periskop.id - Sahur merupakan aktivitas makan dan minum yang dilakukan oleh umat muslim sebelum waktu fajar tiba. Meskipun tidak wajib, aktivitas sahur ini cukup penting untuk menahan rasa lapar dan dahaga selama menjalani puasa Ramadan. Bahkan, rasulullah SAW memberikan perintah untuk menjalani sahur.
Setiap bulan ramadan, Indonesia selalu disuguhi dengan tradisi-tradisi unik, salah satunya membangunkan sahur. Tradisi ini sudah cukup melekat dan populer di kalangan masyarakat Indonesia. Mulai dari orang dewasa hingga anak-anak ikut melakukan tradisi ini.
Meskipun sudah sering kita dengar setiap bulan Ramadan, tapi sebenarnya dari mana tradisi ini lahir?
Sejarah Lahirnya Tradisi Membangunkan Sahur
Antropolog sekaligus dosen Kebudayaan Islam dan Klasik Indonesia di Universitas Airlangga, Djoko Adi Prasetyo, menyebut tradisi membangunkan sahur sebagai patrol sahur. Menurutnya, tradisi ini termasuk budaya kesenian rakyat yang punya irama khas dan tanpa alat musik.
Ia menjelaskan bahwa tradisi membangunkan sahur sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Karena keterbatasan alat dan teknologi saat itu, cara yang digunakan masih sangat sederhana, yaitu dengan mengumandangkan azan untuk membangunkan orang-orang agar bersahur.
Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya ilmu pengetahuan serta teknologi, tradisi ini pun ikut mengalami perubahan. Masyarakat mulai menggunakan alat bantu seperti gendang untuk membangunkan sahur.
Di Mekkah, misalnya, ada kelompok-kelompok khusus yang setiap bulan Ramadan bertugas membangunkan warga untuk sahur. Mereka berkeliling kota sambil menabuh gendang, dibantu dengan cahaya lentera sebagai penerangan.
Tradisi ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Menariknya, setiap daerah punya sebutan sendiri untuk tradisi membangunkan sahur. Di Sulawesi dikenal dengan nama dengo-dengo, di Jawa Barat disebut ubrug-ubrug, sementara di Jawa Tengah dikenal sebagai percalan.
Meski begitu, tradisi ini juga tidak lepas dari mitos yang beredar di masyarakat. Salah satunya menyebutkan bahwa tradisi membangunkan sahur berasal dari kebiasaan memanggil burung merpati. Pemiliknya memukul kentongan agar burung peliharaannya pulang. Dari kebiasaan itulah, tradisi ini kemudian muncul dan berkembang.
Cara Unik Membangunkan Sahur di Berbagai Daerah
Di Indonesia, membangunkan sahur punya caranya masing-masing sesuai dengan tradisi di daerahnya.
1. Tradisi Klotekan (Yogyakarta)
Di Yogyakarta, masyarakat membangunkan sahur dengan cara unik yang disebut klotekan. Tradisi ini dilakukan oleh anak muda di kampung-kampung setempat yang mengelilingi jalan-jalan di kota Yogyakarta. Alat yang digunakan adalah satu set drum yang disusun rapi di atas gerobak, kemudian dikaitkan ke sepeda agar mudah ditarik.
2. Patrol Canmacanan (Situbondo)
Tradisi ini biasanya menampilkan replika harimau raksasa dan ondel-ondel yang diiringi alunan musik. Sekitar pukul 2 dini hari, rombongan mulai berkeliling kampung. Cara ini pun terbukti cukup efektif untuk membangunkan warga agar bersiap sahur.
3. Buroq (Brebes)
Buroq adalah boneka raksasa berwarna kuning dengan bentuk kepala bidadari dan macan kumbang. Rombongan mengelilingi kampung dengan membawa buroq sambil diiringi dengan alunan musik khas pantura, namun tetap mempertahankan nuansa islami. Rombongan juga terkadang mengetuk pintu warga agar memastikan warga benar-benar bangun.
4. Pocong Patrol (Banyuwangi)
Tradisi ini dibilang unik dan beda dari yang lain. Hal ini karena mereka mengenakan mukena putih dan menambahkan bedak agar wajah terlihat pucat, mirip pocong. Setelah itu, mereka berkeliling sambil membunyikan alat musik untuk menarik perhatian warga.
5. Musik Traktor Sawah (Madiun)
Tradisi ini dibilang sudah cukup modern. Pelaksanaannya memanfaatkan traktor pembajak sawah yang dipasangi gerobak. Di atas gerobak tersebut, seseorang memainkan musik elekton yang dilengkapi dengan sound system sehingga suara musik dan nyanyian terdengar kencang hingga seluruh kampung.
Tinggalkan Komentar
Komentar