periskop.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan mempercepat pemerataan layanan kesehatan dengan memasang peralatan medis modern di seluruh kabupaten/kota mulai 2026. Kebijakan ini ditujukan untuk memangkas kesenjangan layanan antara daerah perkotaan dan wilayah terpencil.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemasangan alat kesehatan (alkes) dilakukan secara agresif tanpa membedakan wilayah Jawa dan luar Jawa maupun kedekatannya dengan kota besar.

“Mulai tahun ini kami akan memasang alat-alat modern di seluruh kabupaten/kota, baik di Jawa maupun luar Jawa, baik yang dekat kota besar maupun yang jauh,” ujarnya saat memberikan keynote speech dalam acara Orientasi Peserta PPDS RSPPU periode II tahun 2025–2026 di Gedung Kemenkes, Jakarta, Rabu (25/2).

Kemenkes menargetkan hingga akhir 2027, ratusan unit CT Scan, mamografi, cath lab (Catheterization Laboratory), lemari sitotoksik untuk kemoterapi (Cytotoxic Drug Cabinet), serta laboratorium imunohistokimia untuk patologi anatomi akan terpasang di 514 kabupaten/kota.

Tak hanya itu, pemerintah juga membidik pemasangan alat berteknologi tinggi di tingkat provinsi, seperti MRI, LINAC (radioterapi), SPECT-CT, brachytherapy, hingga PET Scan.

“Kami harapkan di akhir 2027, ratusan CT Scan dan mamografi sudah terpasang di 514 kabupaten/kota. Untuk MRI, LINAC, SPECT-CT, brachytherapy, dan PET Scan akan tersedia di seluruh provinsi,” kata Budi.

Terbaru, Kemenkes juga memutuskan pengadaan alat endoskopi dan laparoskopi di seluruh kabupaten/kota. Menurut Menkes, langkah ini penting agar dokter bedah di daerah dapat melakukan tindakan minimal invasif untuk kasus-kasus umum seperti hernia, usus buntu, hingga operasi pengangkatan empedu.

“Kami akan memasang endoskopi dan laparoskopi di seluruh kabupaten/kota supaya tindakan bedah tidak selalu harus dilakukan secara terbuka,” ujarnya.

Meski demikian, ekspansi fasilitas ini diakui belum cukup tanpa dukungan sumber daya manusia. Kemenkes mencatat Indonesia masih kekurangan puluhan ribu dokter, terutama dokter spesialis.

Karena itu, selain mempercepat pengadaan alkes, pemerintah juga menyiapkan strategi peningkatan tenaga medis melalui pengembangan sistem pendidikan berbasis rumah sakit (hospital-based).

“Kami sadar Indonesia masih kekurangan puluhan ribu dokter. Maka selain menambah fasilitas, kami juga berkomitmen mengembangkan sistem hospital-based untuk mempercepat pemenuhan tenaga medis,” tegasnya.