periskop.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan taringnya dengan bergerak di zona hijau pada pembukaan perdagangan hari ini, meski di tengah sentimen penundaan tinjauan pasar oleh FTSE Russell.
Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai pelaku pasar menyikapi kabar tersebut dengan kepala dingin karena isu ini dianggap bersifat teknis, bukan penurunan kualitas fundamental.
“Penundaan ini dipahami sebagai isu teknis, bukan penurunan kualitas fundamental pasar modal, karena FTSE menilai masih ada ketidakpastian reformasi, terutama terkait kebijakan free float minimum dan potensi gangguan mekanisme pasar selama masa transisi,” ucap Hendra dalam keterangannya, Rabu (11/2).
Data perdagangan menunjukkan performa indeks yang cukup solid sejak bel pembukaan berbunyi. IHSG dibuka menguat 0,26% ke level 8.152,78 dan terus merangkak naik hingga sesi pagi berjalan.
Hingga pukul 09.36 WIB, indeks komposit tercatat melesat 45,99 poin atau setara 0,57% ke posisi 8.177,73. Aktivitas bursa terpantau ramai dengan nilai transaksi menembus Rp1 triliun dan volume perdagangan mencapai 1,2 miliar lembar saham.
Mayoritas saham pun ikut merayakan tren positif ini. Tercatat sebanyak 372 saham bergerak menguat, 105 saham melemah, sementara 481 saham lainnya memilih jalan di tempat atau stagnan.
Hendra menjelaskan dampak dari keputusan FTSE ini membuat struktur indeks Indonesia menjadi statis untuk sementara waktu. Tidak akan ada penambahan atau penghapusan saham, perubahan bobot, maupun penyesuaian aksi korporasi dalam jangka pendek.
Kondisi ini justru memberikan angin segar berupa kepastian bagi investor institusi global. Mereka tidak perlu khawatir akan risiko penyeimbangan ulang portofolio (rebalancing) secara mendadak yang bisa memicu volatilitas.
“Keputusan FTSE ini sebenarnya memberikan kepastian bagi investor institusi global, karena mengurangi risiko rebalancing mendadak. Tidak heran jika pasar tidak bereaksi negatif agresif,” sambung Hendra.
Menariknya, penguatan IHSG kali ini terjadi di tengah aksi jual bersih investor asing. Tercatat modal asing keluar (net sell) mencapai Rp917 miliar, namun indeks tetap kokoh berkat dorongan investor domestik dan rotasi portofolio.
Hendra menekankan bahwa reformasi pasar modal yang transparan tetap menjadi kunci utama. Agenda pertemuan direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan MSCI hari ini diharapkan menjadi sinyal positif bagi kredibilitas pasar.
"Investor global masih menaruh perhatian pada tata kelola dan kepastian regulasi. Pertemuan direksi BEI dengan MSCI hari ini akan menjadi katalis psikologis, sebagai sinyal bahwa otoritas pasar serius menjaga kredibilitas dan daya saing Indonesia di mata penyedia indeks global,” ujarnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar