Periskop.id - Pada 2025, Amerika Serikat (AS) mencatatkan sejarah baru dalam aktivitas perdagangan internasionalnya. 

Negeri Paman Sam tersebut mengimpor barang dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan kemampuan ekspornya, yang menyebabkan defisit perdagangan barang melonjak ke angka rekor sebesar US$1,24 triliun.

Ketergantungan pasar Amerika terhadap manufaktur global terlihat sangat dalam, mulai dari sektor semikonduktor, otomotif, hingga perangkat elektronik konsumen. 

Berdasarkan data terbaru dari Biro Sensus AS (U.S. Census Bureau) yang dihimpun oleh Visual Capitalist, lima negara mitra utama saja sudah menyumbang sekitar 67% dari total defisit tersebut.

Tiga Raksasa Penyumbang Defisit Utama

Laporan yang divisualisasikan oleh Aneesh Anand ini menempatkan Tiongkok, Meksiko, dan Vietnam sebagai tiga negara penyumbang hampir setengah (46%) dari total defisit perdagangan barang AS.

Meski terjadi penurunan sebesar 32% dibandingkan tahun sebelumnya akibat kebijakan pemisahan ekonomi atau decoupling, Tiongkok tetap menduduki posisi puncak. Barang setengah jadi, mesin, dan elektronik masih mengalir deras dari pabrik-pabrik Tiongkok ke konsumen Amerika.

Sebagai tetangga terdekat, Meksiko memperkuat perannya sebagai pusat manufaktur utama yang terintegrasi erat dengan rantai pasok AS, terutama pada industri otomotif.

Vietnam mencatatkan lonjakan defisit sebesar 44%. Hal ini mencerminkan pergeseran basis produksi perusahaan global yang mulai mendiversifikasi pabrik mereka keluar dari China menuju negara-negara Asia Tenggara.

Lonjakan drastis juga terlihat pada Taiwan yang mencatatkan defisit sebesar US$146,8 miliar, naik hampir dua kali lipat (99%) dalam setahun karena tingginya permintaan semikonduktor global.

Sorotan Terhadap Indonesia

Di tengah persaingan ketat negara-negara manufaktur dunia, Indonesia berhasil mengukuhkan posisinya dalam rantai pasok Amerika Serikat. Pada 2025, Indonesia menempati peringkat ke-15 dalam daftar mitra dagang yang menyebabkan defisit bagi AS.

Data menunjukkan bahwa defisit perdagangan AS dengan Indonesia mencapai US$23,7 miliar. Yang menarik, angka ini menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 33% dibandingkan tahun sebelumnya (Year-on-Year). 

Pertumbuhan ini mengindikasikan bahwa produk-produk asal Indonesia semakin diminati dan mampu bersaing di pasar Amerika, sekaligus menunjukkan peran Indonesia sebagai salah satu alternatif manufaktur selain China di kawasan Asia Tenggara.

Adapun, berikut adalah daftar 15 negara penyumbang defisit perdagangan barang AS pada 2025:

PeringkatMitra Dagang ASDefisit 2025 (US$ Miliar)Perubahan YoY
1Tiongkok202,1-32%
2Meksiko196,915%
3Vietnam178,244%
4Taiwan146,899%
5Irlandia114,232%
6Jerman73,0-14%
7Thailand71,958%
8Jepang63,9-8%
9India58,227%
10Korea Selatan56,4-14%
11Kanada46,4-25%
12Swiss34,3-10%
13Malaysia30,824%
14Italia30,8-30%
15Indonesia23,733%

Mengapa Angka Ini Menjadi Isu Politik Sensitif?

Secara ekonomi, defisit perdagangan tidak selalu diartikan sebagai kondisi yang buruk karena bisa mencerminkan kuatnya daya beli konsumen suatu negara. 

Namun, di panggung politik AS, angka ini sering dianggap sebagai indikasi hilangnya kapasitas manufaktur domestik dan praktik perdagangan yang tidak adil.

Untuk menekan kesenjangan ini, Pemerintah AS kerap memberlakukan tarif impor guna melindungi produksi dalam negeri. 

Meski demikian, langkah ini sering kali menjadi pedang bermata dua karena dapat meningkatkan biaya operasional bagi pelaku usaha dan menaikkan harga barang bagi konsumen, mengingat rantai pasok dunia sudah sangat terintegrasi.

Keberhasilan negara seperti Vietnam dan Indonesia dalam meningkatkan volume perdagangan ke AS menunjukkan adanya peta kekuatan baru di Asia yang mulai menggeser dominasi Tiongkok dalam hubungan dagang dengan Negeri Paman Sam.