Periskop.id - Peta geopolitik di kawasan Timur Tengah mengalami transformasi drastis dalam dua dekade terakhir.
Fenomena menarik muncul ketika negara-negara besar di Jazirah Arab yang secara historis merupakan lawan bebuyutan Israel, kini justru tampak semakin merapat ke pihak Amerika Serikat (AS) dan Tel Aviv.
Hubungan ini tidak lagi sekadar urusan diplomasi pragmatis, namun telah berkembang menjadi tameng kolektif dalam merespons kebijakan luar negeri Iran di kawasan.
Berdasarkan analisis dalam artikel berjudul “Iran: A Common Enemy of Israel and the Arab Countries”, perubahan ini dipicu oleh pergeseran struktur identitas, persepsi ancaman yang baru, serta dinamika global yang memaksa negara-negara Arab mengevaluasi ulang kebijakan luar negeri mereka.
Pergeseran Persepsi: Dari Musuh Tradisional ke Ancaman Ideologis
Selama lebih dari tujuh dekade, konflik Arab dengan Israel didominasi oleh perseteruan sejarah sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948. Saat itu, solidaritas Arab terhadap kemerdekaan Palestina menjadi harga mati.
Namun, struktur identitas kolektif tersebut kini mulai bergeser. Identitas lama yang berbasis "Arab Muslim" dengan Israel sebagai musuh tunggal kini digantikan oleh kekhawatiran baru yang menempatkan Iran sebagai ancaman utama.
Ancaman dari Iran dipandang bukan sekadar gertakan retorika. Iran dinilai sangat aktif mendukung jaringan proksi di berbagai titik panas seperti Suriah, Lebanon, hingga Yaman. Bagi mayoritas negara Sunni di Jazirah Arab, Iran dianggap sebagai rival ideologis yang agresif dalam menyebarluaskan agenda revolusioner Syiah.
Akibatnya, para pemimpin Arab kini lebih mencemaskan manuver strategis Teheran daripada ancaman tradisional dari Israel.
Pragmatisme Politik: Mengakhiri Tabu Diplomatik
Hubungan negara-negara Arab dengan Israel dahulu diwarnai dengan aksi boikot dan pemutusan hubungan total demi solidaritas Palestina.
Mesir pernah menjadi sasaran kecaman dunia Arab ketika menjadi pionir normalisasi lewat Perjanjian Camp David pada tahun 1979. Namun, narasi penolakan tersebut perlahan memudar.
Dalam beberapa dekade terakhir, para pembuat kebijakan, akademisi, hingga media di negara-negara Arab mulai membuka ruang bagi diskursus koeksistensi.
Kerja sama yang awalnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi kini mulai muncul ke permukaan dalam bentuk kesepakatan ekonomi, teknologi, dan keamanan.
Normalisasi ini bukan semata mata didorong oleh hilangnya simpati, melainkan karena pertimbangan kepentingan nasional yang jauh lebih pragmatis.
Iran sebagai "Musuh Bersama" (Common Enemy)
Pemicu utama di balik kemesraan baru Arab-Israel adalah kehadiran Iran sebagai ancaman kolektif. Bagi negara-negara yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Iran dipandang sebagai aktor yang memicu ketidakstabilan regional.
Ketegangan sektarian antara Sunni dan pemerintahan Iran yang didominasi Syiah mempertegas garis batas politik dan strategis.
Di sisi lain, Israel memandang Iran sebagai ancaman eksistensial, terutama terkait ambisi program nuklir Teheran serta keberadaan milisi pro-Iran di perbatasan mereka. Kesamaan rasa terancam inilah yang mendorong negara-negara Arab mencari aliansi strategis.
Posisi Amerika Serikat sebagai mediator menjadikan kerja sama dengan Israel sebagai pilihan yang lebih rasional untuk menjaga stabilitas kawasan dibandingkan harus menghadapi Iran secara sendirian.
Faktor Ekonomi dan Globalisasi
Selain urusan keamanan, kebutuhan praktis di era globalisasi turut memainkan peran penting. Tekanan ekonomi global menuntut negara-negara Arab untuk lebih terbuka terhadap keterkaitan perdagangan dan teknologi.
Interaksi fungsional dengan Israel memberikan insentif material yang signifikan, terutama dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat.
Banyak negara Arab melihat hubungan baik dengan Washington dan Tel Aviv sebagai strategi untuk memperkuat posisi mereka di panggung global sekaligus memitigasi risiko keamanan dari Iran.
Isu Palestina: Dari Penentu ke Pengaruh
Konflik Palestina yang dulunya merupakan variabel tunggal penyatu negara-negara Arab kini mengalami pergeseran posisi. Meskipun tetap berpengaruh dan dihormati, isu Palestina tidak lagi menjadi faktor penentu utama dalam arah kebijakan luar negeri mereka.
Tekanan geopolitik dan kepentingan identitas kolektif yang baru membuat isu Palestina kini berada di bawah bayang-bayang kekhawatiran strategis yang lebih luas.
Negara-negara seperti Arab Saudi kini menilai bahwa menjalin hubungan pragmatis dengan Israel demi keamanan kolektif regional memiliki nilai strategis yang lebih mendesak dibandingkan mempertahankan solidaritas tradisional secara kaku.
Aliansi tak terduga yang terbentuk di Timur Tengah saat ini membuktikan bahwa politik internasional kini semakin berbasis pada kalkulasi nyata dan realitas geopolitik yang berubah.
Kepentingan akan stabilitas regional, kebutuhan material, serta persepsi akan ancaman bersama terhadap Iran telah meruntuhkan tembok tabu yang telah berdiri selama puluhan tahun.
Tinggalkan Komentar
Komentar