periskop.id - Sunni dan Syiah sama-sama meyakini Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan Nabi Muhammad Saw. sebagai rasul terakhir. Keduanya juga berpegang pada Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Namun, perbedaan dalam memahami kepemimpinan setelah wafatnya Rasulullah kemudian berkembang menjadi perbedaan dalam ajaran, rukun iman, hingga tata cara ibadah. Lalu, apa sebenarnya yang membedakan Sunni dan Syiah serta bagaimana perbedaan itu bermula?
Berawal dari Persoalan Kepemimpinan
Perbedaan Sunni dan Syiah bermula dari persoalan politik setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw. Saat itu muncul perdebatan mengenai siapa yang berhak menggantikan beliau sebagai pemimpin umat Islam.
Sebagian kelompok mendukung kepemimpinan Abu Bakar melalui musyawarah sahabat yang kemudian menjadi dasar tradisi Sunni. Sementara kelompok lain meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib lebih berhak memimpin karena kedekatan dan hubungan keluarganya dengan Nabi yang menjadi dasar keyakinan Syiah.
Perbedaan antara dua aliran terbesar dalam Islam ini semakin menguat setelah peristiwa tragis terbunuhnya cucu Nabi Muhammad Saw., Husain bin Ali, dalam tragedi Karbala pada 680 M. Sejak peristiwa itu, garis pemisah antara Sunni dan Syiah kian tegas dan konflik di antara keduanya terus berlanjut dalam berbagai bentuk.
Dalam perjalanan sejarah, ketegangan tersebut bahkan berkembang menjadi peperangan yang dampaknya masih terasa hingga kini, terutama di kawasan Timur Tengah. Perbedaan tafsir terhadap ajaran Islam kerap disebut sebagai pemicu utama pertentangan.
Namun, pada era modern, dinamika konflik Sunni dan Syiah tidak lagi semata-mata berkaitan dengan persoalan teologi, melainkan juga dipengaruhi oleh kepentingan politik dan geopolitik antarnegara.
Lalu, apa sebenarnya yang membedakan Sunni dan Syiah?
Perbedaan Sunni dan Syiah
Sekitar 10 persen umat Islam di dunia merupakan penganut Syiah. Mereka banyak tinggal di negara seperti Iran, Azerbaijan, Bahrain, Lebanon, dan Irak.
Sementara itu, Sunni menjadi kelompok mayoritas umat Islam di dunia dan tersebar luas di berbagai negara, mulai dari kawasan Arab, Turki, Pakistan, India, Malaysia, hingga Indonesia.
Walau sama-sama meyakini Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir, Sunni dan Syiah memiliki sejumlah perbedaan penting dalam ajaran dan cara memahami Islam.
Rukun Islam
Dalam praktik ibadah, Sunni dan Syiah juga memiliki sedikit perbedaan dalam penyebutan rukun Islam. Bagi umat Sunni, rukun Islam terdiri dari:
- Syahadat
- Shalat
- Puasa
- Zakat
- Haji
Sementara dalam Syiah, syahadat tidak dimasukkan sebagai rukun Islam, meskipun tetap wajib diucapkan saat seseorang memeluk Islam. Rukun Islam dalam Syiah adalah:
- Shalat
- Zakat
- Puasa
- Haji
- Wilayah (penerimaan kepemimpinan imam)
Rukun Iman
Secara umum, rukun iman dalam Sunni dan Syiah memiliki kesamaan dalam prinsip dasar. Namun, terdapat perbedaan dalam penyebutan dan penekanannya. Bagi Islam Sunni, terdapat enam rukun iman, yaitu:
- Iman kepada Allah
- Iman kepada malaikat
- Iman kepada kitab-kitab Allah
- Iman kepada nabi dan rasul
- Iman kepada hari akhir
- Iman kepada qada dan qadar
Sementara itu, Islam Syiah memiliki lima prinsip keimanan. Perbedaan yang paling menonjol adalah adanya konsep imamah, yaitu keyakinan bahwa umat Islam harus dipimpin oleh imam sebagai penerus risalah kenabian. Lima rukun iman dalam Syiah meliputi:
- Iman kepada Allah
- Iman kepada imamah
- Iman kepada kenabian (yang mencakup nabi, rasul, kitab, dan malaikat)
- Iman kepada hari akhir
- Iman kepada keadilan Allah
Perbedaan ini menunjukkan bahwa Syiah menempatkan kepemimpinan imam sebagai bagian dari prinsip akidah.
