periskod.id - Lonjakan tajam harga minyak dunia setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada Sabtu (28/2). Serangan ini membawa dampak besar terhadap harga minyak dunia, menjadi level tertinggi, melansir Antara. Faisal menjelaskan saat ini harga minyak berada di kisaran US$70 per barel. Namun, jika konflik berlanjut, harga bisa naik ke US$80 per barel.

Selat Hormuz: Jalur Energi Global

Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang berada di titik antara Iran di sebelah utara dan Oman serta Uni Emirat Arab berada di posisi sebelah selatan. Selat ini merupakan satu-satunya jalur laut yang menyatukan Teluk Persia dengan Laut Arab, sekaligus jalur utama pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, UEA, Qatar, sampai Iran

Pada tahun 2025, sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari dikirim melalui Selat Hormuz. Angka ini setara dengan kurang lebih 31% dari total pengiriman minyak dunia lewat jalur laut, berdasarkan data dari perusahaan intelijen pasar Kpler.

Posisi letaknya sangat strategis, lebih dari 20% minyak dan volume besar gas dunia disediakan melalui selat ini, posisi titik lokasi Selat Hormuz dikenal sebagai akses jalur banyaknya kegiatan akses bagi perdagangan energi global. Bukan cuma minyak pengiriman, LNG juga sangat bergantung pada akses rute tersebut, jadi gangguan kecil saja bisa berdampak besar pada pasokan energi dunia.

Kematian Ali Khamenei Mengguncang Kawasan, Selat Hormuz Jadi Taruhan.

Selat Hormuz menjadi tantangan besar akibat adanya serangan udara besar oleh Amerika Serikat dan Israel yang menyebabkan meninggalnya Ali Khamenei. Ketegangan militer di kawasan Teluk pun meningkat. Menindaklanjuti hal tersebut, Iran melalui aparat militer dan otoritas setempat mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz bahwa jalur pelayaran tersebut saat ini dilarang dilewati.

Efek Besar terhadap Harga Minyak Global

Harga minyak dunia berpotensi melonjak tajam, bahkan bisa menembus level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan mencerminkan premi risiko pasar yang merasa terganggu. Pasokan yang akan  mendorong biaya energi, tidak hanya minyak saja, antara lain produk terkait seperti bensin dan LPG.

Lonjakan harga energi akan berdampak luas pada biaya produksi, transportasi  dan inflasi global, khususnya negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi dari kawasan Teluk. Kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik telah mendorong harga minyak ke level yang belum terlihat dalam beberapa waktu terakhir, karena pelaku pasar memperhitungkan potensi gangguan pada salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia.