskesmas Kadudampit sebelum akhirnya dirujuk ke RS Betha Medika Cisaat karena luka yang diderita sangat parah. Selama dua hari, tim medis berupaya maksimal di ruang ICU untuk menyelamatkan nyawa bocah malang tersebut. Namun, cedera otak berat akibat penetrasi peluru membuat kondisi korban terus menurun.

Plt Kasi Humas Polres Sukabumi Kota, Ipda Ade Ruli, mengonfirmasi bahwa korban dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (8/2) pukul 22.00 WIB. Kepergian SH meninggalkan duka mendalam tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi tim medis dan warga sekitar yang mendoakan kesembuhannya. 

4. Dilema Hukum dan Sikap Pihak Keluarga

Lalu, bagaimana nasib sang ayah sambung secara hukum? Hingga saat ini, pihak kepolisian belum bisa melangkah ke tahap penyidikan lebih dalam. Hal itu disebabkan oleh adanya dilema yang dihadapi keluarga. Sejak awal kejadian hingga SH tiada, pihak keluarga bersama kepala desa setempat meminta agar proses hukum tidak digulirkan terlebih dahulu. Mereka memilih untuk fokus sepenuhnya pada perawatan dan doa untuk kesembuhan korban.

Ipda Ade Ruli menjelaskan bahwa hingga Senin (9/2), belum ada laporan resmi yang masuk dari pihak keluarga. Dalam prosedur hukum, meskipun polisi bisa bergerak berdasarkan informasi masyarakat, dasar formil berupa laporan sangat diperlukan untuk memperkuat pijakan penyidikan lebih lanjut. Polisi telah mengantongi keterangan dari S, tapi statusnya masih sebatas klarifikasi. 

5. Pentingnya Edukasi Keamanan Senjata di Rumah

Tragedi ini menjadi alarm keras bagi para pemilik senapan angin di seluruh Indonesia. Senjata, terlepas dari tujuan penggunaannya untuk hobi atau olahraga, tetaplah alat yang memiliki potensi bahaya tinggi. Sebenarnya, aturan dasarnya sederhana, tapi sering kali diabaikan. Selalu anggap senjata berisi peluru, jangan pernah mengarahkannya ke manusia, dan lakukan pembersihan di tempat yang jauh dari jangkauan anak-anak.

Pemerintah Desa Gedepangrango dan kepolisian kini turut membantu pengurusan administrasi keluarga. Namun, pelajaran terpenting adalah pencegahan. Edukasi mengenai kepemilikan senjata angin perlu diperketat agar tidak ada lagi korban lainnya yang menjadi korban kelalaian orang dewasa.