Perbedaan dalam Berwudhu
Perbedaan juga terlihat dalam tata cara berwudu. Islam Syiah berpedoman pada Surah Al-Maidah ayat 6, yakni membasuh wajah dan tangan hingga siku, lalu mengusap kepala dan punggung kaki. Sementara Muslim Sunni mengikuti praktik yang bersumber dari sunah Nabi, seperti mencuci tangan sebelum wudu, berkumur, menghirup air ke hidung, serta mengusap telinga.
Tata Cara Salat
Waktu Shalat
Umat Sunni umumnya menunaikan lima waktu salat secara terpisah sesuai waktunya masing-masing. Sementara itu, dalam ajaran Syiah diperbolehkan menggabungkan (jamak) shalat Zuhur dengan Asar, serta Maghrib dengan Isya. Karena itu, dalam praktiknya shalat sering dilakukan dalam tiga sesi waktu.
Posisi Tangan Saat Salat
Dalam salat, umat Sunni biasanya bersedekap, yaitu meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di bagian depan tubuh. Sedangkan umat Syiah melaksanakan salat dengan posisi tangan lurus di samping badan.
Tempat Sujud
Sebagian umat Syiah menggunakan lempengan kecil dari tanah liat atau batu alami yang disebut turbah sebagai alas dahi saat sujud. Hal ini dimaknai sebagai simbol kesucian bumi dan bentuk mengikuti tradisi sujud di atas tanah.
Salat Jumat
Bagi umat Sunni, salat Jumat merupakan kewajiban mingguan bagi laki-laki muslim. Dalam pandangan sebagian kelompok Syiah, pelaksanaan dan kewajibannya memiliki penafsiran berbeda, terutama terkait dengan konsep kepemimpinan imam dalam ajaran mereka.
Perbedaan dalam Puasa (Ramadan dan Asyura)
Waktu Berbuka Puasa
Dalam bulan Ramadan, umat Sunni umumnya berbuka puasa tepat saat matahari terbenam. Sementara itu, sebagian umat Syiah biasanya menunggu hingga cahaya senja benar-benar hilang atau langit terlihat lebih gelap sebelum berbuka.
Makna Hari Asyura
Tanggal 10 Muharram atau hari Asyura memiliki makna yang berbeda bagi kedua kelompok. Bagi umat Sunni, Asyura dianjurkan untuk diisi dengan puasa sunah sebagai bentuk syukur atas peristiwa keselamatan Nabi Musa. Namun, bagi umat Syiah, hari tersebut merupakan momen duka untuk mengenang wafatnya Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad Saw., dalam peristiwa Karbala. Peringatan ini biasanya diisi dengan doa dan prosesi mengenang tragedi tersebut.
Perbedaan dalam Haji dan Zakat
Zakat
Selain zakat mal dan zakat fitrah yang umum dikenal dalam tradisi Sunni, dalam ajaran Syiah terdapat kewajiban tambahan yang disebut khums. Khums adalah kewajiban menyerahkan seperlima dari keuntungan atau pendapatan tertentu dalam setahun untuk kepentingan agama serta pihak yang berhak menerimanya menurut ajaran mereka.
Haji
Dalam pelaksanaan ibadah haji, secara umum tata caranya serupa karena mengikuti rukun yang sama. Namun, sebagian umat Syiah biasanya menambahkan doa-doa tertentu dan melakukan ziarah ke makam para Imam atau tempat yang dianggap memiliki nilai sejarah keagamaan, seperti pemakaman Baqi dan lokasi suci lainnya.
Perbedaan Hadis dan Mazhab
Perbedaan juga terlihat pada sumber hadis dan mazhab yang diikuti. Umat Sunni merujuk pada enam kitab hadis utama, yaitu:
- Shahih al-Bukhari
- Shahih Muslim
- Sunan Ibnu Majah
- Sunan Abu Dawud
- Sunan al-Tirmidzi
- Sunan al-Nasa’i
Selain itu, terdapat empat mazhab fikih yang paling banyak dianut oleh Sunni, yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Sementara itu, umat Syiah memiliki rujukan hadis yang berbeda dan secara umum mengenal beberapa cabang mazhab utama, seperti Zaydi, Ismaili, dan Itsna Asyariah (Imamiyah).
Tinggalkan Komentar
Komentar