Periskop.id - Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) dilaporkan telah melacak pergerakan para pemimpin senior Iran selama berbulan-bulan, sebelum serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel dilancarkan. Operasi tersebut memuncak dalam tiga serangan hampir bersamaan di tiga lokasi berbeda yang terjadi dalam waktu 60 detik Sabtu (28/2) lalu.
Serangan tersebut akhirnya sukses menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sekitar 40 pejabat tinggi lainnya, termasuk kepala Garda Revolusi serta menteri pertahanan Iran.
Mengutip The Associated Press, Senin (2/3), pejabat militer Israel dan sumber yang mengetahui operasi tersebut, dari intelijen yang dibagikan antara Washington dan Tel Aviv memungkinkan serangan dilakukan secara mendadak di siang hari. Waktu serangan disebut disesuaikan berdasarkan informasi lokasi para pemimpin Iran yang sebelumnya telah dipantau secara intensif.
Tak heran, dalam 12 jam pertama serangan Amerika Serikat ke Iran, 900 rudal diluncurkan dari laut dan udara. Sementara Israel mengerahkan 200 jet tempur untuk menjatuhkan hingga 1.200 rudal dan bom ke Iran. Dari semua bom dan rudal Israel, 30 dijatuhkan ke kantor Ayatollah Ali Khamenei.
Serangan disebut dirancang untuk melumpuhkan struktur kepemimpinan Iran dalam waktu singkat dan mencegah target utama melarikan diri. Militer AS dan Israel juga dikabarkan menyerang ratusan target lain, termasuk fasilitas Garda Revolusi, sistem pertahanan udara Iran, fasilitas rudal balistik, serta sembilan kapal perang.
CIA-Mossad
Senator Republik dari Arkansas, Tom Cotton, ketua Komite Intelijen Senat, mengatakan kepada CBS dalam program “Face the Nation” bahwa melacak pergerakan pemimpin tertinggi dan kepala negara-negara yang dianggap sebagai lawan “jelas merupakan salah satu prioritas tertinggi komunitas intelijen kami,” serunya.
AS secara rutin memang berbagi intelijen dengan sekutu, termasuk Israel. Kemitraan tersebut, serta akurasi intelijen yang dihasilkannya, sering kali sangat penting bukan hanya bagi keberhasilan operasi militer, tetapi juga bagi dukungan publik terhadapnya.
Senator Virginia, Mark Warner, seorang Demokrat Senior di komite tersebut mengatakan, kepada The Associated Press secara historis “hubungan kerja kami dengan Mossad (intelejen Israel) dan Israel sangat kuat,” ucapnya.
Warner mengatakan ia memiliki kekhawatiran serius mengenai justifikasi serangan tersebut, rencana jangka panjang Trump dalam konflik ini, dan risiko yang akan dihadapi personel militer AS. Militer mengumumkan tiga tentara Amerika tewas dalam operasi di Iran.
“Tak seorang pun akan meneteskan air mata atas dieliminasinya kepemimpinan mereka, tetapi selalu pertanyaannya adalah: Baik, lalu apa selanjutnya?” kata Warner.
Presiden AS Donald Trump sendiri menyatakan, operasi akan berlanjut hingga “semua tujuan tercapai,” tanpa merinci target strategis jangka panjang. Ia juga menyebut pembom siluman B-2 digunakan untuk menghantam fasilitas rudal balistik Iran dengan bom berbobot 2.000 pon.
Di tengah eskalasi konflik, seorang pejabat Gedung Putih menyebut kepemimpinan baru Iran mengisyaratkan keterbukaan untuk berdialog dengan Amerika Serikat. Trump mengaku bersedia berbicara, meski operasi militer masih terus berlangsung. Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam ketidakpastian baru dengan risiko eskalasi regional yang lebih luas.
Tinggalkan Komentar
Komentar