periskop.id - Bendera merah di atas kubah Masjid Jamkaran dikibarkan setelah adanya eskalasi serangan Amerika-Israel ke wilayah Iran. Pengibaran bendera ini terjadi setelah serangan Amerika-Israel berakibat pada kematian pimpinan tertinggi revolusi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.

Bendera ini menjadi tradisi dan keagamaan yang ada di Iran. Pengibaran bendera merah memiliki sarat makna yang cukup mendalam bagi Iran. Berdasarkan beberapa informasi yang dihimpun, bendera merah yang dikibarkan di atas kubah masjid memiliki simbol pertumpahan darah dan rakyat menyerukan untuk melakukan pembalasan.

Hal itu pun menjadi sebuah peringatan bagi seluruh pasukan Iran untuk melakukan serangan balasan terhadap target-target yang berkaitan dengan Amerika dan Israel. Simbol itu pun menjadi penanda babak baru peperangan besar antara Iran dan Amerika-Israel.

Apa Makna di Balik Bendera Merah?

Pengibaran bendera merah di Iran merupakan tradisi yang sudah cukup menguat. Melansir dari situs Zamin, tradisi ini biasanya dilakukan untuk menunjukkan bahwa terdapat pertumpahan darah orang-orang yang tertindas dan pembalasan belum dilakukan.

Mengutip dari akun media sosial X @IranObserver0, pengibaran bendera merah di Masjid Jamkaran, Teheran, disebut sebagai “bendera balas dendam”.

Bendera merah bukanlah sebuah penyataan perang, melainkan sebagai simbol peringatan kemungkinan adanya serangan balasan terhadap pihak musuh. Warna merah tua yang menjadi latar pada bendera tersebut memiliki simbol pengorbanan dan semangat juang dalam sejarah Islam.

Arti Penting di Balik kalimat “Ya la-Tharat al-Hussein

Mengutip informasi dari situs resmi Agence France Presse (AFP), kalimat arab yang tersemat di bendera merah bertuliskan “Ya la-Tharat al-Husein”. Kalimat tersebut dapat diterjemahkan sebagai “Wahai para penuntut balas atas darah Hussein.”

Hussein merupakan cucu Nabi Muhammad yang menjadi salah satu tokoh penting paling suci dalam Syiah dan dianggap sebagai wujud keadilan. Pada tahun 680, terjadi Perang Karbala di wilayah yang saat ini dikenal sebagai Irak. Saat menjalani perang tersebut, Hussein dibunuh oleh pasukan Khalifah Yazid bin Muawiyah.

Yazid merupakan raja yang berkuasa pada tahun 680-683 menggantikan ayahnya, Muawiyah bin Abu Sufyan. Yazid digambarkan sebagai sosok yang buruk oleh sejarawan muslim karena gaya hidupnya yang tidak pantas sebagai seorang pemimpin.

Atas kematian Hussein, hal itu pun menjadi landasan utama ajaran Syiah sekaligus sebagai tanda perpecahan besar dengan Islam Sunni. Beberapa tradisi yang ada di dalam ajaran Syiah Iran, kalimat “Ya la-Tharat al-Hussein” dianggap sebagai persatuan umat ketika munculnya Imam Mahdi.

Makna Warna Merah pada dalam Budaya Iran

Dalam budaya Iran, warna merah memiliki makna yang sangat penting dan sarat simbolisme. Warna ini sering dimaknai sebagai lambang keberanian, api, kehidupan, dan kekuatan. Warna ini juga sering hadir dalam berbagai momen penting dan upacara tradisional, termasuk sebagai simbol ancaman balasan terhadap negara yang melakukan serangan.

Bendera merah tersebut merepresentasikan semangat perjuangan, ketegasan sikap, dan nasionalisme yang kuat. Kehadirannya memiliki peran penting dalam konteks politik dan sosial dan memberikan pengaruh besar dalam perjalanan sejarah Iran.

Mengenal Masjid Jakamran

Masjid Jamkaran terletak di kota suci Qom dan menjadi salah satu destinasi ziarah penting bagi umat Syiah. Masjid ini diyakini dibangun atas perintah Imam Mahdi yang dipandang sebagai pemimpin spiritual dalam keyakinan Syiah. Selain berfungsi sebagai tempat ziarah, masjid ini juga dimanfaatkan untuk mendengarkan ceramah keagamaan dan mempelajari ilmu agama.

Masjid Jamkaran didirikan sekitar tahun 1002–1003 M di atas tanah yang dianggap suci. Lahan tersebut awalnya merupakan milik seorang petani bernama Hasan bin Muslim yang digunakannya untuk kegiatan pertanian selama kurang lebih lima tahun. Karena status kesuciannya, tanah itu tidak diperbolehkan untuk kepentingan komersial dan akhirnya dialihfungsikan menjadi lokasi pembangunan masjid.