periskop.id - Dunia baru saja dikejutkan oleh kabar dari Teheran. Majelis Ahli, badan ulama tertinggi di Iran, resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru pada Senin (9/3). Penunjukan ini dilakukan tak lama setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan militer Amerika Serikat dan Israel. Langkah ini menandai babak baru dalam sejarah Republik Islam Iran, pertama kalinya sejak revolusi 1979 kepemimpinan berpindah dari ayah ke anak.

Mojtaba bukanlah orang baru di lingkaran kekuasaan, pria berusia 56 tahun ini telah lama dikenal sebagai sosok misterius yang mengendalikan banyak hal dari balik layar. Meski dikenal sangat tertutup dan jarang tampil di depan media, pengaruhnya di koridor kekuasaan Teheran sangatlah masif. Penunjukannya seolah mengonfirmasi spekulasi bertahun-tahun bahwa ia adalah penerus kepemimpinan yang dipersiapkan dengan matang untuk menjaga garis keras kebijakan Iran di tengah badai konflik global.

Kedekatan dengan Militer dan Jejak di Balik Layar

Kekuatan utama Mojtaba terletak pada hubungannya yang sangat erat dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Hubungan ini bukanlah hubungan instan, melainkan terpupuk sejak ia ikut terjun langsung dalam unit tempur pada masa perang Iran-Irak (1980—1988). Mojtaba dikenal sebagai sosok yang memahami seluk-beluk keamanan nasional. Selama bertahun-tahun, ia berperan sebagai "penjaga gerbang" bagi ayahnya, mengelola siapa saja yang bisa mengakses sang Pemimpin Tertinggi. Meski tidak memiliki jabatan resmi di pemerintahan, Kementerian Keuangan AS mencatat bahwa Mojtaba telah didelegasikan sebagian tanggung jawab kepemimpinan oleh ayahnya. 

Ia bekerja sangat dekat dengan aparat keamanan Iran untuk memajukan ambisi regional Iran. Inilah yang membuatnya menjadi sosok yang sangat disegani sekaligus ditakuti. Bagi kelompok konservatif, kehadirannya menjamin bahwa ideologi revolusi tidak akan luntur, sementara bagi musuh-musuhnya, ia adalah simbol dari ketegasan yang sulit ditembus oleh negosiasi diplomasi Barat.

Kontroversi Gelar dan Tantangan Politik Dinasti

Meski kini menduduki jabatan tertinggi, jalan Mojtaba tidak sepenuhnya mulus dari kritik. Salah satu ganjalan utamanya adalah tingkat keulamaannya yang masih berada di level Hujjat al-Islam, satu tingkat di bawah gelar Ayatollah yang dimiliki ayah dan pendahulunya. Para pengkritik menilai ia belum memiliki kualifikasi keagamaan yang cukup untuk memimpin negara teokrasi tersebut. 

Selain itu, isu politik dinasti menjadi perdebatan hangat, mengingat Iran dibangun di atas semangat menggulingkan monarki pada tahun 1979. Nama Mojtaba juga kerap dikaitkan dengan laporan kekayaan bernilai jutaan dolar yang tersimpan dalam aset mewah di luar negeri melalui perusahaan cangkang. Di sisi personal, ia kini memimpin dengan luka mendalam setelah istrinya, Zahra Haddad-Adel, turut menjadi korban dalam serangan yang menewaskan ayahnya. 

Terpilihnya Mojtaba Khamenei terjadi di tengah titik nadir hubungan Iran dengan dunia Barat. Sebagai sosok yang "dibenci musuh", sebagaimana arahan mendiang ayahnya, kehadiran Mojtaba diprediksi akan memperkeras posisi Teheran dalam negosiasi nuklir dan kebijakan regional. Amerika Serikat, melalui Presiden Donald Trump, secara terbuka telah menyatakan ketidaksukaannya terhadap sosok ini. Sementara itu, Israel telah mengeluarkan peringatan keras bahwa mereka akan terus memburu siapa pun yang menjadi suksesor di Teheran. Teka-teki besar kepemimpinan Iran kini telah terjawab. Namun, dengan segala kontroversi dan tekanan luar biasa yang ada, era kepemimpinan Mojtaba Khamenei kemungkinan besar akan menjadi periode paling menentukan bagi kelangsungan hidup negara tersebut.