periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar US$0,95 miliar. Dengan capaian tersebut, Indonesia telah membukukan surplus neraca perdagangan selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
"Neraca perdagangan Indonesia yang telah mencatat surplus tersebut ini selama 69 bulan berturut-turut, terutama sejak yaitu Mei di 2020," ucap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, dalam konferensi pers BPS, Senin (2/3).
Surplus Januari 2026 terutama ditopang oleh kinerja positif sektor non-migas yang mencatat surplus sebesar US$3,22 miliar. Komoditas penyumbang utama surplus non-migas antara lain lemak dan minyak hewan/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Selain itu, neraca komoditas migas tercatat defisit sebanyak US$2,27 miliar. Defisit tersebut terutama disumbang oleh komoditas minyak mentah, hasil minyak, dan gas.
berdasarkan negara mitra dagang, untuk neraca perdagangan total (migas dan non-migas), tiga negara penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat sebesar US$1,55 miliar, India sebesar US$1,07 miliar, dan Filipina sebesar US$0,69 miliar.
Sementara itu, defisit terdalam tercatat dengan Tiongkok sebesar US$2,47 miliar, disusul Australia sebesar US$0,96 miliar dan Perancis sebesar US$0,47 miliar.
"Australia defisit sebesar US$0,96 miliar dan juga Perancis defisit sebesar US$0,47 miliar," tuturnya.
Untuk neraca perdagangan non-migas saja, tiga negara penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat sebesar US$1,81 miliar, India sebesar US$1,10 miliar, serta Filipina sebesar US$0,69 miliar.
Adapun defisit terdalam pada kelompok non-migas terjadi dengan Tiongkok sebesar US$2,62 miliar, Australia sebesar US$0,84 miliar, dan Perancis sebesar US$0,47 miliar.
Dari sisi komoditas non-migas, surplus terbesar pada Januari 2026 didorong oleh lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$3,10 miliar, bahan bakar mineral sebesar US$2,16 miliar, serta besi dan baja sebesar US$1,51 miliar.
"Sementara itu defisit utama yaitu berasal dari komoditas terutama mesin dan peralatan mekanis yaitu HS84 defisit sebesar US$2,23 miliar," tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar