Periskop.id - Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran disambut sebagai langkah penting untuk menghentikan eskalasi konflik di kawasan. Namun, beberapa jam setelah pengumuman disampaikan, isi kesepakatan tersebut masih menyisakan banyak pertanyaan.
Melansir The Guardian pada Senin (15/6), Presiden AS Donald Trump dan pejabat di Teheran sama-sama menyambut berakhirnya perang terhadap Iran.
Meski demikian, rincian kesepakatan belum sepenuhnya terbuka ke publik. Teks akhir nota kesepahaman belum dipublikasikan. Sejumlah isu penting juga masih belum jelas, mulai dari akses Selat Hormuz, masa depan program nuklir Iran, hingga apakah penghentian operasi militer mencakup Lebanon.
Trump kemudian mengatakan kepada New York Times bahwa dirinya akan melanjutkan serangan militer jika Teheran gagal mencapai kesepakatan nuklir dengan AS. Negosiasi lanjutan mengenai isu nuklir disebut dijadwalkan mulai pada Jumat.
Status Selat Hormuz Masih Jadi Sorotan
Salah satu isu paling krusial dalam kesepakatan ini adalah status Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut sangat penting bagi pasar energi global karena menjadi rute pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Trump pada Minggu malam menegaskan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali.
"Saya dengan ini sepenuhnya mengizinkan pembukaan bebas biaya Selat Hormuz, dan sekaligus mengizinkan pencabutan blokade Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin kalian. Biarkan minyak mengalir!" ujarya dengan tegas.
Namun, satu jam setelah pernyataan tersebut, Trump menyebut pembukaan jalur penting itu masih bergantung pada penandatanganan kesepakatan yang dijadwalkan pada Jumat. Pembukaan tersebut juga disebut dilakukan untuk tujuan penghapusan ranjau.
Di sisi lain, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang menjadi mediator kesepakatan damai tidak menyebut Selat Hormuz dalam pengumuman awalnya. Media pemerintah Iran, Mehr, melaporkan bahwa nota kesepahaman yang disepakati memuat pembukaan kembali selat dalam waktu 30 hari dengan pengaturan Iran.
Pemerintah AS menegaskan tidak menerima adanya pengaturan biaya atau tol pelayaran di Selat Hormuz. Trump menyatakan jalur itu harus terbuka bagi semua pihak.
"Selat ini akan dibuka untuk semua orang. Tidak ada yang akan mengendalikannya," ujar Trump dengan tegas.
Pernyataan tersebut disampaikan dengan menyinggung pembahasan yang disebut dilakukan bersama Oman. Sementara itu, para pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia yang disebut sebagai kelompok E4 juga menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz harus dilakukan tanpa syarat dan tetap menjamin kebebasan navigasi penuh.
Meski masih ada ketidakpastian, harga minyak global langsung turun beberapa jam setelah kabar kesepakatan muncul. Harga minyak bahkan mencapai level terendah sejak awal Maret, tepat setelah perang di Iran dimulai.
Penurunan harga terjadi meskipun masih ada peringatan bahwa pemulihan produksi energi di kawasan Teluk dapat memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Infrastruktur minyak dan gas juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan drone. Kondisi ini membuat keselamatan pelayaran dan asuransi kapal masih menjadi persoalan yang perlu dijawab.
Lebanon Masuk Kesepakatan atau Tidak?
Pertanyaan lain yang belum sepenuhnya terjawab adalah apakah Lebanon termasuk dalam kesepakatan damai tersebut. Isu ini menjadi salah satu titik perselisihan dalam pembicaraan gencatan senjata awal.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa ruang lingkup kesepakatan yang dicapai pada Minggu mencakup semua front, termasuk Lebanon.
"Akhir permanen dan segera dari perang telah diumumkan di semua front, termasuk Lebanon," ujar Gharibabadi.
Mediator Shehbaz Sharif juga menyampaikan hal senada melalui unggahan di media sosialnya.
"Kedua pihak telah menyatakan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front, termasuk Lebanon," ungkapnya.
Namun, Trump tidak menyebut Lebanon dalam pengumuman awalnya di Truth Social. Pernyataan Trump saat itu hampir seluruhnya berfokus pada Selat Hormuz.
Ketidakjelasan ini berpotensi menjadi persoalan, terutama bagi Israel. Negara tersebut tidak termasuk dalam negosiasi damai Iran dan tidak segera memberikan tanggapan setelah kabar kesepakatan muncul.
Faktor politik domestik juga memengaruhi langkah Israel dalam konflik dengan Iran dan kelompok proksinya, termasuk Hizbullah. Rencana sebelumnya untuk mengumumkan kesepakatan dengan Iran pada Minggu sempat terganggu akibat serangan Israel di Beirut.
Serangan tersebut menghancurkan sebuah bangunan di pinggiran selatan ibu kota Lebanon, menewaskan tiga orang, dan melukai enam lainnya. Trump kepada Axios mengatakan bahwa serangan itu menunda penandatanganan kesepakatan selama beberapa jam.
Hubungan Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga sempat memanas terkait operasi militer Israel di Lebanon. Dua pekan sebelumnya, Trump disebut memanggil Netanyahu "gila" setelah serangan di Beirut.
"Kau akan masuk penjara jika bukan karena aku," ujar Trump dengan geram.
Program Nuklir Iran Belum Tuntas
Isu besar lain yang belum selesai adalah nasib program nuklir Iran. Masalah ini menjadi salah satu alasan utama Trump melancarkan perang terhadap Iran.
Trump kembali menegaskan sikapnya terhadap program nuklir Teheran.
"Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," ujar Trump dengan tegas.
Namun, pejabat senior Pakistan menyebut negosiasi nuklir akan tetap berlangsung selama 60 hari ke depan. Trump juga mengatakan bahwa Teheran dapat kembali menghadapi serangan militer jika gagal mencapai kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat.
Dalam pernyataan bersama dengan kelompok E4, yakni Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia, mereka menyatakan kesiapan untuk mencabut sanksi jika Iran mengambil langkah yang jelas dan dapat diverifikasi terkait program nuklirnya.
Iran selama ini menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai. Namun, Teheran belum secara terbuka berkomitmen menyerahkan uranium yang diperkaya. Material tersebut diyakini tersembunyi di tiga situs nuklir yang rusak akibat serangan AS pada tahun lalu.
Trump juga menghadapi tekanan politik untuk menghasilkan kesepakatan yang lebih baik dibanding perjanjian nuklir 2015. Pada masa jabatan pertamanya, Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir multilateral yang dinegosiasikan oleh Barack Obama.
Kesepakatan 2015 tersebut sebelumnya mencabut sanksi terhadap Teheran dengan syarat Iran membatasi program nuklirnya, termasuk menerima inspeksi internasional.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar